
Pandangan Rico mengarah pada Jihan yang mulai merebahkan tubuhnya di atas brankar. Perawat menutup tirai hingga tertutup dan menghilang dari matanya. Pria itu segera menggeser layar pada icon berwarna hijau dan menempelkan benda pipih itu pada daun telinganya.
"Rico! Kenapa Jihan tidak mengangkat ponselnya?" sentak Tiger bernada khawatir.
Ada notifikasi yang selalu masuk ke ponsel Tiger, setiap Jihan keluar dari rumah lebih dari 100 meter. Buru-buru ia melacak keberadaan sang istri, karena wanita itu tidak memberi kabar apa pun. Dan ia khawatir ketika titik lokasi keberadaannya di sebuah rumah sakit. Berkali-kali mencoba menghubungi istrinya itu, namun sama sekali tidak ada jawaban.
"Beliau sedang periksa kandungan, Tuan!" sahut Rico dengan nada sopan.
Terdiam selama beberapa saat, hanya terdengar dengusan napas lelaki itu dari seberang. Seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Tuan?" panggil Rico ketika tidak saling bertukar suara.
"Hmm! Bagaimana kondisinya?" tanya Tiger dengan nada datar. Meski sebenarnya dadanya berdegub dengan keras.
"Siapa yang Tuan tanyakan?" pancing Rico pura-pura tidak tahu. Seringai tengil kini nampak pada wajah pengawal itu.
"Jihan! Siapa lagi. Bukannya tugasmu menjaga Jihan?" geram Tiger di balik telepon.
Rico tertawa tanpa suara, lalu berdehem untuk menetralkan tawanya. "Baik, Tuan. Kesehatan Nyonya sangat baik. Apa Anda tidak menanyakan tentang bayinya?" goda Rico menahan diri agar tawanya tidak meledak.
__ADS_1
"Tidak! Rico, ada kabar duka. Ajak Jihan ke kantor polisi sekarang." Tiger menghela napas berat.
"Maaf, kabar duka apa, Tuan?" Rico menautkan alisnya.
"Ajak saja ke sini. Tidak usah banyak tanya!" seru Tiger mematikan sambungan teleponnya.
Beberapa waktu berlalu, Jihan sudah selesai dengan serangkaian test. Ia meminta pada sang dokter agar mengirim hasilnya ke alamat rumah, setelahnya dia segera pulang.
"Jihan, nggak pengen belanja atau jalan-jalan gitu?" tanya Rico saat hendak melajukan mobilnya.
"Lagi males ke mana-mana Rico. Pulang ajalah. Perasaanku nggak enak," cetus Jihan menyandarkan punggungnya sembari melempar pandangannya keluar.
"Tuan berpesan, agar kamu selalu mengangkat telepon, Ji."
"Halo," gumam Jihan setelah mengangkatnya.
"Huft! Jihan. Suka sekali kamu membuatku khawatir!" ucap Tiger sedikit frustasi.
"Kenapa? Bukankah kamu nggak pernah mau tahu tentang anakku? Ngapain khawatir?" ketus Jihan memutar bola matanya malas.
__ADS_1
Di ujung telepon, hati Tiger terasa mencelos. Napasnya berembus kasar sembari mengusap wajahnya. "Aku khawatir sama kamu," sahutnya dengan pelan menahan gemuruh dadanya yang berdegub hebat.
"Aku nggak apa-apa, Tiger. Makasih ya sudah perhatian!"
"Mmm ... hati-hati, aku tunggu kedatanganmu," balas Tiger langsung mematikan teleponnya.
Jihan mengerutkan keningnya, "Baru jam sebelas. Emang dia pulang?" gumamnya pelan namun masih terdengar jelas di telinga Rico.
Pria itu melirik dari pantulan kaca spion. Maju mundur ingin mengatakan pesan dari Tiger tadi. Apalagi melihat wajah Jihan yang tampak badmood.
"Eumm ... Jihan!" panggil Rico membuat gadis itu melirik.
"Tuan berpesan untuk mengantarmu ke kantor polisi sekarang," lanjut pengawal pribadinya itu.
DEG!
Sedari tadi perasaannya sudah tidak enak. Dan tiba-tiba diminta ke kantor polisi. Dalam hatinya bertanya-tanya. Dadanya pun semakin berdenyut nyeri.
"A ... ada apa, Ric?" tanya Jihan dengan terbata-bata.
__ADS_1
Bersambung~
Maap yaa dikit banget. Nanti kalau sempet lanjut lagi 😚 selamat lebaran bestie 🥰🤗