
"Sayang! Gimana ceritanya baru 8 minggu udah tahu jenis kelaminnya?! Ukurannya aja masih segini!" seru Jihan menggoyangkan lengan suaminya sembari menyodorkan ujung telunjuknya.
Sedangkan Dokter bersama asistennya menyembunyikan senyum dan pura-pura tidak melihatnya.
Tiger mengusap wajahnya dengan kasar. "Hah?! Belum kelihatan ya," ucapnya tersenyum kaku.
Perasaan yang campur aduk sedikit menghambat kinerja otaknya. Tiger langsung memeluk erat istrinya, ketika Jihan selesai pemeriksaan dan beranjak dari pembaringan. Dokter juga sudah mencetak sebuah gambar hasil USG, membawanya ke meja dan menulis detail kondisi janin tersebut.
"Aku bakal punya anak lagi! Cheryl bakal jadi kakak!" ucapnya menyembunyikan wajah di ceruk leher Jihan. Tangannya sampai gemetar ketika memeluk istrinya itu. Terharu sekaligus bahagia.
"Iya," sahut Jihan mengusap lembut punggung kekar Tiger.
Beberapa waktu berlalu, Tiger meregangkan pelukan, mencium wajah Jihan bertubi-tubi, "Terima kasih, ibu dari anak-anakku!"
Jihan lalu dipindahkan ke ruang rawat inap VIP. Meskipun begitu, Tiger melarang Cheryl datang menjenguknya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan putrinya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua hari kemudian, Jihan sudah diperbolehkan pulang. Kehamilannya kali ini sangat berbeda dengan kehamilan pertamanya.
Tubuhnya benar-benar lemah, masih sering mengalami mual muntah. Tiger sampai memarahi dokter dan beberapa perawat karena dianggap tidak memberi istrinya obat terbaik. Dia tidak menerima penjelasan apa pun dari dokter.
Hanya Jihan yang bisa meredamnya. Menjelaskan pada sang suami, bahwa ini adalah hal yang wajar. Karena sebelumnya Jihan banyak belajar mengenai kehamilan ketika mengandung Cheryl.
"Mama!" teriak Cheryl berlari kecil menghambur ke pelukan mamanya. "Cheryl kangen mama!" lanjutnya lagi menguatkan pelukannya.
__ADS_1
Jihan berjongkok menatap wajah mungil yang sangat menggemaskan, "Mama juga kangen sama Cheryl. Cheryl tahu nggak? Sebentar lagi Cheryl akan jadi kakak," jelas Jihan membelai rambut keriting anak gadisnya.
Wajah polos Cheryl terlihat kebingungan. Tidak dapat mencerna ucapan sang mama. Melihat itu, Tiger turut mensejajarkan tingginya dengan putrinya. "Cheryl akan punya adik," ucap pria itu.
Cheryl terkejut, manik mata indahnya tampak membelalak. Tak lama kemudian, Cheryl bertepuk tangan kegirangan. "Yeeeyy! Cheryl mau punya adek! Yeeeaay!" teriaknya mengepalkan kedua tangan dan mengangkatnya ke atas.
Jihan tertawa melihat kebahagiaan Cheryl. Sedangkan Tiger segera meraih tubuh Cheryl dan menggendongnya. "Jadi, mulai sekarang, Kakak harus bantu jagain adek di perut mama ya. Mama nggak boleh kecapean, Cheryl jangan minta gendong mama dulu, ok girl?" terang Tiger mencium pipi gembil putrinya.
"Siap, Papa!" seru gadis cilik itu.
"Good girl!" Tiger lalu meraih pinggang Jihan dan mengantarnya ke kamar. "Ayo, Sayang. Kamu harus istirahat," ajaknya.
Selama satu minggu penuh, Tiger meninggalkan pekerjaannya untuk menjaga Jihan. Dia tidak bisa meninggalkan istrinya dalam kondisi mengkhawatirkan. Apalagi perutnya menolak segala macam makanan yang masuk. Sampai-sampai, Jihan harus diinfus di rumah agar mendapat asupan vitamin dan gizi.
Sejak kehamilan Jihan yang membutuhkan perawatan ekstra, Cheryl memaksa tidur di kamar lain bersama pengasuhnya. Ia takut ketika melihat mamanya kesakitan, apalagi melihatnya diinfus di kamar seperti itu. Sesekali ia datang ke kamar bersama Tiger, untuk memeluk mama dan calon adiknya.
"Sayang, minggu depan Leon mau ngadain resepsi." Jihan memberi tahu Tiger usai Khansa mengiriminya pesan.
"Tapi kamu nggak mungkin datang, Sayang.
Kondisimu saja seperti ini," elak Tiger menyusulnya ke atas ranjang setelah bergelut dengan pekerjaannya malam itu.
"Iya, aku juga udah bilang. Tapi dia minta agar Cheryl datang ke sana. Katanya Sasa mau kasih kejutan buat Cheryl." Jihan meletakkan ponselnya sedikit jauh dari jangkauan. Radiasi ponsel sangat berbahaya untuk janin.
__ADS_1
Tiger membantu Jihan merebahkan tubuhnya hingga dalam posisi nyaman. Kemudian ia mendekapnya dengan erat seperti biasa. "Tapi aku nggak bisa ninggalin kamu."
"Katanya sih Leon yang akan menjemputnya ke sini," sambung Jihan menatap lekat suaminya.
Tiger mengernyitkan alisnya, "Kamu serius?" tanyanya tak percaya.
"Heem!" Jihan mengangguk pelan.
"Yaudah, besok kita kasih tahu Cheryl. Dia pasti seneng banget ketemu Leon dan Khansa. Biar aku urus hadiah untuk pernikahan mereka. Ya walaupun sangat terlambat," jawab Tiger terkekeh memainkan rambut istrinya.
"Udah lima tahun pernikahan mereka, baru kasih hadiah," Jihan pun mengurai tawa. Namun tak lama kemudian keningnya mengernyit karena pusing yang menderanya.
Wajah Jihan masih sangat pucat. Tiger merasa tidak tega menatapnya. Ia mendaratkan ciuman di kening Jihan. Ibu jarinya menggesek pipi mulus Jihan yang mulai tirus. "Istirahat, Sayang!" ucap Tiger pelan.
"Maaf ya, udah lama kamu nggak bisa mendapat hak kamu," ucap Jihan merasa bersalah.
"Ssstt! Jangan dipikirkan! Yang penting kamu dan anak kita sehat! Ayo tidur!" tutur Tiger menarik Jihan ke dalam dekapan dadanya.
Jihan pun melingkarkan tangannya yang masih tertancap selang infus pada pinggang suaminya. Menghirup dalam-dalam aroma sang suami yang bagaikan aromaterapi untuk menenangkan pikirannya.
Bersambung~
🗣️ Lama kali thor upnya...
😌 Iye sabar, sembari kegiatan di RL, aku juga lagi siapin novel buat Cheryl.
__ADS_1
🗣️ weeh kapan tuh? menguras emosi lagi nggak?
😌 Enggak kok... amaan buat jantung. Stay tune aja, jan hapus favorit nanti dikasih info 💜💜