
Suasana menegangkan juga tercipta di ruangan besar sang CEO sebuah perusahaan besar di Jakarta. Jantung Jihan berdegub hebat ketika manik matanya bersirobok dengan mata elang pria yang duduk di hadapannya. Namun ia berusaha menutupinya.
'Kamu sudah pernah berada dalam situasi seperti ini. Tetap tenang dan jangan panik,' batin Jihan sembari menarik napas panjang.
"Tunjukkan identitas kamu!" seru pria bernama Zero menumpukan kedua lengannya di meja dengan tatapan mematikan.
Jihan bergeming, menggigit bibir bawahnya. Otaknya sedang berusaha untuk bekerja dengan cepat.
"Hahaha! Jangan coba-coba membohongi saya. Atau kupenggal kepalamu!" tegas Zero disertai tawa menggelegar.
Tak hanya Jihan, Bima pun tersentak kaget. Karena atasannya saat ini sedang berada dalam mode marah. Matanya mengerjap dengan cepat. Dalam hatinya bertanya-tanya mungkinkah dia sedang melakukan kesalahan.
Bima menelan salivanya yang terasa sangat berat. Kepalanya bergerak dengan sangat pelan untuk melihat Jihan. Namun raut wajah cantik yang ia kagumi itu, sama sekali tak nampak kepanikan.
__ADS_1
Kini pandangan Zero beralih pada asistennya. "Bima! Kenapa kamu bodoh dan teledor sekali!" berang Zero dengan raut angkara murka.
'Matilah aku!' gumam Bima, sekujur tubuhnya menegang.
Zero mendecih, ia beranjak dari duduknya dan berjalan dengan langkah tegas hingga berhenti tepat di hadapan Jihan. Sorot amarah memancar dari kedua mata tajamnya.
"Ma ... maafkan saya, Tuan. Tapi malam itu, saya berusaha menghubungi Nona Valencia berulang kali, namun tidak ada jawaban. Dan, tiba-tiba Nona ini berada di dalam mobil saya, lalu ...."
"Cukup!" bentak Zero memotong ucapan Bima dan menoleh padanya. "Dasar bodoh!" pekiknya menendang perut Bima hingga pria itu terjengkang.
Jihan terkejut, ia merasa bersalah dengan pria itu. Air matanya berjatuhan tanpa diminta, meski tubuhnya masih berdiri dengan tegap. Bagaimanapun Bima telah menyelamatkannya dari kejaran orang-orang yang tidak ingin ia temui lagi.
'Sekalipun ini hari terakhirku, aku pasrah. Asalkan bisa terus bersama anakku,' gumam Jihan dalam hati.
__ADS_1
Perempuan itu berlutut di hadapan Zero, kepalanya menunduk dalam. "Maafkan saya, Tuan. Saya sama sekali tidak bermaksud untuk membohongi Anda. Tapi saya sedang lari dari kejaran seseorang, demi keselamatan saya. Tidak sengaja masuk ke dalam mobil Tuan Bima hingga akhirnya saya bisa selamat sampai sekarang. Sekali lagi, maaf, Tuan," akunya pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh lelaki di hadapannya.
Seringai dingin menguar dari wajah pria itu, menaikkan dagu Jihan dan menggerakkan kepalanya, meniliti setiap detail wajah Jihan. "Hmmm ... alasan yang cukup menyentuh. Tapi saya rasa, wajahmu cukup menjual. Jadi, jangan khawatir. Saya tidak akan memenggal kepala cantik ini!" ucapnya menepuk-nepuk pipi Jihan sembari tertawa terbahak-bahak.
Bima beranjak bangun sembari memegangi perutnya yang masih terasa nyeri. Ia sama sekali tidak berani mengangkat pandangannya.
"Sekali lagi, maaf jika saya lancang, Tuan!" ucap Jihan menelan salivanya. Tatapannya biasa saja dan itu membuat Zero menaikkan sebelah alisnya. Ia bingung kenapa tidak ada sorot ketakutan dari wajah cantik itu.
"Menarik!" gumam Zero tersenyum sinis.
Zero menjambak rambut Jihan hingga kepalanya terdongak. "Kamu harus membayar kelancangan kamu!" desis pria itu membelai sebelah pipi Jihan.
"Saya siap dengan semua konsekuensinya. Jika Anda ingin menyakiti saya, saya akan menerimanya. Karena sebelumnya saya sudah terbiasa dengan iblis berwujud manusia. Jika Anda ingin saya membayar dengan tubuh ini, maaf, tidak bisa karena saya tengah berbadan dua. Anda bisa memberikan pekerjaan pada saya tanpa gaji jika memang Anda merasa dirugikan," papar Jihan dengan tegas dan sejujur-jujurnya.
__ADS_1
Bersambung~