
Rico berdehem untuk meredakan kegugupannya. Ia memasang earphone pada telinga, lalu menekan sebuah tombol yang menyambungkan pada panggilan tersebut.
"Selamat sore, Boss!" sapa Rico dengan suara tegasnya.
"Posisi?!" seru seseorang di seberang dengan singkat.
"Bersama nyonya dalam perjalanan pulang," jawab Rico sejelasnya.
"Bagaimana kondisinya?" tanya sosok di balik telepon itu.
"Masih syok dan terpukul, Boss."
"Lalu kandungannya?"
"Hasil pemeriksaan tadi, semua sehat dan normal," jawab pengawal pribadi Jihan dengan pelan sesekali melirik Jihan yang tampak tidak peduli.
Setelah beberapa saat, mereka mengakhiri percakapan. Rico menahan napas selama percakapannya berlangsung. Namun ternyata Jihan sama sekali tidak tertarik dengan suara pria itu.
Terbukti Jihan masih bersandar nyaman dan sibuk memandang pepohonan besar di sepanjang jalan yang mereka lalui. Barulah Rico bisa menghela napas lega.
Sementara itu, Tiger tengah berdiskusi di sebuah meja besar di markasnya bersama tim gabungan anak buah Leon. Mereka sedang menelusuri kejadian di balik kejadian yang hampir meregang nyawanya jika saja ia tidak peka dengan sekelilingnya.
__ADS_1
...Flashback~...
Pagi tadi, Tiger dipancing agar datang ke restoran mewah yang lokasinya sangat dekat dengan kantor polisi. Kedua belah pihak berencana akan melakukan kerja sama.
Tiger mengendus sesuatu yang tidak beres di sekitarnya. Sejak pertama bertemu, ia tidak yakin dengan kliennya tersebut. Dua orang yang berhadapan dengannya tampak mencurigakan dan tidak menunjukkan sikap profesionalnya.
Pasalnya setelah menyerahkan beberapa berkas, dua orang itu mengutarakan alasan klasik untuk meninggalkan Tiger bersama asistennya.
"Tuan, saya merasakan sesuatu yang tidak beres dengan kedua orang itu," ujar Dylan sang asisten pribadi. Selain sebagai asisten perusahaan, dia juga ditunjuk untuk membantu mengurus klan mafianya. Tiger terlalu pemilih, hanya orang-orang yang ia percaya untuk bisa mendampinginya.
"Hmm!" Tiger melirik ke sekeliling dengan ekor matanya yang tajam, memindai seluruh ruangan VIP tempat ia melakukan pertemuan. Ia juga memasang pendengarannya baik-baik.
"Shitt! Keluar dari sini sekarang juga!" teriak Tiger meraih laptop dan segera keluar dari restoran tersebut.
Setelah asistennya itu duduk dan menutup pintu, Tiger memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi agar segera bergerak sejauh-jauhnya dari restoran tersebut.
Sekitar jarak 100 meter, terdengar ledakan maha dahsyat yang memekakkan telinga, bahkan menimbulkan getaran meski berada di dalam mobil.
Tiger memutar mobilnya dan menginjak pedal rem. Berhenti menyaksikan kobaran api yang membumbung tinggi dan dengan cepat menjalar ke sekelilingnya. Angin yang bertiup sangat besar, sehingga dengan cepat melahap habis bangunan dua lantai itu. Banyaknya tabung gas juga memicu semakin besarnya api tersebut.
Lokasi restoran itu berhimpitan dengan dapur raksasa lapas di kota tersebut. Api pun begitu cepat menyambar penjara itu. Ledakan demi ledakan terus terdengar, para sipir penjaga panik karena kobaran api yang begitu besar.
__ADS_1
Mereka tidak sempat membuka beberapa pintu jeruji besi karena api sudah merambat dan membesar dengan begitu cepat. Sehingga banyak korban yang turut terbakar di dalam sana.
Puluhan mobil pemadam kebakaran yang datang, masih kesulitan untuk menaklukkan kobaran api tersebut.
"Ya Tuhan! Kita hampir meregang nyawa!" gumam Dylan yang masih syok dengan kejadian yang begitu cepat di hadapannya.
Dadanya masih berdegup kasar, matanya membelalak dengan sangat lebar. Tubuhnya membeku disertai napas tersengal-sengal. Terlambat sedikit saja, mereka turut hangus terbakar dalam ledakan bom yang bermula dari restoran tersebut.
"Kamu harus pertajam hidung, telinga dan matamu ketika kita melakukan transaksi atau kerja sama seperti ini." Tiger masih mengatur napasnya, mencengkeram kuat setir mobilnya menahan amarah.
Tiger lalu menjelaskan, ketika dua kliennya meninggalkan lokasi dia menggerakkan seluruh inderanya. Mata tajamnya menemukan lampu merah yang berkedip dari pantulan kaca di ruangan tersebut. Dan tak lama kemudian, telinganya mendengar detik waktu yang tengah berjalan. Tiger sangat yakin bahwa tempat itu sudah dipasang bom dan diatur sedemikian rupa untuk mencelekainya.
"Maaf, Tuan. Ini kelalaian saya!" aku Dylan merasa bersalah, mengaku ceroboh kali ini.
Pandangan Tiger kembali lurus ke depan. Pikirannya langsung tertuju pada ibu Jihan yang berada dalam penjara. Ia segera mendekat ketika satu per satu korban berhasil diangkat oleh petugas damkar.
Setelah menunggu beberapa lama, ia mendapat laporan bahwa Maharani, ibu mertuanya menjadi salah satu korban yang tidak dapat diselamatkan. Segera ia menghubungi Rico untuk mengantarkan Jihan.
Awalnya ingin mengatakan langsung pada Jihan melalui telepon, namun Tiger mengurungkan niatnya. Karena ia takut, istrinya syok berlebih.
Bersambung~
__ADS_1
Terima kasih banyak supportnya, Bestie 😘 like dan komen kalian bikin semangat!! Lope you sekebon 🌶