
Yang lebih mengejutkan bagi Tiger, Erent berjalan dengan melingkarkan erat tangannya di lengan Zero. Manik elang Tiger seketika menyala. Ia kembali berpikir bahwa Zero berniat merebut Jihan juga darinya. Namun, ia menahan emosi dengan kepalan kuat kedua tangannya.
"Maaf menunggu lama!" Zero menarik sebuah kursi untuk Erent duduk. Barulah ia duduk di samping Erent. Tangannya meraih jemari wanita itu dan menggenggamnya kuat. Tiger tak mengeluarkan suara apa pun.
"Izinkan aku bicara, jangan sela sebelum aku selesai. Aku ingin meminta maaf atas semua perbuatan yang pernah aku lakukan dulu. Aku yang dibutakan dendam, menelan mentah-mentah berita yang aku terima. Mungkin kesalahanku sulit untuk dimaafkan. Tapi aku berusaha memperbaiki semuanya dari nol."
Zero menghela napas panjang lalu menatap Erent, "Aku dan Erent sudah menikah. Aku ingin bertanggung jawab. Karena awal mula hancurnya hubungan kalian adalah karena aku. Aku berusaha menyembuhkan luka hati Erent, agar tidak lagi berharap padamu yang sudah memiliki keluarga. Dan aku tidak ada maksud terselubung dengan Jihan, istrimu."
Zero menceritakan pertemuan tidak sengaja dia ketika mengadakan sebuah kompetisi. Karena Jihan sama sekali tidak menggunakan nama aslinya. Zero juga bercerita, ketangguhan, kegigihan dan kesetiaan Jihan selama ini.
"Aku hanya memberikan wadah untuk mengembangkan bakatnya. Dia juga bisa meluapkan kesedihannya menjadi karya yang spektakuler. Asal kamu tahu, karya pertamanya berinspirasi dari kamu. Yang mengantarkan dia menjadi seorang juara."
Setelah mengungkapkan seluruhnya, Zero mengulurkan tangan untuk berjabat. "Seperti keinginanmu, kita berdamai. Kubur masa lalu kelam kita. Dan jangan sia-siakan istri emasmu. Paket lengkap. Kreatif, inovatif, kuat dan setia. Kami permisi!" papar Zero beranjak masih mengulurkan tangan.
Tiger yang ragu, kini meraih tangan itu. Zero melempar senyum meski Tiger enggan membalasnya. Pandangannya beralih pada Erent yang juga tersenyum ke arahnya.
"Semoga kamu bahagia Tiger," ucap Erent juga menjabat tangannya.
Setelah kepergian mereka berdua, kepala Tiger berdenyut dengan sangat kuat. Dadanya bertalu seolah dipukul-pukul dari dalam. Ia meremas rambutnya lalu menangis dan berteriak penuh sesal. "Aaarrghhh! Bodoh!" pekiknya sampai menarik perhatian semua orang.
__ADS_1
Tiger segera beranjak meski kepalanya masih berdentum keras. Ia berjalan gontai, mencari keberadaan Bian. Asistennya itu segera memapahnya masuk ke mobil.
"Tuan!" panggilnya khawatir.
"Antar aku ke tempat Jihan!" serunya mengusak rambut dengan kasar. "Cepaat!" pekik Tiger ketika Bian sedikit lamban.
"Ba ... baik, Tuan!" Bian tergagap dan menginjak pedal gas dengan sangat kuat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bian mengantarnya ke apartemen yang ditempati Jihan. Memapahnya hingga sampai di depan bilik luas itu. Mereka menekan bell berulang kali, tepat disaat Jihan hendak pergi ke butiknya.
Jihan tersenyum merengkuh kedua bahu Cheryl. "Sayang, ingat semua kata mama. Cheryl harus jadi anak yang?"
"Pintar."
"Heem, terus?"
"Kuat, enggak cengeng." Kepala Cheryl menggeleng dengan lucu.
__ADS_1
"Good, lanjut?" Jihan tersenyum menanggapinya.
"Anak baik, enggak nakal."
"Good girl. Love you more anak cantiknya mama! Kebahagiaan mama!" Jihan mencium kedua pipi gembil Cheryl.
"Cheryl sayang mama!" cetusnya memeluk erat leher sang mama.
Jihan membalas pelukan itu lebih erat meski dengan satu tangannya. Merasakan hangatnya dekapan anak itu dan meresapi tulusnya setiap kata yang terucap dari bibir mungil putrinya. Sebagai sumber kekuatannya.
"Mama sembuh ya. Nanti biar bisa gendong Cheryl lagi." Cheryl mencium lengan Jihan yang dibebat perban elastic bandage, karena kesleo.
Jihan terharu, ia menahan agar air matanya tidak jatuh. Jihan lalu mencium kening Cheryl sangat lama. "Terima kasih, kesayangan mama! Mama berangkat dulu ya!" ucapnya beranjak berdiri.
"Dada, Mama. Love you!" Cheryl melayangkan kiss jauh ketika Jihan sudah mulai beranjak ke depan pintu.
Jihan pun pura-pura menangkapnya dan meletakkan di saku lalu mereka berdua tertawa bersama. Saat membuka pintu, tubuhnya langsung terhuyung ketika mendapati Tiger bersama Bian di hadapannya.
Dadanya langsung bertalu kuat, kepalanya mendadak pusing, dan darahnya berdesir kuat. Jihan mencari pegangan untuk menopang kakinya yang melemas.
__ADS_1
Bersambung~