The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 75. MENENGOKNYA


__ADS_3

Rico berlari sampai depan pintu apartemen Jihan. Ia menekan berulang kali bell, namun pintu tak kunjung terbuka. Bahkan ia lupa jika saat ini Jihan bersama dengan suaminya. Berkali-kali dipencet tidak ada sahutan, kemudian Rico mengetuknya berulang namun hasilnya sama saja.


"Haihh! Jangan-jangan dia pergi!" Buru-buru pria itu memutar langkah, berlari ke kamarnya.


Ia kembali melanjutkan pemutaran CCTV yang sempat terjeda tadi. Beberapa waktu berlalu, Rico tampak menghela napas lega karena ternyata Jihan pergi bersama suaminya.


"Tenang sih kalau udah sama, Tuan Macan!" gumamnya mengusap dadanya.


Kali ini mungkin pekerjaannya sedikit santai. Namun satu hal yang masih mengganjal dalam benaknya, yaitu berkas yang diterima Jihan dan diserahkan kembali pada sang pemilik.


"Sepertinya harus dimulai dari, siapa sebenernya orang itu!" Rico berjalan mondar mandir sembari mengacak rambutnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kediaman Sebastian, Jihan merasa sesak karena sudah dua jam berada dalam kungkungan suaminya. Tiger memeluknya dengan posesif di ranjang, tidak membiarkannya berjarak walau sejengkal pun.


"Tiger, aku haus," rintih Jihan setelah mengerjapkan mata.


Tidak ada pergerakan dari suaminya, Jihan mendengkus kesal. Lalu mendekatkan kepalanya pada wajah lelaki itu, mengecup bibirnya sekilas.

__ADS_1


Namun ternyata, dengan gerakan gesit Tiger menahan tengkuk Jihan agar tak menjauh. Dia tidak akan menyiakan kesempatan itu. Tiger langsung menyambar bibir ranum istrinya, memagutnya lembut namun intens.


Tentu saja itu membuat Jihan melebarkan kedua matanya. Sempat terkejut, namun lama kelamaan ia pun menikmatinya. Matanya kembali memejam dan membalas ciuman tersebut.


Tiger bergerak hingga kini berada di atas Jihan. Satu lengannya menopang tubuh agar tidak menindih istrinya. Usai pemanasan yang cukup lama, siang itu keduanya melebur melalui penyatuan dalam deburan gairah masing-masing. Meluapkan rasa rindu yang membuncah hingga mencapai puncak kenikmatan yang membuat keduanya melayang.


"Terima kasih, Sayang! Kamu semakin, sexy!" ucap Tiger menciumi wajah Jihan yang masih mengatur napas. Tubuh polosnya mengkilap karena keringat yang dihasilkan atas peperangan ranjang dengan sang istri.


Tiger begitu memujanya, apalagi beberapa bagian tubuh perempuan itu semakin sintal dan membesar. Membuat Tiger semakin tidak lepas dari jerat kenikmatan yang diberikan istrinya.


Wajah Jihan merona, ia hanya mengangguk dengan senyum tipis karena masih terlalu lelah. Gairahnya pun sama membuncahnya, seiring dengan perutnya yang semakin membesar.


Jihan melirik ke bawah, ia menyunggingkan senyum lebarnya. Ada rasa hangat yang menjalar dalam hati ketika merasakan perubahan drastis yang dilakukan oleh Tiger.


"Ayo mandi bersama!" ucap Tiger mendekap erat Jihan.


"Enggak deh, nanti tambah lama. Aku udah lelah Tiger," elak Jihan enggan beranjak.


"Aku janji hanya mandi saja!" ucap Tiger menaikkan kedua jarinya di depan wajah Jihan. Ia tidak akan setega itu.

__ADS_1


Akhirnya pria itu menyibak selimut dan turun dari ranjang. Jihan masih malas-malasan, ia tersentak ketika tubuhnya melayang ke udara. Kedua lengan kokoh Tiger membopong tubuh wanita hamil itu.


"Aku makin berat loh!" ucap Jihan melingkarkan lengannya di bahu Tiger.


"Jangan remehkan kekuatanku!" ucapnya melenggang ke kamar mandi.


Seperti janjinya, lelaki itu hanya meminta mandi bersama saja. Saling menggosok punggung pasangan mereka bergantian sesekali berceloteh hangat.


...🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈...


Diantar sopir pribadi, Tiger dan Jihan melaju ke rumah sakit dengan mobil mewah keluarga Sebastian. Tidak ada yang tahu bahwa saat ini jantung Tiger berdegub tidak karuan. Wajahnya tegang dan hanya menampilkan raut dingin seperti biasa.


Jihan melirik sekilas. Ia merasa ada yang aneh pada suaminya. Sebelum tidur siang, Tiger sangat antusias, namun kenapa kali ini auranya terasa dingin dan terlihat tidak senang.


"Tiger, kamu baik-baik saja?" tanya Jihan bernada hati-hati.


"Hmm!" Hanya itu jawabannya, semakin membuat Jihan khawatir.


Jihan menggigit bibir bawahnya, matanya berkaca-kaca. Tidak mengerti dengan perubahan drastis sang suami. Ia pun hanya melempar pandangan keluar jendela. "Kalau kamu nggak mau ikut, nggak apa-apa kok. Aku bisa sendiri," gumamnya menepis bulir bening yang mulai berjatuhan ke pipinya. Sontak, pria itu menoleh dengan cepat mendengar ucapan Jihan.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2