The Devil Husband

The Devil Husband
EXTRA PART 16


__ADS_3

Jihan tertawa lepas melihat wajah polos Cheryl ketika menanyakannya. Ia menangkup kedua pipi gembil Cheryl dan menatapnya lembut.


"Itu kecanggihan alat elektronik, Sayang. Cheryl lihat nggak banyak orang yang pegang kamera di sana?" Jihan menatap lembut sepasang manik indah putrinya.


"Iya, Ma. Buanyak dan besar-besar!" Cheryl melebarkan kedua lengannya.


"Nah, mereka mengambil gambar apa pun dan siapa pun yang bisa tertangkap kamera. Yang nantinya akan masuk ke saluran televisi. Jadi, bukan orangnya yang masuk ke tivi, Sayang. Ngerti maksud mama?" Jihan berusaha menjelaskan dengan bahasa paling sederhana.


Cheryl tampak diam sejenak untuk mencerna setiap ucapan mamanya. "Oh, jadi cuma gambarnya yang diambil om om itu ya, Ma?"


"Aihhh pinter banget anak mama!" timpal Jihan mendekap lagi putrinya.


"Papa mana, Ma?" tanya gadis itu karena tidak menemukan ayahnya sedari tadi.


"Ada di ruang kerja, Sayang. Cheryl bobo aja dulu. Nanti kangen-kangenannya. Biar nggak kecapean, terus nggak ganggu papa kerja juga," saran Jihan membelai kepala Cheryl.


"Heem, Ma. Cheryl ngantuk!" ucapnya sudah mulai serak. Ia tidur sambil memeluk ibunya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tujuh bulan kemudian ....

__ADS_1


"Ma! Udah ganti gerakannya, Ma!" seru Cheryl menunjuk layar televisi yang menunjukkan gerakan-gerakan senam hamil.


"Oh iya, Sayang!" Jihan segera mengikuti gerakan instruktur senam dari youtube.


Sejak usia kehamilan memasuki trimester ketiga dan kepala bayi sudah berada di bawah, Jihan selalu rutin melakukan senam hamil.


Dengan sangat antusias, Cheryl selalu menemani Jihan bahkan mengikuti setiap gerakan Jihan di atas matras. Jihan sangat terhibur dengan anak gadisnya itu.


Saat sudah selesai, Cheryl akan berlari mengambilkan minum dalam botol bupperware seperti biasa. Gerakannya tidak hati-hati, sehingga tubuhnya menabrak tubuh Tiger yang berjongkok di belakangnya.


"Papa!" teriak Cheryl yang langsung ditangkap oleh pria itu.


Dua perempuan itu tidak sadar jika Tiger memperhatikannya sedari tadi. Sejak usia kehamilan Jihan masuk trimester kedua, keadaannya sudah membaik. Jarang muntah-muntah dan tampak sudah lebih sehat.


"Jangan lari-lari, Sayang. Pelan-pelan aja," ucap Tiger berdiri sembari menggendong Cheryl.


"Takut mama kehausan, Pa!" cetus Cheryl tertawa, napasnya juga ikut tersengal sengal karena menirukan setiap gerakan Jihan sedari tadi.


"Mmm ... pinter banget sih, Kakak. Tapi tetep harus hati-hati ya. Nih minumnya," ucap Tiger menyerahkan botol minuman berisi air putih berukuran 1,5 liter.


Cheryl menerima dengan kedua tangan, memeluk botol tersebut lalu mencium pipi Tiger. "Makasih, Pa!" ucapnya meronta ingin turun.

__ADS_1


Jihan yang sedari tadi duduk meluruskan kedua kakinya tersenyum melihat suami dan anaknya yang menggemaskan. Ia menyeka keringat dengan handuk kecil sembari mengatur napas.


"Mama! Ini minumnya." Cheryl menyerahkan pada Jihan.


"Makasih, Sayang!" ucap Jihan lalu segera meneguk air putih itu dengan perlahan.


Tiger segera mendekat. Duduk bersila di sebelah Jihan sembari mengusap perut Jihan yang sudah sangat besar. "Halo, Sayang. Kami semua nggak sabar ingin lihat kamu," ucapnya mencium perut buncit Jihan bertubi-tubi.


Cheryl tidak mau kalah. Ia langsung berlutut dan memeluk perut ibunya. Memberikan kecupan bertubi-tubi. "Kakak sayang sama dede!" cetusnya.


"Eh, Pa! Ma! Dede gerak-gerak!" teriak Cheryl dengan antusias ketika melihat gerakan tak beraturan di perut Jihan. Mereka semua tertawa dan ikut membelai perut Jihan.


"Coba papa mau denger suara dede! Geser, Kak!" Tiger menempelkan telinga di perut Jihan. Terdiam sejenak merasakan gelombang di perut Jihan. "Dede bilang katanya sayang juga sama Kakak!" celetuk Tiger yang membuat Cheryl membulatkan kedua matanya.


"Kok Cheryl nggak denger sih, Pa!" cebiknya mengerucutkan bibir.


"Sayang, kok semakin kenceng gini. Sakit nggak?" Tiger beralih menatap Jihan. Wajah Jihan pun tampak memucat.


Jihan yang diam saja sedari tadi ternyata tengah menahan rasa sakit. Ia tersenyum dan berusaha mengatur napas.


"Hei, Sayang? Ada yang sakit?" tanya Tiger khawatir menyeka keringat di wajah Jihan.

__ADS_1


"Ssshh! Sepertinya mau lahir," gumam Jihan memejamkan mata.


Bersambung~


__ADS_2