
Deru napas Jihan berembus sangat kasar. Ia memicingkan mata seruncing ujung mata pisau, siap mengiris-iris pria di sebelahnya. Kebenciannya benar-benar sudah mencapai ubun-ubunnya.
Selang beberapa waktu, Jihan tampak lebih tenang. Zero menyodorkan air mineral yang baru dibuka segelnya ke hadapan Jihan. "Sudah tenang? Minumlah dulu," ujarnya tenang dengan tatapan lurus ke depan.
Jihan menatapnya dari tangan lalu beralih pada wajah Zero, yang semakin berubah warna biru keunguan akibat pukulan kerasnya.
"Tenang aja, nggak ada racunnya. Kamu lihat sendiri tadi masih baru!" lanjut pria itu meyakinkan.
Jihan meraihnya dengan kasar dan meneguk sedikit demi sedikit air putih itu. Zero menghela napas lega, setidaknya Jihan sudah bisa menguasai emosinya.
"Aku akan mengantarmu kembali. Tiger pasti sangat membutuhkan kalian," terang Zero yang seketika membuat Jihan menoleh dan menyemburkan air minum tepat pada separuh wajah Zero.
Pria itu terkejut, menepikan mobil lalu menginjak pedal rem hingga decitan rem terdengar memekakkan telinga. Zero hanya menggeram dalam hati seraya meraih tissu dan mengusap wajahnya yang basah.
"Gila kamu ya!" seru Jihan melotot tajam.
Zero mengembuskan napas beratnya, menoleh sejenak, "Lalu apa maumu?" tanya pria itu menekan suara agar tidak meninggi.
"Aku ingin hidup dengan anakku saja. Tanpa harus menyakiti siapapun. Aku wanita! Aku juga sudah pernah merasakan sakitnya di posisi Erent saat ini," sahut Jihan menyandarkan punggungnya pada sandaran mobil.
Ia memberikan susu botol pada bayinya, karena Cheryl tampak gelisah mencari sumber makanannya. ASI nya tidak bisa keluar sejak bayinya lahir. Padahal sudah diberi asibooster oleh pihak rumah sakit, tapi tetap saja produksi ASI nya macet.
__ADS_1
"Bagaimana denganmu? Bukankah kamu juga akan tersakiti?" sanggah Zero menatapnya iba.
"Aku sudah terbiasa. Aku harus menyembuhkan mentalku lebih dulu. Mungkin ini karma yang harus aku bayar atas semua kesalahanku di masa lalu. Lagi pula, Tiger sudah memberiku sesuatu yang paling berharga dalam hidupku. Ini sudah cukup," gumamnya memperhatikan Cheryl lamat-lamat.
"Ck! Bodoh!" decak Zero geram dengan pemikiran wanita itu. "Status kamu lebih tinggi. Lagi pula, jika suatu hari suamimu sadar, pasti akan mencari kalian berdua!" tunjuk Zero pada ibu dan anak itu.
Bibir Jihan tampak bergetar, mencoba tersenyum meski sulit. Jauh di lubuk hatinya tentu saja ingin selalu bersama suaminya.
"Ya, aku memang bodoh. Aku tidak yakin dia mencariku. Kami menikah hanya karena sebuah kesalahan. Aku akan merasa lebih baik jika berdua saja dengan putriku. Aku tidak sanggup jika berhubungan dengan orang yang belum selesai dengan masa lalunya," papar Jihan bersuara lirih.
Zero bisa melihat cinta yang dalam dari wanita itu. Namun tidak sanggup berada dalam bayang-bayang masa lalu suaminya. Ia merasa kasihan, tapi jika memaksanya akan memperburuk kondisi wanita itu.
"Tolong! Jangan pernah bawa aku kembali. Biarlah mereka bahagia, aku pun akan bahagia bersama separuh nyawa Tiger. Aku tidak sanggup berada dalam lingkaran yang rumit," pintanya menatap nanar.
"Belum tentu Tiger akan melepaskanmu! Ambillah keputusan saat dia dalam keadaan sadar. Jangan mengambil keputusan sendiri," saran Zero.
"Tidak! Semakin aku di dekatnya, aku semakin tidak sanggup untuk berpisah dengannya. Aku tidak siap jika pada akhirnya bukan aku pilihannya!" gumam Jihan menarik napas dalam-dalam.
"Keras kepala!" Zero menggelengkan kepalanya, benar-benar tidak bisa menggoyahkan keputusan wanita itu.
Dalam hatinya terbesit rasa iri, karena Tiger dicintai dua orang wanita yang begitu tulus. Bahkan sama-sama rela berkorban untuknya.
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih atas semua pengakuanmu. Aku harap mulai detik ini jangan pernah sentuh Tiger lagi. Hentikan semua kegilaanmu. Jika ingin hidup tenang, lepaskan semua dendam dan iri hatimu. Aku tahu itu berat, tapi bukankah akan lebih tenang menjalani hidup tanpa penyakit hati?" sindir Jihan telak menyentuh handel pintu.
"Tolong buka pintunya. Biarkan aku pergi. Dan jangan pernah beri tahu siapapun keberadaanku!" ucap Jihan dengan tegas.
Seketika Zero tersentak dari lamunan, lalu menegakkan duduknya. Bukannya membuka kunci pada pintu mobilnya, ia justru melajukan kendaraan itu lagi.
"Zero, cukup! Hentikan!" pekik Jihan.
"Kamu mau ke mana?"
"Tidak tahu!" sahut perempuan itu membuang pandangan keluar jendela.
"Apa kamu bisa?" tanya Zero meremehkan.
"Aku harus bisa!" jawab Jihan yakin.
Zero mengembuskan napas kesal. "Oke, sepertinya kamu butuh menyegarkan otak terlebih dahulu. Tenangkan hati dan pikiranmu. Jika berubah pikiran, kembalilah!" tegasnya.
Jihan menatap lekat pria itu, menyipitkan matanya, "Rasanya aku nggak percaya kamu ketua mafia. Setahuku, orang-orang seperti itu nggak punya hati, kejam dan nggak peduli! Kamu bahkan diam saja saat aku pukul!" cibir Jihan menatapnya curiga.
"Bukankah setiap orang bisa berubah? Kamu pasti bisa merasakan perubahan Tiger. Begitupun aku. Aku merasa harus bertanggung jawab atas semua yang menimpa Tiger sekarang!" sahut Zero fokus menyetir.
__ADS_1
Jihan mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, hingga membuat pria itu menjauhkan tubuhnya, mendekat pada pintu mobil. "Apa kamu memiliki maksud terselubung?" selidik Jihan menatap waspada.
Bersambung~