
Tiger berjalan cepat dengan secangkir teh hangat meniti tangga ke kamarnya. Saat membuka pintu kamar ia dapat melihat betapa Cheryl sama sekali tidak melepaskan pelukannya. Tampak sangat khawatir dengan ibunya itu.
"Minum dulu, Sayang," ucap Tiger membantu Jihan untuk duduk. Cheryl segera bergeser dan ikut duduk memperhatikan sang mama.
Namun baru hendak meminum air hangat itu, Jihan kembali merasa mual, tidak sempat beranjak akhirnya memuntahkan isi perutnya mengenai lengan dan dada Tiger.
Tiger terkejut, ia meletakkan cangkir tersebut di atas nakas. Tangannya gemetar karena Jihan diserang mual muntah yang hebat.
"Mama!" panggil Cheryl dengan bulir bening berjatuhan di kedua pipi chubby nya. Ia sungguh ketakutan, tetapi tidak berani mendekat.
Tubuh Tiger sudah basah karena terkena cairan yang dimuntahkan Jihan. Napas Tiger berembus tak beraturan, bukan karena jijik. Namun, takut terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.
"Ya Tuhan, Sayang. Kamu kenapa sebenarnya?" seru Tiger membantu mengikat rambut Jihan, lalu meraih tissu basah untuk menyeka wajah Jihan yang memucat.
"Sudah?" tanya pria itu ketika Jihan mulai berhenti.
Jihan mengangguk, Tiger kembali merebahkan tubuh istrinya di ranjang. Cheryl masih terlihat ketakutan. Kini lelaki itu beralih ke seberang, mengusap puncak kepala Cheryl.
"Sayang, jangan sedih. Doain mama. Bentar papa mandi dulu," ujarnya bergegas membersihkan diri.
Hanya selang beberapa menit, Tiger sudah keluar dari kamar mandi. Ia mandi dengan terburu-buru, lalu mengenakan pakaian santainya.
Tiger duduk di tepi ranjang, membelai puncak kepala wanita itu sembari mendekatkan wajahnya. "Sayang, kita ke rumah sakit ya?" ajak Tiger dengan suara pelan.
Seketika Jihan membuka matanya, "Cheryl gimana?" jawabnya dengan tatapan sayu. Ia tidak bisa meninggalkan anaknya. Sedangkan jika diajak pun tidak mungkin, usianya masih rentan dengan penyakit. Jihan selalu protektif mengenai kesehatan putrinya.
__ADS_1
Tiger pun beralih ke atas ranjang, memeluk putrinya yang ketakutan. "Sayang, Mama biar diperiksa dokter di rumah sakit ya. Cheryl di rumah sama Mbak," ujarnya memberi pengertian.
"Cheryl mau ikut, Pa!" rengek gadis cilik itu mendongak. Air matanya masih terus mengalir.
Tiger menunduk, menyeka kedua pipi gembil putrinya yang basah, sembari menatapnya lembut. "Anak kecil nggak boleh ke rumah sakit, Sayang. Di sana banyak kuman, banyak virus, banyak yang sakit. Tubuh Cheryl masih belum kuat."
"Mau ikut, Pa!" rengek Cheryl lagi. Bahkan tangisnya semakin kencang.
"Cheryl, mama 'kan udah sakit, makanya Cheryl juga harus sehat, nggak boleh sakit Nggak kasihan sama papa nantinya?" Tiger masih berusaha merayu putrinya.
Jihan membuka matanya, pusing yang mendera membuatnya terpejam. Ia menatap lekat putrinya. "Cheryl, di rumah dulu sama Mbak ya. Nanti setelah mama sembuh kita jalan-jalan," rayu Jihan menyentuh lengan kecil Cheryl.
"Mama janji?"
"Iya, Sayang. Anak baik harus nurut sama mama papa ya. Semua demi kebaikan Cheryl," anjur Jihan yang dibalas anggukan oleh gadis itu.
Tiger mendesah lega, karena Cheryl mau mendengarkan istrinya. Ia segera menggendong putrinya dan mengantarkan pada sang pengasuh.
"Mbak, tolong jagain Cheryl. Saya mau ke rumah sakit sama Nyonya," ucap Tiger ketika tak sengaja berpapasan di lantai bawah.
"Nyonya sakit, Tuan?!" pekik perempuan itu meraih tubuh Cheryl dan menggendongnya.
"Sepertinya begitu. Cheryl, papa tinggal sebentar ya, Nak!" ucapnya mengusap puncak kepala Cheryl dan menciumnya. Cheryl hanya mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Tiger menggendong tubuh Jihan dengan posesif. Ia tak membiarkan wanitanya menginjak lantai, meski ia terus meronta. Apalagi saat ini sudah sampai di rumah sakit. Jihan tentu malu, menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.
"Dia muntah-muntah sedari tadi! Cepat periksa istri saya!" tutur Tiger pada petugas medis yang tengah bertugas di IGD pagi itu.
"Ba ... baik, Tuan!" sahutnya terbata, menyiapkan brankar. "Silakan, Tuan!" ujarnya.
Tiger meletakkan istrinya dengan sangat hati-hati. Ia tetap berada di sisi Jihan, tidak mau meninggalkannya walau sedetik pun. Meski sudah dipaksa keluar agar penanganan lebih maksimal.
"Saya tetap harus memantau istri saya! Kalau ada kesalahan biar ruangan ini bisa langsung saya hancurkan!" tegasnya dengan tatapan tajam.
Semua orang terkejut. Tak terkecuali istrinya. Jihan segera meraih tangan Tiger dan menggeleng ketakutan.
Petugas medis segera melakukan tugasnya, begitupun dokter jaga yang dengan cekatan memeriksa Jihan. Tiger dengan raut bengisnya tentu membuat seisi ruangan bergelut dengan debaran jantung yang kuat.
Beberapa waktu berlalu, Dokter menanyakan beberapa keluhan pada Jihan sembari memeriksa. Tiger masih menatap angkuh dan menyeramkan.
"Tuan, Nyonya harus dirawat inap. Karena kondisinya sangat lemah saat ini," ucap dokter memberanikan diri menatap Tiger.
"Apa yang terjadi dengan istri saya?!" serunya menatap serius.
"Ini masih dugaan saya, untuk selanjutnya biar diperiksa oleh dokter kandungan. Dan supaya asupan nutrisi tetap terpenuhi, sebaiknya Nyonya dirawat inap selama beberapa hari dulu," papar sang dokter.
"Tunggu! Dokter kandungan?" seru Tiger.
"Iya, Tuan. Berdasarkan informasi dan keluhan Nyonya, perkiraan saya Nyonya sedang mengandung. Namun untuk lebih jelasnya, akan saya serahkan pada dokter kandungan," sambung dokter tersebut dengan ramah.
__ADS_1
"DEG!"
Bersambung~