
Dua hari kemudian ....
Cheryl pulang ke rumahnya bersama Leon. Ia sendiri yang mengantar keponakan kesayangannya itu, karena ingin memastikan sendiri Cheryl sampai dengan selamat tanpa kurang apa pun.
Selama perjalanan menuju kediaman Sebastian, Leon mengatur napas sembari memejamkan mata. Cengkeraman tangannya pada Cheryl pun semakin menguat hingga gadis kecil itu merintih.
"Om Papa! Tangan Cheryl sakit!"
Leon terperanjat kaget, ia segera membuka mata dan memutar tubuhnya pada Cheryl. Mengangkat jari jemari kecil milik gadis itu, lalu meniupnya berkali-kali.
"Maaf, Sayang. Maaf! Om Papa nggak sengaja!" sesal Leon menciumnya bertubi-tubi.
"Udah sembuh, Om Papa!" cetus Cheryl tertawa.
Leon mendesah lega, ia mengacak puncak kepala Cheryl dengan gemas. Kemudian memeluknya begitu erat. "Cheryl pinter banget sih. Kalau kangen telepon ya. Nanti Om Papa jemput lagi."
"Iya Om Papa. Cheryl nggak sabar pengen main sama dede twins!" sahutnya dengan antusias.
Leon tersenyum menatapnya. "Doain mereka sehat ya, Sayang. Nanti kalau mereka udah lahir Kakak Cheryl harus nginep di sana!" titahnya menyentuh ujung hidung Cheryl dengan jari telunjuk.
"Siap, Om Papa! Cheryl bakal punya tiga adik! Yeeeyyy!" serunya bertepuk tangan.
"Kok tiga, Sayang?" Leon mengerutkan keningnya. "Mama hamil lagi?" sambungnya bertanya.
"Iya, Pa. Tapi mama nggak seperti aunty mama. Mama muntah-muntah terus. Di kamar aja harus ada dokter, suster terus tangannya harus diikat," papar gadis cilik itu.
"Hah? Kenapa diikat?" Leon tampak terkejut.
__ADS_1
"Iya, Om. Kata papa, mama dan dede bayi makan lewat selang itu. Jangan sampai lepas dari tangan mama."
Leon tertawa terbahak-bahak. Tubuhnya yang sedari tadi menegang dengan debaran jantung yang begitu kuat, kini mulai meredam. Ia semakin bisa menguasai emosinya.
"Itu namanya infus, Sayang. Gemesin banget sih kamu!" tutur Leon mencubit kedua pipi gembil Cheryl.
Mobil yang mengantarkan mereka kini berhenti di pelataran rumah. Kehadiran Cheryl di sampingnya, cukup membawa pengaruh besar untuk Leon. Ia sudah tidak begitu panik seperti saat menjemput Cheryl satu minggu yang lalu.
"Cheryl, masuklah. Om Papa tunggu sini. Salam sama mama dan papa ya. Bilang, Om Papa harus segera pulang. Karena aunty mama dan dede twins udah nungguin," pesan Leon membingkai wajah imut itu.
"Iya, Om Papa. Love you!" ucap Cheryl mencium pipi Leon lalu memeluknya sebentar.
"Love you too, Sayang!" balas Leon mencium kening dan kedua pipi Cheryl.
Rico sudah membukakan pintu mobil sedari tadi. Ia menunggu sampai nona kecilnya turun dari mobil. Pengawal itu segera mengantar Cheryl hingga depan pintu. Lalu segera kembali ke mobil untuk mengantar Leon kembali ke bandara.
Cheryl berlari dengan tas kecil di punggungnya. Ia segera menuju ke kamar mamanya, diantar oleh salah satu asisten rumah tangga.
Setelah mengetuk beberapa kali dan mendapat jawaban, Cheryl segera berlari ke ranjang dan melompat ke atas. "Mama!" pekiknya memeluk ibunya.
"Cheryl! Kamu sudah pulang, Nak?" tanya Jihan terkejut. Ia tidak tahu jika putrinya akan pulang hari ini.
Cheryl mengangguk di dada ibunya, "Heem. Cheryl kangen sama mama!" ucapnya mencium pipi Jihan.
"Sama, Sayang!" jawab Jihan menepuk pipi gembilnya perlahan.
"Mama! Mama! Cheryl bakal punya tiga adik!" cerita Cheryl begitu bersemangat. Ia duduk bersila menghadap ibunya.
__ADS_1
Jihan berkerut kening, "Banyak sekali, Nak?" tanyanya.
"Iya! Kejutan dari mama aunty, katanya di perutnya ada dede bayinya. Kembar, Ma!" pekiknya antusias mengangkat dua jarinya.
Jihan menganga sembari menutup mulutnya. Ia terkejut sekaligus bahagia mendengarnya. "Syukurlah!" ucap Jihan.
Cheryl beralih menyentuh perut Jihan. "Perutnya aunty rasanya keras, Ma!"
"Oh ya?! Memangnya nggak seperti mama?!"
"Enggak! Lebih keras punya aunty." Cheryl menggeleng hingga rambutnya ikut terayun-ayun mengikuti gerakannya.
"Mungkin karena sudah lebih besar, Sayang." Jihan terkekeh melihat kelucuan anak gadisnya itu.
Dalam hati benar-benar bersyukur mendengar kabar tersebut. Ia tidak sabar ingin menghubungi saudaranya bak bidadari tak bersayap itu.
"Cheryl kalau capek istirahat aja dulu," tutur Jihan membelai rambut putrinya.
"Iya, Ma. Cheryl capek banget. Diajak jalan-jalan terus sama aunty mama. Terus, Ma. Pestanya besaaar dan ramai sekali. Tempatnya bagus, Ma!"
"Iya, Mama juga lihat Cheryl kok digendong sama Om Papa," balas Jihan.
"Kok mama bisa tahu? Mama di sana juga?"
"Enggak, Sayang. Mama lihat Cheryl masuk TV sama om, aunty dan semuanya."
Cheryl membelalak. "Hah? Ma, semua masuk TV? Muat ya, Ma?" tanya gadis itu dengan polosnya.
__ADS_1
Bersambung~