The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 125. GRAND OPENING


__ADS_3

Pengawal yang setia mendampinginya itu segera berlari mendekat. Benar saja, Tiger mencengkeram sangat kuat jemari Jihan. Bahkan sampai kulit putihnya memerah. Jihan tidak mempermasalahkan sakit yang ia rasakan, hanya panik bercampur bahagia.


"Susah dilepas!" ujar Rico tidak bisa melepas tautan tangan itu.


Beberapa dokter segera datang setelah melihat kejanggalan dari kamera pengawas. Mereka mencoba memberi rangsangan lain, namun tidak ada respon. Hingga setelah beberapa menit, tangan mereka terlepas.


Napas Jihan tersengal-sengal, memejamkan mata untuk mengatur jantungnya yang serasa habis lari marathon. Pikirannya mendadak blank.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rico menyodorkan segelas air putih.


Jihan menerimanya, lalu meneguk sedikit demi sedikit dengan pandangan tak lepas dari sang suami yang masih mendapat penanganan. Tampak beberapa dokter itu menggelengkan kepala.


"Aku yakin dia sadar," ucap Jihan percaya diri.


"Sabar, dokter masih belum berani menyatakan kesadarannya kembali. Ayo, nanti kamu terlambat."


"Tapi Tiger...." Jihan ragu meninggalkannya.


"Kalau ada apa-apa pasti nanti akan dikabari," ujar Rico menenangkan.


Dengan langkah mundur, Jihan berat meninggalkan ruangan. 'Aku akan segera kembali,' gumamnya dalam hati. Lalu berbalik dan melangkah panjang menyusul Rico.


Sepanjang perjalanan menuju bandara, bahkan sampai dalam penerbangan, pikiran dan hati Jihan masih tertinggal di Palembang bersama suaminya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tamu undangan kini memenuhi sebuah gedung berlantai tiga, terletak di kawasan pusat kota Jakarta. Jihan masih berada di ruang make up, tengah dirias oleh MUA ternama. Wajahnya baru saja selesai, kini beralih merias rambut panjangnya.


Rico masih stay di sana. Siap siaga ketika Jihan ingin meminta bantuan. Karena Tiger masih banyak yang memantau dan menjaga.

__ADS_1


"Mam ... ma." Cheryl baru saja datang bersama pengasuhnya. Mereka hanya sempat bertemu sebentar tadi siang.


"Hai, Sayang! Sini!" Jihan meraihnya dan mendudukkan di pangkuan.


Bayi itu tertawa riang. Memainkan tangan mungilnya mencubit kedua pipi Jihan. Melebarkan tawa hingga kelihatan giginya yang baru tumbuh 4 buah.


"Kangen ya? Kiss dulu dong," ujarnya menyodorkan pipi kanannya.


Cheryl pun segera menghantam pipi Jihan dengan bibirnya yang basah. Lalu memeluk leher jenjangnya sembari tertawa memekik. Jihan membalas pelukan itu tak kalah eratnya. Tangannya mengusap kepala dan punggung Cheryl dengan sayang.


"Jihan! Acara akan segera dimulai!" seru Bima yang mengurus acara itu sepenuhnya.


"Kamu?!" sentak Rico ketika bertemu dengan Bima. Ia baru tahu mereka saling berhubungan. Jihan memang belum mengatakan perusahaan mana yang memberikan full support pada bakatnya itu.


"Sorry, saya sibuk!" Bima melenggang pergi.


Setelah selesai dengan semua riasannya, Jihan beranjak. Tim penata busana segera merapikan gaunnya. Hitam legam sepanjang lutut, dengan aksen gold berbentuk bunga mengitari ujung gaunnya. Simpel namun tetap terlihat elegan.


"Tidak apa, Mbak. Pasti dia kangen. Nanti kalau rewel aja ya, langsung ambil," titah Jihan pelan segera diangguki oleh gadis berusia 20 tahun itu.


Jihan segera duduk di kursi VIP, berjajar dengan manajemen Perusahaan Anderson. Menunggu selama beberapa saat, pembawa acara menuntaskan semua ucapannya.


Kali ini juga disiarkan di salah satu stasiun televisi swasta yang bekerja sama dengan Perusahaan Anderson. Berbeda dengan kompetisi yang tidak ditayangkan dimanapun.


Tiba saatnya Jihan mengucapkan sepatah dua patah kata sebagai owner butik yang cukup besar itu. Cheryl masih nyaman dalam gendongannya.


Tak banyak kata, namun cukup membungkam orang-orang yang pernah menghinanya, mencemooh di masa lalu. Bahkan ketika ia belum menjadi apa-apa.


Di mana ia mengerjakannya ketika masih berperang batin karena harus menjauh dari suaminya untuk sementara waktu. Menjernihkan pikiran dan menyembuhkan hati bersama putrinya seorang diri dari semua guncangan keras dalam hidupnya.

__ADS_1


Seuntai ucapan terima kasih pun bergulir untuk Perusahaan Anderson, yang menjadi wadah untuk menyalurkan bakat bahkan memberikan fasilitas untuk memperindah karya-karyanya.


Tepuk tangan para tamu bergemuruh dengan keras, ketika Jihan mengakhiri sambutannya. Cukup menginspirasi orang-orang di luar sana, bahwasannya tidak ada yang tidak mungkin selagi terus mau berusaha dan pantang menyerah dalam kondisi apa pun.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jihan! Kita harus kembali sekarang juga," bisik Rico ketika Jihan sudah kembali duduk.


"Apa terjadi sesuatu dengan Tiger?" tanya Jihan dengan hati berdebar.


Rico hanya diam saja, yang seketika membuat wanita itu ketakutan. Jihan beranjak cepat dan meminta pengasuhnya untuk membawa Cheryl kembali beristirahat. Cuaca dingin sangat tidak baik untuk perjalanan panjang bayi itu.


"Zero, maaf. Aku harus segera pergi. Tolong tangani sisa acara!" pamitnya sedikit panik.


Zero mengangguk meskipun ada sesuatu yang ingin ia tanyakan. Namun Jihan keburu melesat pergi bersama Rico.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Menjelang pagi, mereka baru tiba di markas. Jihan berlari setelah pintu utama terbuka. Bahkan terjatuh karena kakinya terkilir, heels sepanjang 7 cm, patah.


"Aaaww!" desisnya.


"Hati-hati, Ji!" ucap Rico membantunya berdiri.


Jihan melepas kedua heelsnya, berjalan terseok menuju lift yang sudah dibuka oleh Rico. Tak sabar rasanya, ia berdiri tak tenang dalam lift itu. Ketika sudah terbuka, buru-buru Jihan berlari masuk ke ruangan Tiger tanpa mensterilkan tubuhnya.


Napasnya terengah-engah. Bibirnya tersenyum lebar dan kebahagiaannya membuncah ketika netranya menangkap sepasang manik abu Tiger sudah terbuka.


"Tiger!" serunya dengan tangis yang pecah. Berlari mengabaikan sakit di kakinya dan segera menghambur ke pelukan pria itu.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2