
"Selamat ...." Belum sempat menyapa, suara Leon sudah memekik dari ujung telepon.
"Rico!"
"I ... iya, Tuan!" sahutnya terbata-bata.
"Kenapa tidak memberi kabar kalau Jihan melahirkan lebih awal?!" sentak Leon.
"Maaf, Tuan. Saya salah. Eee ... Tuan, mohon maaf lagi, marahnya boleh ditunda dulu sebentar? Saat ini saya sedang mengejar Jihan bersama bayinya yang hendak pergi ke luar kota. Saya janji akan segera menghubungi Tuan! Maaf, Tuan!" ucapnya mematikan sambungan telepon.
"Woy Rico!" Terdengar pekikan Leon, sebelum akhirnya dengan lancang Rico mematikan ponselnya, karena dalam pengamatannya, bus tersebut sudah semakin melesat jauh.
Kemarahan Leon tentu sudah merangkak naik. Khansa sudah tidak sabar ingin bertemu bayi cantik itu, namun ternyata Rico menepati janjinya pada Jihan tidak memberi tahu kabar pada tuannya satu itu.
Ditambah lagi, justru mendengar kabar hendak mengejar Jihan. Leon pun memilih menunggu kabar selanjutnya, sekaligus ingin mendengar penjelasan dari bawahannya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain, Zero mengulurkan tangannya hendak meraih lengan Jihan namun segera ditepis kasar olehnya, disertai tatapan yang menghunus tajam.
Zero menaikkan kedua tangannya ke atas, "Oke, nggak akan sentuh lagi. Aku akan jelasin semuanya. Setelah itu terserah nanti keputusan kamu bagaimana," ucap Zero.
Melihat keseriusan sorot mata lelaki itu, Jihan pun beranjak berdiri. "Minggir!" ketusnya, Zero mundur memberikan jalan, membiarkan Jihan berjalan terlebih dahulu. Dia juga ingin mendengarkan kejelasan dari segala sisi.
__ADS_1
Setelah keduanya turun, bus kembali melaju. Zero berlari membukakan pintu mobil samping kemudi. Masih tampak jelas aura kemarahan dari perempuan itu.
Zero segera berputar dan kembali melajukan mobilnya, namun mengambil arah yang berbeda dengan bus tersebut. Perjalanan yang begitu sunyi tanpa ada percakapan sedikit pun. Bahkan Cheryl pun begitu tenang dalam dekapan sang mama.
Sampailah keduanya di sebuah taman buatan yang terdapat danau luas dan hamparan bunga-bunga yang indah. Cukup ramai, Jihan hanya menatap keindahan itu dalam diam. Tidak bergerak maupun tidak bersuara.
"Mau makan dulu? Kamu pasti lapar," tawar Zero membuka suara.
"Jangan berbasa-basi! Sekarang katakan apa yang ingin kamu katakan!" sembur Jihan menoleh dengan tatapan yang sama, tajam dan penuh kebencian.
"Oke!" Zero membuka atap mobil agar mendapatkan kesejukan udara dari taman tersebut. Ia parkir di bawah pohon yang rindang. Bisa merasakan desir angin yang melambai, menggerakkan rambut Jihan yang sudah sepanjang bahunya.
"Aku ingin meminta maaf."
"Ya! Aku tahu, tapi saat ini Tiger bahkan masih belum sadarkan diri," sesal Zero menyandarkan kepalanya.
"Dan semua gara-gara kamu!" pekik Jihan mulai menitikkan air mata.
"Izinkan aku berbicara," ucap pria itu dengan suara pelan.
Jihan menyeka air matanya kemudian tatapannya beralih ke depan lagi. Mendengarkan dengan seksama penjelasan darinya.
Zero membenarkan bahwa mereka adalah sekelompok mafia, yang berawal dari satu klan yang sama. Namun rasa iri menggerogoti hatinya saat Tiger mendapat jabatan tertinggi, hingga Zero memilih melepaskan diri dan membangun klan sendiri agar bisa bersaing dengan Tiger.
__ADS_1
Berawal dari menculik tunangannya, berharap agar pria itu hancur karena kehilangan cintanya. Namun kabar kematian kedua orang tua Zero dari tangan Tiger, semakin membubuhkan dendam di hati Zero. Berkali-kali ia mencoba membunuh Tiger, mematikan usaha-usahanya, Zero mengakui semua di hadapan Jihan.
"Tiger tidak akan pernah bertindak ketika tidak ada yang mengusiknya!" desis Jihan membela suaminya. Hatinya seperti tersayat sembilu mendengar semuanya.
"Benar, dan semuanya murni kesalahanku. Ternyata dulunya, orang tua kandung Tiger dibunuh oleh orang tuaku. Sebab, merasa terancam bisnisnya karena keterlibatan mereka."
Kedua tangan Jihan sudah mengepal dengan kuat. Gemuruh dalam dadanya serasa mau meledak. Ia ingin mengoyak tubuh Zero saat itu juga.
"Bajingan kamu, Zero! Brengsek!" teriak Jihan dengan buraian air mata yang begitu deras. "Kamu telah membuat semuanya menjadi rumit dan bahkan membuat Tiger hampir merenggang nyawa!" lanjutnya lagi terus berteriak.
Jihan menampar pipi Zero dengan gigi bergemeletuk. Tak puas, ia meraih sepatunya dan memberi pukulan bertubi-tubi pada kepala, bahu dan punggung Zero sambil terus mengumpat, meledakkan amarahnya dengan jerit tangis yang menggema.
Zero diam saja tatkala Jihan melampiaskan semua padanya. Ia sadar, luka yang diterima tidak ada apa-apanya dibandingkan luka Jihan saat ini.
Beberapa lama kemudian, Cheryl menangis karena guncangan tubuh Jihan dan teriakannya. Barulah ia berhenti memukuli Zero, menenangkan putrinya, mengayunkan dalam gendongan sambil menciumi pipi bayi itu. "Maaf, Sayang," ucapnya masih menangis menjerit sembari memeluknya erat.
Wajah Zero tampak memerah. Bahkan ada beberapa luka lebam, namun dia diam saja. Hanya mencengkeram erat setir mobilnya dan menoleh pada Jihan yang masih histeris. Matanya berkaca-kaca.
"Mungkin kata maaf, tidak akan cukup untukku," gumam Zero kembali menutup atap mobilnya, hari sudah memasuki senja.
Ia lalu kembali melajukan mobil. Jihan yang baru saja sadar segera menoleh ke samping. "Kau mau membawaku ke mana?!" pekik Jihan yang tidak dihiraukan oleh Zero. "Lepaskan aku, brengsek!" lanjutnya dengan nada tinggi. Namun Zero tetap bergeming.
Bersambung~
__ADS_1