
Di ruangan lain, Zero berdiri menyandarkan punggung pada dinding ruangan. Mulutnya terkatup rapat, kedua lengannya saling membelit di depan dada. Matanya nanar menatap wanita yang terbaring lemah di atas ranjang kesakitan.
Pikirannya berhamburan kemana-mana. Hatinya berkecamuk dan antah berantah. Terlepas dari penyesalannya, Zero terkejut ketika menemukan Jihan menangis histeris memeluk Tiger. Wanita yang pernah ia ikat kontrak kerja sama dan sempat menghilang dari pencariannya.
"Tuan," panggil Bima yang baru datang. Sedari pagi ia bertugas untuk menghandel semua pekerjaan kantor. Sehingga tidak tahu menahu kekacauan di luar itu.
"Wanita yang kita cari-cari sudah ketemu!" Zero berucap tanpa menoleh sedikit pun.
"Maksudnya, Vallencia?" tanya Bima.
"Jihan!" Zero membenarkan.
"Ah, iya. Jihan. Di mana dia, Tuan?" sambung Bima cepat disergap rasa penasaran yang tinggi.
Zero bergerak dengan perlahan, mendaratkan tubuhnya di sebuah sofa dalam ruangan itu. Kakinya tumpang kaki, matanya masih tak beralih dari Etent. Bima mengikutinya, ia berdiri di belakang Zero dipenuhi rasa penasaran.
"Dia istrinya Tiger," ucap Zero setelah terdiam beberapa saat.
Bima seperti tersedak ludahnya sendiri. Tentu saja sangat terkejut. Pantas saja dia kesulitan menemukannya, ternyata ada di bawah perlindungan orang yang kuat.
Sebelum Bima bertanya lebih banyak, Zero lebih dulu membuka suara. Ia menjelaskan semua yang terjadi, termasuk keinginan untuk melenyapkan dendam yang sudah lama terukir di hatinya.
__ADS_1
"Tuan yakin?" tanya Bima. "Lalu, bagaimana dengan kontrak kerja sama itu, Tuan?" Bima berucap seraya menatap serius tuannya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jihan pingsan setelah beberapa saat. Emosinya benar-benar menguras tenaga dan pikirannya. Beban yang tengah menghimpit dadanya terasa begitu menyakitkan.
Rico dan Bian berbagi tugas, Rico berjaga untuk Jihan setelah dipindah ke ruang rawat inap. Sedangkan Bian menunggu dengan gusar di depan ruang operasi, ia sangat khawatir dengan kondisi Tiger.
Milano kalang kabut ketika mendengar musibah yang menimpa anak dan menantunya. Ia segera meninggalkan kantor dan bergerak cepat ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi mereka.
"Tuan!" Rico membungkuk ketika mendapati tuan besarnya sampai di hadapannya.
"Nona kecil berada di ruang NICU, Tuan. Harus mendapat perawatan intensif karena belum cukup umur. Nyonya, pingsan setelah melahirkan," papar Rico menjelaskan.
Milano melenggang masuk diikuti oleh Rico di belakangnya. Pria paruh baya itu menghela napas pelan ketika melihat wajah pucat Jihan yang masih terbalut sisa-sisa air mata.
"Lalu, bagaimana Tiger?" tanya pria itu lagi.
"Tuan masih menjalani operasi, Tuan Besar. Terjadi pendarahan di otak beliau, dan terlambat penanganan," ujar Rico yang seketika membuat Milano tersentak.
"Operasi?" gumamnya mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
Ia segera bergegas keluar. Melewati setiap lorong dengan langkah kaki yang sangat cepat. Dadanya berdenyut nyeri, bagaimanapun Tiger adalah tanggung jawabnya. Hatinya gelisah bercampur khawatir.
Tubuhnya terpaku ketika menatap pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat. Lampu kecil berwarna merah masih menyala, sebagai pertanda operasi masih berlangsung.
"Silakan duduk, Tuan!" sapa Bian yang langsung beranjak dan membantu Milano duduk.
Milano terdiam dengan pikiran kosong. Dia takut terjadi sesuatu dengan Tiger. Punggung pria paruh baya itu melengkung, ia menopang kepala dengan kedua tangannya.
Satu jam, dua jam hingga enam jam sudah berlalu. Mereka menunggu di tengah kecemasan. Saat lampu sudah padam, Milano beranjak berdiri dengan debaran jantung yang bertalu sangat kuat.
Lama sekali pintu tak kunjung terbuka, Milano berdiri dengan gusar. Bian setia mendampingi, berusaha tetap tenang meski hatinya seperti genderang di dalam sana.
Tepat setelah pintu terbuka, para perawat segera melangkah cepat di setiap sisi brankar, mendorong ranjang pasien dengan terburu-buru.
"Dokter! Ada apa?!" Milano memekik kebingungan.
Dokter menghela napas sesaat sebelum berucap, "Tuan, ...."
Bersambung~
Aduuh... deg deg an. 🙈🙈
__ADS_1