The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 120. SUMBER INSPIRASI


__ADS_3

Sepasang manik hitam yang duduk di singgasana juri ternganga tak percaya saat mengetahui Jihan mengikuti kompetisi tersebut dan bahkan menjadi juara. Pandangannya terus bergerak mengikuti langkah Jihan yang percaya diri meski wajahnya tampak sendu.


"Wow, masih sangat muda ya ternyata. Selamat Nona Anastasia." Gemuruh tepuk tangan pun menggema.


Ketua penyelenggara menyerahkan piala, mengenakan selempang pita dan menyerahkan hadiah secara simbolis. Tubuh Jihan bergetar di atas panggung. Benar-benar tidak menyangka di tengah rasa insecure nya.


"Selamat ya!" ucap pria paruh baya itu setelah menyerahkan semua hadiah sembari menjabat tangannya.


"Terima kasih," ucap Jihan lirih.


Lagi-lagi ballroom itu dipenuhi dengan gemuruh tepuk tangan para peserta lain yang jumlahnya mencapai 100 peserta.


"Baik, silakan untuk menyampaikan beberapa patah kata mengenai karya Anda yang menurut beberapa juri sangat aesthetic dan seolah memiliki jiwa yang hidup," ujar sang pembawa acara menyodorkan sebuah mic pada Jihan.


Wanita itu menerimanya dengan sedikit anggukan. Ia berdehem untuk menetralkan suaranya. Tubuhnya masih gemetar hebat karena benar-benar tidak menyangka bisa mengalahkan puluhan bahkan seratus peserta lain.


Jihan menarik napas panjang, mendekatkan alat pengeras suara itu pada mulutnya. Bibirnya terlihat sekali masih bergetar, bahkan air matanya terus bercucuran.


"Saya benar-benar terharu sekaligus tidak menyangka. Padahal sedari awal sudah merasa insecure dan tidak berharap lebih. Tapi ternyata, ketetapan Tuhan begitu indah. Di waktu saya sedang berada di titik terendah karena banyak butik yang menyepelekan karya-karya saya, di sini saya bisa mematahkan semua pandangan mereka. Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk pihak penyelenggara." Jihan membungkuk beberapa saat.


Kemudian kembali berdiri dan manik matanya lagi-lagi berair. Satu tangannya menggenggam erat piala itu, menatapnya lalu berucap, "Piala ini saya persembahkan untuk putri saya tercinta. Yang selalu menjadi support system saya, yang selalu menjadi semangat saya untuk terus bekerja keras. Cheryl, Mama berhasil, Nak!" Jihan terisak dan suaranya bergelombang.

__ADS_1


Salah satu manajemen menghampiri, menyodorkan sebuah tissu dan memeluknya dari samping. Beberapa saat, hening dan tanpa suara sedikitpun. Hanya menunggu Jihan menenangkan diri. Kemudian kembali bersuara setelah beberapa waktu.


"Yang kedua, terima kasih untuk suami saya. Karena tanpanya mungkin saya tidak bisa menciptakan ide-ide ini. Dialah sumber inspirasi saya. Gaun ini bertemakan gelap, bagian leher dan bentuk bahunya tegas, sesuai karakter suami saya. Ekor bagian belakang menjuntai dan bermekaran bak payung, persis seperti suami saya yang selalu melindungi orang-orang yang dicintainya dengan caranya sendiri." Jihan menunjuk bagian-bagian gaun yang dikenakan model tersebut dengan tangan bergetar.


Tampak ia memejamkan mata, membayangkan suaminya, menarik napas berat. "Dan aksen berlian yang berada di bagian dada, menunjukkan bahwa dalam kegelapan, akan ada setitik cahaya harapan. Dalam hal ini, saya berharap, suami saya segera terbangun dari tidur panjangnya dan berteriak bangga memiliki saya. Terima kasih," pungkas Jihan mengakhiri pernyataannya. Ia takut jika terlalu banyak bicara akan meledakkan tangisnya.


Seolah terbius dengan setiap kalimat Jihan, semuanya masih terdiam. Hingga salah satu juri melakukan standing applause, yang langsung diikuti juri lain. Turut berdiri memberikan tepuk tangan dan berakhir sangat meriah oleh semua orang yang hadir.


Jihan dipersilakan menuju belakang stage, untuk menerima penjelasan step selanjutnya. Dan acara dilanjutkan dengan hiburan yang diisi oleh band-band tanah air.


Ia duduk sendiri, merenung atas semua yang baru saja diterima. Tiba-tiba seseorang duduk di sampingnya, menyodorkan sebuah sapu tangan.


"Makasih, tapi aku tidak membutuhkannya. Ternyata kamu jurinya," lirih Jihan tanpa menatapnya.


"Sebenarnya aku produser acara ini juga! Ini agenda perusahaan setiap lima tahun sekali untuk mengembangkan bakat-bakat seorang desainer. Dan aku tidak menyangka dengan bakat terpendammu. Sentuhan cinta yang bisa membuat sebuah karya. Keren! Aku yakin jika para pemilik butik yang menolakmu kemarin pasti menyesal," puji pria itu.


"Bagaimana keadaannya?" Jihan mengabaikan pujian itu, melontarkan pertanyaan lain.


Bibir pria itu yang semula tersenyum lebar, kini kembali merapat. "Suamimu dibawa ke Palembang!"


Jihan menoleh dengan cepat. "Apa dia baik-baik saja?" tanyanya khawatir.

__ADS_1


"Mmm ... menurut laporan yang aku dengar, masih belum ada perubahan. Kenapa kamu tidak menemuinya saja? Siapa tahu akan segera sadar setelah mendengar suaramu, atau putrimu," saran pria itu bijak.


Helaan napas berat diembuskan oleh Jihan. Ia menyandarkan punggungnya, "Aku belum siap. Aku sedang mengumpulkan kekuatan untuk menemuinya. Suatu saat nanti, jika aku sudah menjadi orang yang sukses, mungkin aku baru berani bertemu dengannya."


"Kenapa? Bukankah sama saja?" cebik pria itu melipat kedua tangannya di dada.


"Tentu beda, Zero. Jika nanti aku bertemu dengannya ketika aku sudah sukses, setidaknya dia akan bangga padaku. Aku tidak hanya bisa merengek manja seperti dulu. Aku siap bersaing dengan para wanita yang menginginkannya. Kehadiran Erent melecut semangatku untuk berubah, from zero to hero. Namun, jika saat itu tiba dia justru sudah bersama wanita lain, setidaknya dia akan menyesal," papar Jihan tertawa miris namun dengan mata kembali berembun.


"Aku yakin kamu bisa menjadi wanita yang hebat. Setelah diasah lagi skill dan kemampuan kamu, akan menjadi karya yang luar biasa. Karena kamu bisa menuangkan setiap emosi dalam desain kamu. Satu tahun di Paris nanti, kamu juga akan belajar mendesain secara digital. So, manfaatkan kesempatan ini dengan baik. Selamat!" ujar Zero mengulurkan tangannya.


Jihan memicingkan mata, "Apa kamu sengaja?" selidiknya curiga.


Zero mengangkat kedua tangannya. "Kamu saja tidak memakai nama asli, gimana bisa aku tahu?" jawabnya mencebik kesal.


Lalu beralih menatap Bima yang membawakan beberapa dokumen para pemenang, untuk mengurus paspor, visa dan tempat tinggal selama di Paris. Yang segera membungkuk di hadapan keduanya.


"Hai, Jihan. Long time no see. Makin cantik aja!" puji Bima yang langsung mendapat pelototan tajam dari sang pemilik nama. "Weiit, santai, santai! Siapkan semua dokumen yang tertera. Besok saya antar ke kantor imigrasi," lanjutnya dalam mode serius.


"Aku harus membawa putriku," pinta Jihan.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2