The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 70. CANGGUNG DAN SALAH TINGKAH


__ADS_3

Diam, Tiger tak bersuara namun sorot matanya tampak berbeda. Jihan menyentuh telapak tangan Tiger dan meremasnya. Wajahnya tampak imut dan menggemaskan, seperti ekspresi anak kecil yang merengek.


"Ada hubungan apa kamu sama dia? Sampai memohon seperti itu?" ketus Tiger dengan dingin.


Sontak saja membuat Jihan membeku. Ia segera merapatkan tubuhnya pada sang suami, meletakkan mangkuk yang sudah kosong di atas nakas. Kembali menatap sang suami dengan intens.


"Tidak ada hubungan apa-apa. Dia benar-benar menjalankan pekerjaannya dengan baik selama ini. Aku nggak mau dia kena masalah gara-gara aku. Kamu kalau marah 'kan nyeremin. Enggak tega kalau dia terluka. Selama ini dia baik dan bener-bener jagain aku sesuai perintahmu," celetuknya menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.


Beberapa menit kemudian, Tiger menghela napas panjang. Ia menangkup kedua pipi Jihan lalu menariknya hingga bibir keduanya saling bersinggungan. Jihan terkejut, namun hanya pasrah saja saat Tiger mulai mengulum bibirnya yang sedikit berisi, menyesapnya dengan lembut.


Napas dan bibir Tiger terasa panas, Jihan pun sadar seketika ketika terhanyut dalam ciuman yang mulai memanas itu. Kedua lengannya menjulur untuk menahan dada Tiger.


"Kamu, belum sembuh," ucap Jihan dengan napas tak beraturan.


Wajahnya memerah dan tidak berani menatap suaminya yang hampir dikuasai hasrat untuk mengungkungknya. Buru-buru Jihan meraih piring dan memakan makanannya cepat. Sampai-sampai tidak sadar sudut bibirnya belepotan.

__ADS_1


Tiger tersenyum, menyentuh sudut bibir Jihan dan mengelak noda tersebut dengan ibu jarinya. Lagi-lagi gerakan Jihan terhenti. Ia terus dibuat salah tingkah dengan perubahan sikap Tiger yang berbalik 180°.


"Pelan-pelan, nggak ada yang minta juga!" ucapnya terkekeh.


'Ya ampun, Tiger. Kamu semakin membuat jantung nggak aman kalau bersikap semanis ini! Selain itu bisa bisa kena diabetes akutuh. Iih amit-amit!' gerutu Jihan dalam hati menatapnya tanpa berkedip.


"Ehm!" Jihan berdehem dan tersenyum kaku untuk meredam debaran jantungnya. Lalu kembali menyuapkan makanannya.


Tiger sudah terlihat lebih segar. Rona di wajahnya sudah tidak sepucat tadi. Usai makan, Jihan membereskan piring-piring kotor ke dapur. Sekalian membersihkannya, lalu kembali ke kamar.


"Duhh! Ayo dong Jihan. Sumpah ini lebih parah dari Kak Hendra dulu. Eh! Ngapain inget dia lagi. Hush! Hush! Jauh jauh dari otak cantikku!" gumamnya mengibas-ngibaskan kedua tangan pada kepalanya.


Jihan mengembuskan napasnya kasar, lalu membuka pintu namun dengan pandangan menunduk. Segera menutupnya dan melangkah ke ranjang tanpa mengangkat pandangannya.


Perlahan, ia duduk di tepi ranjang membelakangi Tiger. 'Apa yang akan terjadi selanjutnya?' gumamnya mengangkat kedua kaki jenjangnya masuk ke dalam selimut tebal dengan sangat pelan dan hati-hati.

__ADS_1


Masih bergeming dengan dada naik turun dengan kasar, namun tidak terasa pergerakan apapun dari pria di sebelahnya. Jihan pun penasaran, akhirnya ia menggerakkan kepalanya ke samping kanan.


Ternyata Tiger sudah kembali terlelap dalam buaian alam mimpi. Jihan mendengkus kesal. Sudah sekuat tenaga menahan diri dengan segala kepanikannya, ternyata sumber ketegangannya sudah tertidur.


"Plak!"


Jihan menepuk dahinya dengan keras. Ia lalu memutar tubuh ke samping membelakangi Tiger. "Sial!" geramnya pada dirinya sendiri yang terlalu over menanggapi perubahan sikap Tiger.


Merasakan getaran di sampingnya, Tiger kembali membuka mata. Ia belum benar-benar tidur. Hanya saja, rasanya tenaganya terkuras habis. Ia melirik pada Jihan yang tidur jauh dari jangkauannya.


Segera Tiger merapatkan tubuhnya pada punggung Jihan, melingkarkan lengannya pada perut sang istri dan mencium bahu wanitanya itu. "Kenapa terlalu menepi? Kamu bisa jatuh, bahaya!" gumamnya pelan.


DEG!


'Jadi dia belum tidur?' gumam Jihan membuka mata dengan cepat.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2