
Derasnya hujan yang mengguyur kota Jakarta di tengah malam, membuat Jihan semakin terperosok dalam kekhawatiran. Perempuan itu sedari tadi berdiri di belakang jendela. Menyibak gorden berwarna putih untuk melihat keadaan di luar rumah.
Satu tangannya sibuk menggenggam ponsel begitu erat di dadanya. Sudah empat jam berlalu sejak kepergian Tiger, ia sama sekali belum mendapat kabar apa pun. Dan sekarang cuaca tiba-tiba berubah tidak bersahabat.
"Seharusnya kamu sudah sampai 'kan? Kenapa nggak angkat teleponku? Apa di sana hujan juga? Atau ...."
Jihan menggelengkan kepalanya perlahan. Bulir bening mulai menyeruak dari kedua manik matanya. Dadanya berdenyut nyeri membayangkan hal-hal yang tiba-tiba terlintas di kepalanya.
Air matanya semakin deras membasahi kedua pipi, seiring dengan semakin derasnya air hujan yang membasahi bumi. Khawatir bercampur rindu membuat dadanya semakin sesak.
Sudah satu jam ia berdiri, kedua kakinya terasa gemetar. Jihan pun berbalik dan berjalan dengan sangat pelan menuju lemari pakaian. Ia melepas gaun tidurnya dan segera mengganti dengan kemeja Tiger. Yang tentu saja kebesaran jika dikenakannya. Cukup untuk membalut tubuhnya, seperti mengenakan gaun berlengan panjang.
Jihan merasakan perutnya menguat dan nyeri. Dia mendesis sembari meraba perutnya yang sedikit membuncit. "Kita doakan papa ya, Nak. Papa pasti baik-baik saja. Kamu yang tenang ya," gumamnya seolah tengah berbincang dengan anaknya.
Langkah kakinya sangat pelan, bahkan sedikit terseok. Hingga akhirnya bisa mencapai tepian ranjang. Jihan mendudukkan tubuhnya dan memaksa untuk berbaring walau tak ingin. Tubuhnya sudah lelah, kedua kakinya juga teramat pegal. Apalagi ditambah nyeri di perutnya.
Terbiasa dipeluk oleh Tiger setiap malam membuatnya sulit memejamkan mata. Kemeja yang ia kenakan, cukup membantu meredakan rasa rindunya walau sedikit. Ponsel masih digenggam erat, diletakkan di samping kepalanya. Berharap segera mendapat kabar dari suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Mobil yang dikendarai Tiger melesat dengan kecepatan tinggi. Jalanan yang sepi, mempermudah aksesnya untuk segera mencapai tujuan.
"Di sini T-1, tunjukkan di mana tempat kosong!" ucap Tiger setelah menekan alat komunikasinya. T-1 merupakan nama samaran untuknya, agar memudahkan berkomunikasi. Orang nomor satu dalam organisasinya. Semua anggota memusatkan perhatian penuh untuk mendengarnya.
"Rooftop gedung paling selatan, dari sana bisa menyebarkan pandangan ke segala arah. Namun, terlihat satu musuh di sana!" sahut salah satu anak buahnya yang mengoperasikan kamera pengawas.
"Baik!" sahut Tiger tersenyum menyeringai.
Tatapannya seolah api yang berkobar, pedal gas diinjak semakin dalam, sedangkan lengannya dengan lihai menggerakkan setir ketika melalui tikungan-tikungan tajam.
Mobil sudah berhenti di belakang gedung tinggi sesuai petunjuk. Tiger segera mengenakan safety belt full body sebagai antisipasi jika terjadi sesuatu yang darurat dan mengharuskannya turun dengan cepat. Ia juga meraih sebuah tali yang panjang dan juga kuat. Dilingkarkannya gulungan tali tersebut di salah satu lengannya.
"Siap, Tuan! Lini pertama sudah turun. Kapal akan diperkirakan mendarat sepuluh menit lagi," sahut Grey cepat.
"Good!"
Tiger berlari dengan cepat menaiki anak tangga yang lumayan banyak, yang ada di luar gedung. Gedung tersebut kosong sudah tidak beroperasi. Pembangunannya mangkrak bertahun-tahun.
Kondisi fisik Tiger yang sangat kuat, bukan masalah besar baginya untuk mencapai tangga teratas. Ia memelankan langkah kaki sembari mengatur napas yang terengah-engah. Ia juga melemaskan tangan kaki dan seluruh tubuhnya, bersiap untuk bertarung.
__ADS_1
Tiger mengedarkan pandangannya. Hingga netranya bisa menemukan sesosok pria di tepi gedung, yang sedang mengarahkan moncong senjata laras panjangnya ke bawah, dan matanya membidik melalui teleskop senapannya.
Sebelum beraksi, Tiger mengedarkan lagi pandangannya. Memastikan tidak ada orang lain lagi. Setelah yakin, ia meletakkan tali dan berjalan mengendap-endap tanpa mengeluarkan suara. Saat berdiri tepat di belakang pria itu, Tiger segera memukul tengkuknya.
"Aaarggh!" Pria itu meringis dan segera menoleh.
Matanya membelalak ketika menemukan Tiger sudah ada di hadapaannya. Segera ia mengarahkan senjata pada Tiger. Namun dengan gerakan cepat, Tiger menendangnya hingga terlepas jauh. Dia tidak mau mengundang perhatian dengan suara tembakan.
"Selamat datang! Ini sambutan untuk kalian!" gumam Tiger dengan tawa mengerikan.
Pria yang terjatuh tadi segera berdiri dan menyerang Tiger. Namun gerakannya sangat mudah terbaca. Tiger mencekal pergelangan tangan pria itu lalu memutarnya hingga terdengar suara "Krekk!"
Pria itu berteriak kesakitan namun segera ditendang oleh Tiger hingga terhempas ke lantai dan tidak bisa bersuara lagi, walaupun masih bernapas.
"Wah, sayang sekali tangan kananmu patah. Mau kubantu yang kiri sekalian?" tanya Tiger berjongkok di samping pria itu yang hanya meringis kesakitan dan menatap tajam.
"Tidak menjawab artinya iya!"
Belum sempat menyentuh tangan satunya, seseorang menendang punggung Tiger dari belakang hingga pria itu tersungkur. Rekan musuh tersebut datang membantu. Ia membantu temannya berdiri sembari mengarahkan moncong pistolnya ke arah Tiger.
__ADS_1
Bersambung~