
"Tidak bisa! Kamu tetap tanggung jawabku!" tegas Rico menatap Jihan. Tidak ada raut bercanda sedikitpun yang terpancar dari wanita itu. Juga tidak ada senyum yang biasanya ditunjukkan wanita itu.
Jihan menghela napas panjang, "Hidupku sekarang cuma untuk anakku! Aku hanya ingin membuka lembaran baru bersamanya, tanpa ada yang mengganggu," gumamnya mengerjap beberapa kali sampai bulir bening menetes dari matanya.
"Hei! Kau ingin membuat Tuan Tiger gila? Dia sudah mencintaimu!" ketus Rico sedikit menunduk hingga saling bertatapan dengan wanita itu.
Senyum getir kini terulas di bibir Jihan. "Rico please! Jangan bicara cinta di sini!" sentak Jihan bersuara tinggi. Matanya yang memerah menatap Rico dengan lelehan air mata. "Keselamatan anakku lebih penting dari apa pun saat ini. Aku juga nggak mau menyerahkannya pada siapapun! Dia hidupku, Rico!" jerit Jihan semakin terisak.
"Tidak akan ada yang mengambilnya darimu, Jihan."
"Khansa akan mengambilnya, apalagi Tiger tidak menginginkannya," elak Jihan menunduk mengeratkan pelukan pada perutnya.
Rico mengembuskan napas kasar. Ia bingung bagaimana cara untuk menyadarkan Jihan yang keras kepala itu. 'Haruskah kubenturkan kepalamu dulu, Jihan!' geramnya dalam hati.
"Kamu sudah melakukan test DNA. Cepat atau lambat, Tuan pasti akan menerimanya," ucap Rico setelah beberapa saat.
Jihan tertawa sumbang, tangannya menyeka air mata yang berjatuhan. "Masih teringat jelas di kepalaku bagaimana perlakuannya dulu. Tidak menutup kemungkinan, dia akan kembali melakukannya. Aku takut dia akan menyakiti anakku."
"Setiap orang bisa berubah! Lalu bagaimana jika Tuan tidak ada hubungannya dengan kematian ibumu?" sanggah Rico.
Wanita itu beralih masuk ke kamar. Mengambil koper kecil yang ternyata sudah disiapkan sebelumnya. "Aku tidak peduli. Sudahlah! Aku lelah. Bukankah kamu lebih tahu bagaimana sifat tuanmu itu?" ujarnya tanpa menoleh.
Rico mendengkus kesal. Ia turut melangkah mengekori Jihan. "Kamu lupa? Aku bahkan baru beberapa bulan bekerja dengannya. Itupun lebih banyak menjagamu." Rico berusaha menahan nada bicaranya agar tidak berubah tinggi, karena kekesalannya mulai memuncak.
"Yasudah pulang saja sana. Kembali sama tuanmu!" cetus Jihan mengambil dokumen-dokumen pribadinya yang untungnya masih tersimpan rapi di rumah itu, bukan di rumah Tiger.
Rico membelalakan kedua matanya dengan lebar. Ia melangkah panjang hingga berdiri di hadapan Jihan. Wajahnya sudah sepenuhnya memerah karena menahan emosi. Dua jari tangannya menjulur pada kening Jihan dan menekannya, hingga kepala wanita itu sedikit terpundur.
"Kau bodoh apa gimana, hah? Kamu pikir nyawaku ini ada berapa? Sama saja kamu menyuruhku bunuh diri. Ayolah Jihan, jangan kekanak-kanakan. Semua bisa dibicarakan baik-baik!" geram lelaki itu.
Decakan halus terdengar dari mulut Jihan. Ia menatap jengkel lelaki yang selalu menemaninya selama dua bulan lebih itu. "Ya! Tapi tidak untuk saat ini. Aku ingin melepas semua beban dalam pikiranku dulu. Ini yang terbaik. Kau tau sendiri 'kan, aku tidak boleh terlalu stress."
__ADS_1
"Dan kamu akan membuat Tuan stress, Jihan!"
"Aku yakin dia akan baik-baik saja," jawab Jihan menghentikan gerakannya sejenak. Ya, tentu saja yakin. Karena beberapa hari tanpanya, Tiger tidak menghubunginya, artinya baik-baik saja. Jihan menghela napas panjang, ia pun harus baik-baik saja tanpa pria itu.
"Ya Tuhan! Kenapa aku ketemu sama manusia kepala batu macam kamu!" Rico menarik rambut pendeknya yang sudah rapi, hingga berantakan.
Jihan menoleh, melemparkan lirikan tajam sembari mengerutkan bibirnya. Dengan gerakan kasar, Jihan memasukkan semua keperluannya ke dalam tas lalu menarik kopernya berjalan keluar.
Ia hanya berpamitan pada Bibi Fida. Karena memang Jihan hanya dekat dengannya. Ia berkata terus mengingat ibunya jika di rumah tersebut. Sengaja Jihan tidak berpamitan langsung pada Fauzan, ayah tirinya. Sampai sekarang, dia masih merasa sungkan. Jihan juga menitipkan kartu kredit milik Tiger.
Mau tidak mau Rico menuruti wanita hamil itu. Bisa saja dia memaksa dan bersikap kasar, namun tidak mungkin dilakukan karena kondisinya yang sedang hamil juga tanggung jawab penuh untuk menjaganya, bukan menyakitinya.
Rico menarik lengan Jihan, memasukkannya ke dalam mobil. Tak lupa koper dan juga tasnya. Rico beralih duduk di kursi kemudi dan menjalankan kendaraan tersebut.
"Kamu yakin mau mengantarku?!" tanya Jihan dengan tatapan intimidasi.
"Hmmm! Mau ke mana?" Rico bertanya balik.
Rico menoleh sejenak, menatap lengan putih dan mulus milik perempuan itu. "Mau apa?" tanyanya kembali fokus pada jalan di hadapannya.
"Ck! Udah sini deh!" pintanya memaksa.
Rico mematikan ponselnya terlebih dahulu. Lalu menyerahkannya pada Jihan. Sudah cukup jauh mereka meninggalkan kediaman Isvara. Saat melalui sebuah jembatan, Jihan membuka jendelanya lebar-lebar. Memejamkan mata, menikmati desir angin yang berembus menerpa wajahnya.
Kemudian, wanita itu melemparkan ponsel milik Rico ke dalam sungai yang begitu luas dan dalam. Tanpa merasa bersalah dan berdosa, ia justru tertawa menyeringai sembari menepuk telapak tangannya.
"Jihan! Apa yang kamu lakukan?!" teriaknya panik menginjak pedal rem kuat-kuat hingga terdengar decitan yang memekakkan telinga.
Pria itu menoleh dengan rahang mengeras dan mata yang melotot tajam. Jihan tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya lalu mengangkat kedua jarinya.
"Haisshh, Jihan! Kamu!" geramnya menunjuk wanita itu lalu memukul setir mobilnya untuk meluapkan kekesalan.
__ADS_1
"Bukankah kamu kaya? Kecil beli ponsel kaya gitu! Ayo kita ke mall!" ajak Jihan menaik turunkan alisnya.
"Ya Tuhan! Bukan masalah harganya!"
"Maaf ya, aku benar-benar ingin sendiri, tanpa campur tangan tuanmu itu lagi."
Rico benar-benar frustasi. Ia mengacak-acak rambutnya, namun mencoba tenang dan tidak meluapkan emosinya. Ponselnya sudah menghilang ditelan kedalaman air sungai. Pria itu lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Hingga berhenti di sebuah mall besar.
Keduanya bergegas turun setelah mobil berhenti di parkiran. Tanpa banyak kata, mereka melangkah cepat menuju counter HP. Rico fokus memilih ponsel baru sehingga dia tidak sadar bahwa Jihan mengeluarkan ponsel pemberian Tiger dan menjualnya. Dia memilih android yang mana hasil penjualannya masih sisa puluhan juta.
'Ah, cukup ini untuk beberapa bulan ke depan. Ditambah tabunganku, cukup sampai aku melahirkan. Terima kasih suamiku, maafkan aku,' gumamnya dalam hati.
"Terima kasih, Mbak," ucap Jihan buru-buru memasukkan ponsel baru dan sisa penjualan ke dalam tas. Ia menoleh pada Rico yang sedang melakukan transaksi tanpa memperhatikannya.
Setelah beberapa lama, mereka segera meninggalkan mall tersebut dan melanjutkan perjalanan. Tidak ada suara di antara keduanya, hingga beberapa jam kemudian Jihan terlelap dalam tidurnya. Rico sudah keluar jauh dari kota Palembang.
"Ji, mau makan apa? Udah siang ini!" tanya Rico setelah sekian lama ia baru membuka suara.
"Ji, kamu nggak lapar?" tanyanya lagi.
Masih tak mendengar jawaban, Rico menoleh ke belakang. Ia menemukan wanita cantik itu masih menutup mata. Rico pun menepikan mobilnya. Ia segera membuka ponsel barunya, mendaftar dengan email baru agar tidak terlacak oleh Tiger.
Setelahnya itu, dia meraih sebuah kartu nama dari dompetnya. Menekan beberapa angka lalu menelepon seseorang. Ia keluar dari mobil, menutup pintu perlahan dan menyandarkan punggungnya pada pintu tersebut. Beberapa saat setelah menunggu nada tunggu, sebuah suara bariton menyahut.
"Siapa?"
"Tuan Leon, ini saya Rico. Nomor lama saya hilang. Saya hanya ingin melaporkan, saat ini Nyonya Jihan kabur dari rumah. Saya akan membawanya ke suatu tempat," lapor pengawal itu.
Bersambung~
Nah Lo, Ricooo... ternyata kamu!!???
__ADS_1
Maaf kalo ada typo ya bestiee... aku lagi bantuin emak bikin ketupat sama lepet,,😄 revisinya kalo udah sela yaa... makasih supportnyaa 😘😘