The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 108. CHERYL ANASTASIA


__ADS_3

"Rico, aku mohon!" rengek Jihan lagi dengan suara seraknya, ketika tidak mendengar sahutan apa pun dari pria itu.


Rico menarik napasnya pelan, raut wajahnya nampak ragu. Rasa iba memang bergelayut di hatinya, tapi pekerjaannya pun menjadi terancam jika menurutinya. Sekali lagi, hati nuraninya tergerak, Rico tidak mungkin menambah beban untuk Jihan.


"Iya! Ayo, kembali ke ruanganmu!" titahnya mempersiapkan kursi roda untuk Jihan duduk.


"Mampir ke ruangan neonatal dulu ya. Aku mau lihat anakku," pinta Jihan yang segera diangguki patuh oleh Rico.


Sesampainya di depan ruang neonatal, ia bisa melihat banyak sekali bayi yang berada di dalam inkubator. Mereka hanya berdiri di depan ruangan, memperhatikan satu per satu dari balik dinding kaca tembus pandang, untuk mencari di mana bayinya.


"Ji, itu bayi kamu! Deretan ketiga dari kanan!" tunjuk Rico yang menemukannya terlebih dahulu. Ia bisa membaca jelas papan nama Jihan dan Tiger tersemat di sana.


Jihan yang pandangannya memburam karena kembali mengembun, kini segera beralih menatapnya. Tubuh kecil yang ditempel beberapa alat medis di sekujur tubuhnya, juga selang oksigen pada hidung kecilnya membuat Jihan kembali sesak.


Tangannya menjulur pada dinding kaca, merabanya seolah meraba permukaan kulit ringkih bayi nya. Bibirnya tersenyum meski air matanya terus berjatuhan.


"Cantik, mirip sekali dengan ayahnya. Sepertinya, rahim kamu cuma tempat penitipan aja," celetuk Rico dengan gurauan.


"Hmm," sahutnya mengangguk, membenarkan.

__ADS_1


"Kamu beri nama siapa?" tanya Rico yang setia berdiri di belakangnya. Turut menatap ke arah bayi kecil itu.


"Cheryl Anastasia," cetus Jihan dengan pelan tanpa berkedip.


Rico menyunggingkan senyum tipis. "Nama yang cantik. Ada artinya?" Pandangannya beralih pada wanita itu lagi.


"Mmm ... Cheryl itu dicintai. Anastasia, bangkit. Aku berharap dia menjadi anak yang dicintai semua orang dan akan membuatku bangkit," jelas Jihan sambil tersenyum, membalut semua luka dalam dirinya.


Lama sekali mereka berada di sana. Bayi mungil itu sama sekali tidak rewel. Seolah prihatin dengan kondisi orang tuanya. Ia tertidur sepanjang hari, bahkan sepanjang malam. Susu formula khusus bayi lahir prematur selalu diberikan tepat waktu.


Sudah satu jam lamanya, Rico memaksa Jihan untuk kembali ke ruangannya. Meski wanita itu tak ingin. Ia sendiri masih dalam pemulihan.


Satu bulan kemudian ....


Jihan sudah bisa lepas dari perawatan medis. Pemulihannya sangat cepat. Selain obat-obatan yang diberikan sangat bagus, semangatnya untuk sembuh begitu tinggi. Tujuannya jelas, agar selalu bisa merawat suaminya.


Setiap hari dia sendiri yang membersihkan tubuh suaminya. Seperti pagi ini, dengan telaten dan lembut Jihan menyeka semua permukaan kulit Tiger. Meninggalkan bagian-bagian tertentu yang tidak bisa dijangkau.


"Pagi, Sayang. Anak kita pinter banget loh, sama sekali nggak rewel. Kata dokter spesialis, kondisinya juga mulai ada peningkatan. Kamu juga harus ada peningkatan dong. Masa nggak mau gendong Cheryl?" gumam Jihan setelah mencium kening suaminya.

__ADS_1


Ia selalu berkisah tentang perkembangan anaknya, menceritakan apa yang ia rasakan, namun sama sekali tidak mengeluh. Berusaha tegar walau hati menjerit. Ia akan terus mengingat janji yang sudah tertanam dalam benaknya.


"Maaf ya, aku harus kasih nama. Nggak berunding dulu sama kamu, aku yakin kamu pasti suka nama itu. Dia lucu banget, cantik, manik matanya indah seperti kamu, bibirnya, mungkin Cheryl adalah kamu versi bayi. Ah, sepertinya rahimku hanya tempat penitipan," lanjut Jihan lagi sembari terkekeh.


Netranya menangkap bulir bening yang mengalir dari kedua sudut mata Tiger. Seolah merespon setiap ucapannya. "Jangan nangis, Sayang. Kami baik-baik aja. Kami hanya berharap kamu cepet pulih. Jangan sedih ya, banyak yang jagain kami," sambung Jihan menahan suara agar tetap stabil. Kemudian memeluknya, menyatukan pipinya dengan pipi Tiger.


Beberapa saat kemudian, Jihan melepasnya. Menyeka sisa-sisa air mata di pelipis Tiger lalu menangkup kedua pipinya. "Aku mau lihat Cheryl dulu ya. Sebentar lagi ada kunjungan dokter spesialis anak," pamit Jihan mencium kening, kedua pipi dan bibir Tiger.


Jihan beralih menuju ruang neonatal. Langkahnya pelan dan penuh pengharapan. Sampai di sana, ia langsung masuk ke ruangan. Wajahnya berbinar saat putri kecilnya menggerakkan seluruh anggota tubuhnya dengan lucu. Namun sama sekali tidak menangis.


"Cheryl!" panggil Jihan di luar kotak yang mengurung putrinya. "Sehat ya, Sayang. Nanti kita ketemu papa," lanjutnya.


Bayi mungil itu menghisap jari-jari kecilnya. Gerakannya lincah meski tubuhnya sangat kecil. Namun sudah ada perubahan signifikan dibandingkan saat ia lahir.


Dan benar saja, usai menanti serangkaian pemeriksaan dokter. Bayi itu sudah dinyatakan sehat tanpa harus menggunakan bantuan alat-alat medis lagi. Cheryl sudah siap untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar.


Betapa bahagianya Jihan, setelah dipakaikan gaun bayi yang menggemaskan, kini bayi mungil itu berada dalam dekapannya. Untuk pertama kalinya. Tanpa sadar ia menangis haru, memeluk putri kecilnya. "Selamat datang di dunia, putriku. Cheryl Anastasia," gumamnya mencium pipi bayi itu dengan lembut.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2