
Tiger menghela napas panjang. Ia meraih kedua jemari lentik Jihan lalu menggenggamnya. Manik abu itu menatap lekat bola mata sang istri, mengunci dengan tatapan lembut.
"Sayang, aku cuma terkejut. Bukan cemburu. Bagaimana bisa mereka semudah itu bersatu? Itu saja. Kamu tahu sendiri, aku tidak pernah ada perasaan dengannya. Lantas apa yang membuat kamu merasa tergeser di hatiku?" Tiger berucap lembut dan menenangkan.
Jihan memasang tampang juteknya, meski dalam hatinya berbunga-bunga saat ini. "Ya kali aja, kamu nggak rela. Lagian perjuangan Zero juga nggak mudah kok luluhin hati Erent. Dia depresi, sampai mau bunuh diri. Zero terus dampingin dia terapi dan pengobatan, akhirnya luluh deh," jelas Jihan meneguk minuman dalam gelasnya.
"Oh ya? Sampai seperti itu?" Tiger tampak tak percaya.
"Iya! Dan semua gara-gara kamu! Anak orang sampai kamu bikin gila," ucap Jihan menyandarkan punggung, perutnya baru terasa begah karena kekenyangan. Disuapi sang suami, sampai tak terasa memakan ludes porsi makannya sampai tak bersisa.
Tiger memutar tubuhnya, hingga berhadapan dengan sang istri. Menyentuh kedua bahu dan menatap kedua matanya dengan lekat. Jemarinya bergerak di pipi Jihan. "Berarti kamu luar biasa, dong," tutur Tiger dengan suara lembut.
"Kamu bahkan menjadi wanita yang kuat dan hebat, juga bisa merangkap menjadi ayah sekaligus ibu untuk Cheryl. Hah, aku nggak bisa bayangin bagaimana perjuangan kamu waktu itu!" Tiger menarik kedua bahu Jihan dan memeluknya erat, menciumi puncak kepalanya.
"Iya, secara nggak langsung kamu juga berperan sih. Aku bisa seperti ini karena ingin memantaskan diri saat bersanding denganmu. Jatuh bangun aku meraihnya, lelahku dipatahkan oleh Cheryl. Semangatku ingin membuatmu bangga dan nggak malu-maluin. Terus kalau ada bibit pelakor aku berani bersaing dong walaupun semua membutuhkan waktu tak sebentar!" Jihan berbicara panjang lebar, membalas pelukan suaminya.
Speechless, Tiger tidak sampai tidak bisa berkata-kata. Dia benar-benar terharu. Istri manjanya yang semula tidak bisa apa-apa dan selalu berpikiran sempit, ternyata bisa berubah lebih dewasa. Selalu ada hikmah di balik setiap musibah.
Mungkin jika rumah tangga mereka selalu mulus, Jihan masih sama seperti dulu. Kekanakan, tidak punya pendirian bahkan selalu bertindak ceroboh.
"Aku semakin tergila-gila padamu. Kalau begitu, sekarang saatnya kita memberikan adik untuk Cheryl!" celetuk Tiger.
"Kan udah dari semalem, Tiger. Ya semua butuh proses, nggak mungkin langsung jadi. Tapi ...."
Tiba-tiba detak jantung Jihan berdegub kencang, tubuhnya mendadak kaku. Tiger yang merasakan ketegangan istrinya, segera menjauhkan tubuhnya, agar bisa melihat keadaan Jihan.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Tiger bingung karena Jihan tiba-tiba menangis, bahkan lama kelamaan sampai sesenggukan.
Tiger mendekapnya lagi, membelai rambut panjangnya, "Apa, Sayang?" lanjutnya lagi.
"Aku takut, Tiger. Bayangan kelahiran Cheryl masih terekam jelas di otakku. Hari bahagia yang sekaligus hari kelam bagiku. Sungguh, aku sangat takut!" Jihan meremas kaos Tiger dengan kuat. Tangisnya semakin kencang.
"Sssttt! Tenanglah. Aku janji, akan selalu menjagamu, di sampingmu dan terus berdiri untukmu, untuk anak-anak kita." Tiger berusaha menenangkan.
"Kamu juga harus janji selalu baik-baik saja. Jangan membuatku ketakutan lagi," rengek Jihan.
"Iya, Sayang. Aku janji! Ayo, proses lagi. Biar cepet jadi!" gurau Tiger yang segera mendapat cubitan keras dari Jihan, di perutnya.
"Aaauuww! Sakit, Sayang!" erang Tiger kesakitan.
Jihan menyeka air mata dengan kaos suaminya, lalu menatap Tiger dengan wajah cemberutnya, "Kamu mau bikin aku nggak bisa jalan? Aku kangen Cheryl. Kapan kita pulang?"
"Udah kangen kerja, hehe."
Terbiasa banting tulang setiap hari, membuat Jihan merasa aneh jika hanya berdiam diri. Karena selama ini, ia selalu memantau langsung setiap proses pengerjaan gaun di butiknya. Bukan karena tidak percaya, namun Jihan ingin memberikan yang terbaik agar costumer selalu puas.
"Hmm ... dua hari lagi ya. Aku masih ada kerjaan dikit. Apa mau pulang ke rumah kita yang di sini?" tawar Tiger.
"Enggak, di sini aja."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Dua bulan kemudian....
Jihan tersentak dari tidurnya ketika merasakan gejolak pada perutnya. Buru-buru ia bangkit dari ranjang dan berlari ke kamar mandi sembari menutup mulutnya.
Cheryl dan Tiger serentak bangun ketika merasakan getaran di ranjang besar itu. Cheryl segera melepas pelukannya pada sang ayah dan menoleh cepat pada ibunya.
"Mama!" gumamnya terlihat khawatir.
Tiger juga turut bangun, ia mencoba menenangkan putrinya, "Biar papa yang lihat," ujar Tiger menyibak selimut tebal dan menyusul istrinya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Tiger menerobos masuk ke kamar mandi.
Tiger panik ketika melihat Jihan berusaha mengeluarkan isi perutnya di depan wastafel. Ia segera berlari menghampiri dan menggenggam rambut panjang Jihan yang tergerai, agar tidak terkena muntahannya.
"Apa kamu salah makan selamam?" tanya Tiger memijit tengkuk Jihan.
Hanya gelengan pelan sebagai jawaban Jihan. Ia segera membasuh muka dan berkumur setelah menuntaskan muntahnya.
Tiger tak membiarkan Jihan berjalan sendiri, segera meraup tubuh lemah Jihan dan melenggang kembali ke ranjang.
"Mama sakit?" tanya Cheryl langsung memeluk Jihan setelah ibunya kembali berbaring.
"Iya, Sayang. Biarin mama istirahat ya. Cheryl temenin mama," ucap Tiger menaikkan selimut hingga setengah tubuh Jihan.
Buru-buru ia ke dapur dan meminta asisten rumah tangga untuk membuatkan minuman hangat.
__ADS_1
"Mama, cepet sembuh ya!" ucap Cheryl mencium pipi ibunya, turut merebahkan tubuh mungilnya di ranjang sambil memeluk leher sang mama.
Bersambung~