The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 96. LANGSUNG PRAKTIK SAJA


__ADS_3

"Tuan, Candra Emmerald memang memiliki anak tunggal berjenis kelamin laki-laki. Sejak usia remaja, dia tinggal di Rusia. Setelah kematian Tuan Candra, tidak ada yang tahu keberadaan serta keadaan anak itu sampai sekarang. Media sama sekali tidak mengangkatnya. Kemungkinan ada campur tangan darinya," jelas Bian yang mendapat informasi dari bawahannya.


Tiger mengerutkan dahinya, "Siapa nama anak itu?" tanya Tiger serius.


"Zero Emmerald. Dan saat ini sedang kami selidiki, apakah Zero Emmerald dan Zero Anderson itu orang yang sama. Masih harus kami pastikan terlebih dahulu, Tuan," sahut Bian sedikit ragu. Mereka tidak mungkin menghakimi tanpa bukti yang kuat.


Tiger memejamkan matanya, cengkeraman ponsel di tangannya semakin kuat. "Saya tunggu secepatnya!" geram Tiger menahan suaranya agar tidak berseru kuat.


Diletakkannya ponsel di atas nakas, ia mengangkat satu lututnya yang segera ditimpahi lengannya. Matanya terpejam dengan punggung bersandar nyaman pada kepala ranjang.


Tak berapa lama, Jihan sudah keluar dengan bathrobe yang membalut tubuhnya. Kedua manik matanya melebar ketika melihat sang suami tidur dengan posisi duduk.


"Dia pasti belum sempat beristirahat barang sedetik pun," gumamnya dengan penuh rasa haru.


Ia segera mengayunkan kakinya menuju walk in closet untuk berganti pakaian. Kali ini, dia memilih gaun polkadot berwarna putih dengan motif berwarna hitam. Lekuk tubuhnya tercetak jelas, ia berdiri di depan cermin sembari menegakkan punggung, mengusap pelan perut buncitnya dengan senyum merekah.


"Dia sudah semakin besar," gumam Tiger memeluk Jihan dari belakang, menyangga perut istrinya itu.


"Eh, kok bangun. Tidur aja lagi, kamu pasti lelah," sahut Jihan menatap pantulan tubuh mereka yang tak berjarak di depan cermin.


"Aku tidak tidur, hanya memejamkan mata sejenak," balas Tiger.


Jihan memutar tubuhnya. Ia menatap sepasang manik abu suaminya yang begitu merah, tergambar jelas rasa lelah yang berpendar dari wajah tampannya.


"Terima kasih, kamu sudah membuatku panik, khawatir namun juga bahagia dalam waktu bersamaan," cetus Jihan menangkup kedua pipi suaminya.

__ADS_1


"Maaf!" balas Tiger yang segera menekan tengkuk sang istri agar dia leluasa menguasai bibir Jihan yang selalu menggodanya itu.


Tanpa sadar, Jihan pun terbawa suasana. Menikmati cumbuan sang suami. rambut pendek Tiger bahkan memenuhi sela-sela jemari Jihan. Ia berjalan mundur saat Tiger terus menyerangnya.


Tak terasa, kaki Jihan terantuk sofa dan terduduk dengan perlahan, karena Tiger menahan gerakannya. Seluruh tubuh pria itu sudah menegang, terutama bagian bawahnya yang mendesak sedari tadi ingin segera berkunjung ke rumahnya. Namun, seruan perut Jihan yang memekik membuatnya tersadar bahwa wanitanya itu harus segera makan.


Tiger menjauhkan wajahnya, keningnya mengernyit saling menatap dengan Jihan, lalu mereka tertawa bersamaan. "Padahal tadi nyuruh cepet bersih-bersih dan makan. Tapi, pesona bibirmu mengalahkan segalanya!" ungkap Tiger mengecup kening istrinya lalu menegakkan berdirinya.


Jihan hanya tersenyum malu, ia meraih lengan Tiger yang menjulur di hadapannya. Membantunya berdiri, lalu menggenggamnya keluar dari kamar.


Pasangan itu segera menuju meja makan yang sudah tersaji hasil kreasi Tiger beserta minumannya. Jihan duduk setelah Tiger menarik sebuah kursi untuknya.


"Ini masakan kamu?" tanyanya ragu menoleh pada sang suami.


"Hmmm!" sahut Tiger mengangguk.


"Pelan-pelan aja," ucap Tiger yang melihat istrinya seperti tengah kelaparan. Tapi, memang benar adanya.


"Jadi, kamu sampai jam berapa tadi? Kok udah masak aja," tanya Jihan di sela makannya.


"Jam sembilan mungkin, nggak terlalu memperhatikan. Masak gini doang setengah jam juga selesai," jawab Tiger yang juga mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.


Memasuki trimester kedua, Tiger sudah tidak pernah mengalami gejala morning sickness lagi. Ia mendesah lega, bisa lepas dari jerat kegiatan rutin yang melelahkan itu.


Jihan meletakkan sendoknya, ia menggenggam telapak tangan Tiger dengan kedua tangannya. "Kamu pasti lelah. Maaf ya, aku cuma bisa ngrepotin kamu," sahutnya yang merasa tidak bisa menjadi istri yang baik.

__ADS_1


"Aku seneng direpotin kamu!" jawabnya mengacak rambut Jihan hingga berantakan. 'Supaya suatu hari nanti, kamu tidak akan bisa berjauhan lagi denganku,' lanjutnya dalam hati.


"Aaaiihh, Papa Macan memang the best!" seru Jihan menatap kagum. Di balik seramnya sang suami, tersembunyi sikap manis yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.


"Habisin! Supaya banyak tenaga. Karena setelah ini, aku akan mengajakmu olahraga bareng!" tutur Tiger melepaskan tautan tangannya.


"Wanita hamil nggak boleh olahraga berat, Tiger," sergah Jihan kembali memakan makanannya.


Sebelah alis Tiger terangkat, "Siapa yang bilang?"


"Ada kok di buku panduan kehamilan. Yang dibolehin tuh semacam yoga dan senam khusus ibu hamil aja," jawabnya lalu meneguk susunya yang sudah mulai dingin.


"Maksud aku, siapa yang bilang aku ajak olahraga berat. Kamu paling cuma bilang uh ah aja!" celetuk Tiger tanpa beban.


"Pfffttttt! Uhuuk!" Jihan tersedak minuman yang ditenggak tadi setelah mengerti arah pembicaraan suaminya.


"Hei, pelan-pelan! Kurangi cerobohnya. Ilangin kalau bisa!" sembur Tiger menyeka wajah Jihan yang berceceran air susu.


Wajah Jihan tentu saja memerah, ia melirik ke sekeliling untuk memastikan tidak ada yang mendengar cetusan sembarangan suaminya itu.


"Iih! Kalau ngomong nggak pake filter!" bisik Jihan penuh tekanan sembari mencubit paha suaminya.


"Adududuuh, sakit, Sayang!" rengek Tiger terjingkat dan refleks menggenggam pergelangan istrinya.


"Yaudah, nggak ngomong lagi. Langsung praktik aja. Ayo!" Tiger beranjak dari duduknya dan menarik Jihan agar mengikutinya ke kamar. Jihan tidak bisa mengelak, sedikit terseok mengikuti langkah lebar sang suami yang terkesan tidak sabar.

__ADS_1


Beraambung~


Dilanjutin sendiri ya bestiee... sudah pinter semuanya kok. iya 'kan?? Iya lah.. masa enggak,😄😄😘😘


__ADS_2