
Cukup lama tautan bibir mereka baru terlepas. Napas keduanya berkejaran, dengan debaran jantung yang tak beraturan. Mereka saling melempar senyum, Jihan menyeka sisa saliva yang ada di bibir Tiger, kemudian meninggalkan sebuah kecupan di kening Tiger sebelum akhirnya turun dari ranjang.
"Mau ke mana?" Suara Tiger menghentikannya.
"Ke toilet," sahutnya menoleh.
"Hati-hati!" pesan Tiger tersenyum.
Jihan mengangguk, meraih infus lalu melenggang ke toilet. Barulah sang dokter dan perawat kembali setelah mendapat info dari Rico.
Hanya pria itu saja yang tidak pergi ketika melihat bossnya memadu kasih. Karena ia tahu, Tiger tidak akan bisa melakukan hal yang lebih.
"Permisi, Tuan. Kami akan memeriksa kondisi Anda lagi," izin dokter setelah memasuki ruangan. Tiger mengedipkan mata sebagai pertanda mengizinkan.
"Thomas Hospital sudah kami hubungi, Tuan. Semua berkas rekam medis Anda sudah dikirim. Secepatnya Anda harus segera berangkat, sebelum terjadi komplikasi yang lebih fatal lagi," papar dokter tersebut setelah memeriksa kondisi Tiger.
"Iya, minta Rico atau Bian mengurus semuanya," sahut Tiger.
Jihan keluar dari toilet yang tersekat dinding dengan ruangan tersebut. Ia segera meminta untuk melepas infus di tangannya agar bisa bergerak bebas. Apalagi tubuhnya sudah merasa lebih fit sekarang.
Dokter masih berbicang dengan Tiger, mengenai tindakan-tindakan yang akan dilakukan di sana. Sedangkan Jihan tidak sengaja melihat Rico melambaikan tangan ke arahnya, meminta untuk keluar menemuinya.
__ADS_1
Jihan melenggang keluar, "Kenapa?" tanya perempuan itu setelah sampai di hadapannya.
"Nyonya Khansa mencarimu." Rico menyodorkan ponselnya.
"DEG!"
Tubuh Jihan menegang, matanya sedikit berair, ketakutan mulai menyergap hatinya. Jihan sedikit terhuyung pada dinding kaca, menyandarkan tubuhnya dengan pikiran kalut.
"Kamu tidak apa-apa? Ayo hubungi beliau. Sudah ditunggu sejak tadi," lanjut Rico lagi.
"Enggak!" sahut Jihan menggeleng dengan air mata yang berjatuhan.
"Kenapa?"
Rico mendengkus kesal. Ia duduk di kursi tepat di samping Jihan berdiri. "Kamu tahu, Tuan Leon dan istrinya sangat mengkhawatirkan keadaan kamu dan bayimu. Mereka memintaku untuk menjagamu, karena ragu dengan Tuan Tiger, mereka takut kamu diperlakukan tidak baik. Mereka care sama kamu!"
Helaan napas berat diembuskan Rico, sebelum pada akhirnya ia melanjutkan lagi ucapannya. "Dan saat kamu menghilang, mereka juga ikut frustasi mencarimu. Setiap hari aku dimarahi karena tidak becus menjagamu."
"Itu karena dia ingin mengambil Cheryl dariku!" sanggah Jihan menunduk bersuara pelan.
"Bagaimana bisa? Kalau memang seperti itu, sudah mereka lakukan sejak dulu!" sembur Rico memicingkan mata.
__ADS_1
"Tiger pernah membuat Khansa keguguran. Aku, pernah ingin bunuh diri dan meminta untuk menggugurkan kandungan ini. Berkat Khansa, Cheryl masih bertahan. Dan dia berjanji akan merawat Cheryl seperti anaknya sendiri. Dia sangat menyayangi Cheryl bahkan sejak masih dalam bentuk segumpal darah," papar Jihan dengan tubuh merosot, mengingat kebodohannya dulu. Jika bukan karena Khansa, dia sudah kehilangan Cheryl atau bahkan kehilangan nyawanya sendiri.
"Rumit! Tapi aku sangat mengenal mereka. Aku yakin tidak akan terjadi!" Rico menekan tombol panggilan pada ponselnya lalu meletakkan pada telinga, Jihan masih sibuk menyeka air matanya. Ia beranjak dan hendak melenggang pergi meninggalkan Rico.
Namun dengan cepat Rico menyambar lengan Jihan dan menahannya agar tidak pergi. Tak berapa lama, panggilan tersambung.
"Halo, Tuan. Apa Nyonya ada?" tanya Rico.
"Mau apa kamu mencari istriku?!' berang Leon di ujung telepon.
"Eh, maaf, Tuan. Ini, Nyonya Jihan ingin berbicara," lanjut Rico tersentak kaget. Tanpa sadar memancing amarah sang big boss.
Jihan mendelik, ia memberontak ingin melepaskan cengkeraman tangan Rico yang begitu kuat. Dadanya berdegub semakin cepat.
"Tunggu sebentar!" sahut Leon.
"Rico please, aku belum siap. Aku takut, apalagi sekarang Cheryl sendirian di Jakarta. Tolong ngertiin perasaan aku, Ric!" rengek Jihan merasa tidak tenang.
"Bicaralah! Aku yakin Tuan Leon dan istrinya tidak setega yang kamu kira. Kalau memang seperti itu, sudah pasti mereka tidak peduli bagaimana keadaanmu sejak dulu, lalu mereka langsung mengambil bayimu! Katakan semua unek-unek di kepalamu!" tegas Rico menyodorkan ponselnya ke hadapan Jihan.
"Halo, Ric!" Sudah ada suara Khansa di seberang telepon.
__ADS_1
Jihan menatap Rico bergantian dengan ponsel itu. Deru napasnya tampak memburu. Ia menutup mulutnya mendengar suara lembut saudara tirinya itu.
Bersambung~