The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 89. PERSIAPAN


__ADS_3

Tepat pukul 11 malam, Tiger mendarat di kota Palembang. Detik itu juga, Dylan langsung melesat ke bandara untuk menjemput tuannya. Pria itu tidak mengira, bahwa Tiger akan datang. Karena pada meeting sebelumnya, ia mengatakan akan memantau saja.


"Selamat datang, Tuan!" sapa Dylan membungkuk hormat.


"Hmm!" Tiger hanya berdehem tanpa membuka mulutnya.


Ia melangkah tegas masuk ke mobil yang sudah dibukakan oleh Dylan. Setelahnya, Dylan berlari dan duduk di balik kemudi. Tanpa berbicara lagi, Dylan langsung menginjak pedal gas, melajukan dengan kecepatan tinggi menuju markas besar Black Stone.


Sepanjang perjalanan pun, Tiger hanya diam tak bersuara. Pandangannya terlempar keluar jendela, menatap jajaran lampu jalan yang memendarkan remang cahaya.


Tak berapa lama, mobil sudah berhenti di pelataran. Tanpa menunggu lagi, Tiger segera turun dan masuk ke markasnya. Setelah melalui beberapa kali sistem keamanan, ia melangkah panjang, tegas dan kuat.


Di dalam, semua anggota sudah bersiap dengan tugasnya masing-masing. Tim IT sudah menghadap laptopnya masing-masing dan mulai bekerja untuk memantau setiap sudut lokasi sesuai pembagian. Yaitu Pelabuhan A sebagai manipulasi. Dan Pelabuhan X sebagai tempat transaksi sesungguhnya.


Tiger berdiri di belakang para bawahannya, menatap tajam setiap layar laptop mereka masing-masing. Dengan hentakan lincah jari jemari mereka di atas keyboard.


"Sudah ada tanda-tanda?" tanya Tiger mengejutkan mereka semua.


Gerakannya sempat terhenti, namun segera disentak oleh Tiger. "Fokus!" pekiknya membuat semuanya kembali bergerak.


Tiger tidak bisa berdiam diri di Jakarta, dia harus ikut turun ke lapangan untuk memastikan semua rencananya berjalan dengan lancar.


"Tuan! Posisi kapal satu kilometer lagi dari pelabuhan. Baik itu manipulasi maupun pengiriman barang yang sesungguhnya. Kami sengaja memperkirakan sampai di waktu yang sama," terang salah satu tim IT-nya.

__ADS_1


"Kami menemukan musuh mulai bergerak, Tuan. Namun baru beberapa saja yang tertangkap kamera pengawas," lanjut tim satunya.


"Bagus! Laporkan semuanya dengan detail." Tiger menepuk punggung pria itu yang kebetulan berada dalam jangkauannya. Ia menunduk sejenak untuk melihat gerakan musuhnya. Matanya menyipit sembari mengangguk.


Kemudian Tiger segera beralih pada Dylan yang bersiap dengan pengiriman barang. Pria itu tampak sedang memberikan instruksi. Tiger mengamatinya sejenak di belakang Dylan. Tidak salah ia percayakan kepemimpinan pada Dylan. Tegas, tanggung jawab, tepat sasaran dan tidak pernah mengeluh.


"Bagaimana? Sudah siap semuanya?" tambah Tiger setelah Dylan selesai menyampaikan instruksinya.


"Siap, sudah, Tuan!" teriak mereka serentak dengan posisi tegap lalu kembali ke posisi istirahat. Yakni, kaki melebar sejajar bahu, kedua tangan saling menggenggam di balik punggung. Dylan pun segera mundur sembari sedikit membungkuk. Memberikan tempat untuk sang boss.


"Perhatikan kemanan dan SOP pengiriman barang. Jangan sampai lengah, tingkatkan kewaspadaan. Alat komunikasi, alat pelindung diri dan senjata, pastikan berfungsi dengan baik," tegas Tiger mengamati satu per satu bawahannya itu.


"Siap! Kami sudah memeriksanya. Semua berfungsi dengan baik!" sahut mereka dengan lantang dan serentak.


Tampak, tim yang dipimpin oleh Grey sedang mempersiapkan senjata mereka masing-masing. Baik yang membawa senjata laras panjang, maupun sejenis dessert deagle.


"Grey!" panggil Tiger.


Pria muda dan tampan itu segera melompat dari atas meja, karena sedari tadi ia asyik duduk serampangan di meja, dengan beberapa senjata di tangannya. Grey berdiri tegap, menyembunyikan keterkejutannya.


"Berapa yang turun?" tanya Tiger.


"Sekitar lima puluh, Tuan. Masing-masing pelapis sepuluh orang," jawab Grey.

__ADS_1


"Perbanyak shipper di lini tengah. Penembak jarak jauh, kurangi saja agar tidak telalu mencolok," ucap Tiger berjalan mengitari para bawahan yang kini sudah bersiap dengan pakaian serba hitam dan senjata di tangan masing-masing.


"Baik, Tuan!" sahut Grey.


"Bagaimana dengan tim medis?" Tiger kembali berjalan ke depan setelah memindai seluruh kesiapan anak buahnya.


"Sudah stand by di lokasi, Tuan!" jawab Grey, dijawab anggukan oleh Tiger. Pria itu berjalan melaluinya. Grey segera menunduk.


"Berangkatlah sekarang jika sudah siap. Masukkan saya dalam daftar shipper jarak jauh. Saya akan menyusul!" tandasnya menoleh sedikit lalu kembali berjalan menuju ruangannya untuk bersiap.


Grey sempat tersentak, tidak menyangka bossnya akan turun langsung. Namun segera menarik kesadarannya dan memimpin anggota untuk berangkat menuju Pelabuhan A.


Derap langkah kaki serentak menggema di gedung tersebut. Lalu mereka menuju mobil masing-masing yang segera meninggalkan markas.


Sedangkan Tiger, kembali dalam mode devilnya. Dengan gerakan tegas, ia mengenakan jaket anti peluru, meraih dua deagle mematikan diselipkan pada pinggang dan juga sebilah pisau lipat yang selalu ia ikat di betisnya. Setelahnya memasang alat komunikasi di telinganya.


Selesai dengan persiapan matang, Tiger berdiri tegap. Tangannya meraih bingkai foto kecil di atas meja. Sebuah foto USG yang pernah ia curi dari istrinya.


"Baby, maaf tidak bisa menemanimu. Doakan papa ya," ucapnya meraba permukaan kaca benda persegi itu lalu menciumnya sangat lama. Hatinya menghangat setelahnya, senyum tipis terbit di bibirnya.


Tiger segera beranjak pergi menyusul para anak buahnya. Ponselnya tertinggal di saku jas yang ia lempar di kursi kebesarannya. Dia tak sadar, mengabaikan banyak sekali panggilan pada ponselnya tersebut.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2