
Rico melenggang santai melalui setiap lorong rumah sakit, dengan sebuah koper kecil berisi pakaian Jihan dan Cheryl yang sudah disiapkan oleh asisten rumah tangga.
Terkejut ketika membuka ruangan Tiger ada sesosok wanita asing duduk di sana. "Heh! Siapa kamu?!" seru Rico memicingkan mata, melebarkan langkah kakinya agar lekas mengikis jarak di antara mereka. Pria itu melepas aura dingin yang seketika membuat tubuh Erent meremang.
"A ... aku," Erent menelan salivanya gugup dengan jantung bagai lari marathon.
"Siapa?!" teriak Rico tanpa mempedulikan keberadaannya saat ini.
Erent memejamkan mata karena terkejut dengan pekikan Rico. Sejak tahu bahwa Tiger adalah ketua mafia, dia sudah mengira akan bertemu dengan orang-orang seperti apa. "Aku tunangannya Tiger," sahut Erent dengan suara pelan, memberanikan diri menatap manik mata Rico yang begitu tajam.
"Kamu pikir aku percaya?! Cepat katakan di mana perempuan yang ada di sini tadi!" tegas Rico berkacak pinggang.
"Aku serius. Jika tidak percaya, silakan tanyakan sama Om Milano, atau Bian, asisten pribadi Tiger," sanggah Erent dengan percaya diri.
"Lalu di mana wanita yang di sini tadi?" seru Rico menahan amarah yang membuncah. Ia cukup tahu bagaimana perangai Jihan. Dia berharap dugaannya salah.
"Aku tidak tahu. Dia keluar bahkan sebelum mengucapkan siapa namanya," sahut Erent bersuara pelan namun masih terdengar jelas di telinga Rico.
__ADS_1
"Shittt!" umpatnya geram, lalu meraih ponsel dengan kasar dan segera menyambungkannya pada Bian.
Tatapan elang pria itu masih mengarah pada Erent, yang tentu saja membuat wanita itu menundukkan kepala dalam. Cukup lama dia menunggu hingga hampir berada di akhir nada sambung, baru ada jawaban.
"Bian! Cepat datang ke rumah sakit sekarang juga. Ini mengenai tuan dan nyonya! Penting!" seru Rico berlari keluar ruangan.
Rico menyusuri setiap lorong dengan terus berlari. Tujuannya ruang neonatal, berharap Jihan bersama Cheryl masih berada di sana. Namun matanya tidak menemukan wanita yang ia cari beserta bayinya. Bahkan inkubator yang semula ditempati Cheryl sudah dibereskan.
Napas Rico menderu dengan sangat kasar. Ia berlari lagi menuju parkiran. Di sana dia bertemu dengan Bian yang baru saja datang dengan tergesa-gesa. Milano juga tampak panik baru keluar dari mobil.
"Bian!" teriak Rico saat pria itu hendak melenggang.
"Apa yang terjadi?" seru Milano mengerutkan dahinya.
"Tuan, di dalam sana ada wanita yang mengaku tunangan Tuan Tiger. Dan Nyonya tidak ada di ruangan. Saya khawatir ...."
Belum sempat Rico melanjutkan ucapannya, Milano dan Bian segera berlarian menuju ruangan Tiger tanpa berucap apa pun. Rico pun menjadi bingung dan akhirnya ia turut menyusul derap langkah kaki mereka berdua.
__ADS_1
"Erent!" panggil Milano dengan napas terengah-engah setelah membuka pintu dengan kasar. Kedua alisnya saling bertaut, saat memindai tubuh wanita itu yang penuh luka-luka.
Wanita itu beranjak berdiri, menyunggingkan senyum haru ketika bertemu kembali calon mertuanya.
"Om!" panggil Erent berjalan dengan terpincang.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Milano menatapnya serius. Begitupun Bian dan Rico, menatap wanita itu tanpa berkedip.
Erent pun menceritakan detail kejadian yang ia alami, penculikan, penyekapan, ancaman hingga berakhir pada kecelakaan yang dialaminya saat bersama Tiger.
Erent pun menceritakan identitas tersembunyi Tiger. Sontak saja membuat seisi ruangan terkejut, kecuali Bian yang memang sudah mengetahuinya.
Milano membeku lalu beralih menatap putranya yang terbaring lemah di atas ranjang. Tubuhnya terhuyung, segera ditopang oleh Bian dan membawanya duduk. Pria paruh baya itu sama sekali tidak pernah menyangka Tiger terjerumus dalam dunia hitam.
"Erent! Atas nama Tiger, Om benar-benar minta maaf. Karenanya kamu harus terlibat dan menderita selama ini. Padahal kami sempat berpikir kamu meninggalkannya tanpa alasan." Milano membuka suara setelah berhasil menguasai perasaannya yang antah berantah.
Kini pandangannya kembali beralih pada perempuan itu. "Tapi, saat ini Tiger sudah menikah. Bahkan mereka sudah memiliki anak," lanjutnya lagi.
__ADS_1
Suara Milano bagai tombak yang langsung menancap pada jantung Erent hingga membuat napasnya tercekat. Gadis itu terkesiap dengan mata yang terbuka lebar. Dunianya seolah terhenti seketika. Air matanya langsung berjatuhan tanpa dikomando. Tubuhnya terhuyung lemah hingga berpegangan kuat pada dinding di sampingnya.
Bersambung~