The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 102. BERPIKIR DAN BERTINDAK CEPAT


__ADS_3

Mendengar pekikan Rico, Jihan mencoba mengatur napasnya. Meski kedua kakinya terasa lunglai tak bertenaga. "Ric?" panggil Jihan dengan napas tersengal.


"Kejar Tiger!" Suaranya memekik tertahan di tengah rasa sakit yang mendera.


"Tapi kamu harus ke rumah sakit! Kamu dan bayimu butuh penanganan!" tegas Rico mengabaikan rengekan Jihan.


"Ric, ayolah!" Kedua tangan Jihan mencengkeram gaunnya dengan kuat. Bulir keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya. Rambutnya pun sudah setengah basah.


Dilema kini mulai merambat di hati Rico. Ia menoleh ke belakang sekilas, rasa tak tega pun mencuat. Disaat seperti ini dukungan suami pasti sangat ia butuhkan. Akan tetapi, saat ini dia ikut andil pada keselamatan dua nyawa. Otaknya berpikir dengan cepat untuk mengambil keputusan terbaik.


"Kali ini aku tidak bisa mengabulkan permohonanmu. Pikirkan juga bayimu. Tuan akan segera diurus Bian dan yang lainnya," seru Rico fokus mengendarai mobil mencari rumah sakit terdekat.


"Aaaarrrgghh!" jerit Jihan membuang sesak di dadanya.


Sakit, sedih, khawatir menyeruak menjadi satu. Rasa sakit di perutnya mulai menjalar di seluruh tubuh. Air matanya tak henti-hentinya menetes. Kedua tangannya mengepal dengan sangat kuat. Ia menjerit dengan tangis yang terdengar memilukan.


Tubuh Rico bergetar hebat. Konsentrasinya pecah, dia tidak pernah berada di posisi seperti ini. Keringat pun mengguyur seluruh tubuhnya. Kemeja putihnya sudah sepenuhnya basah. Karena sistem ekskresinya bekerja dengan sangat cepat seiring pacuan jantungnya yang hampir terlepas dari dada.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Sementara itu, Zero tersadar setelah beberapa lama ia memindai ponselnya, menyusuri semua fakta mengenai orang tuanya. Jarinya berhenti bergulir saat sudah mencapai bukti terakhir yang dikirimkan oleh Tiger.


Pria itu tersentak saat melihat sekelilingnya sudah sepi, tidak ada siapa pun selain dia. Beberapa anak buahnya sudah ikut turun melawan para bawahan Tiger.


Zero menggerakkan bola matanya dengan cepat. Salivanya terasa teronggok di tenggorokan. Jantungnya bertalu dengan sangat kuat, saat mengingat rencananya mencelakai Tiger ketika rivalnya itu keluar dari tempat ini.


Pria itu beranjak dengan sangat cepat, berlari sekuat tenaga, bahkan melompat pada beberapa anak tangga agar sampai di lantai dasar dengan cepat.


"Hentikan semuanya! Hentikan! Jangan ada menyerang. Ikuti saya!" teriak Zero melenggang pergi dengan cepat.


Berulang kali ia menghubungi orang suruhannya, namun sama sekali tidak ada jawaban. Membuat pria itu mengerang frustasi sembari mengemudi dengan kecepatan tinggi. Menyusuri titik lokasi melalui nomor ponsel orang tersebut.


Sedangkan Bian yang masih mengatur napas kebingungan, kini mendapat telepon dari Rico. Terkejut dengan kabar mengenai Tiger, segera ia membawa semua anggota untuk menyusul Tiger yang sedang di ambang bahaya.


Ia menyalakan GPS yang ada di mobilnya, memacu kendaraan itu dengan kecepatan di atas rata-rata.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiger melenguh ketika aroma bahan bakar menyeruak indera penciumannya. Samar-samar ia juga mendengar suara seperti korsleting listrik.

__ADS_1


"Aarghh, sshhh!" desisnya memaksa kesadarannya agar kembali sepenuhnya.


Kedua netranya mengerjap dengan sangat pelan, pandangannya memburam. Beberapa kali menggeleng untuk memperjelas penglihatan.


Sepersekian detik, Tiger berhasil mengumpulkan kesadaran. Ia melepas sabuk pengaman dan berusaha mendobrak pintu di sebelahnya menggunakan kaki.


Darah sudah memenuhi wajah dan juga kepalanya. Air bag pengemudi tersangkut, tidak bisa mengembang dengan sempurna ketika mengalami benturan. Sehingga lukanya cukup parah.


Berulang kali ia menendang pintu, terasa sulit dibuka. Tiger menghirup oksigen dalam-dalam, yang mana aroma bahan bakar semakin menyeruak. Dia mengumpulkan seluruh tenaga di kakinya. "Haaarrggh!" teriaknya dengan sekali tendangan kuat hingga pintunya terlepas.


Napasnya terengah-engah. Ia berusaha melepaskan kaitan tubuh Erent pada kursi penumpang sebelahnya. Sedikit kesulitan, karena tubuhnya yang lemah sekaligus air bag yang mengembang sangat mengganggu.


"Erent, sadarlah! Cepat keluar!" teriak Tiger ketika menoleh ke belakang mobil, sudah terlihat percikan api kecil.


"Erent!" panggil Tiger lagi, namun perempuan itu bergeming. Masih menutup rapat kedua matanya.


Api mulai menjalar dengan cepat, membakar sebagian badan mobil. Tubuh Tiger sudah merasakan hawa panas. Berusaha tenang agar berhasil melepas seatbelt Erent meski api membesar.


"Tiger!"

__ADS_1


Bersambung~


Hayo siapa yang panggil? Gimana? Jantung masih aman bestiee?? Tiga bab nih... keluarin semua umpatan, amarah kalian pas baca ini di kolom komentar. kali aja semangat buat ngetik lagi. Biar nggak nanggung spot jantungnya 😂 love youu sekeboon bestieee 😘😘


__ADS_2