
"Nah, udah." Tiger beranjak berdiri, menatap sekilas SPG yang sedari tadi mendampingi mereka berdua. "Tolong bungkus semua sepatu yang dia coba tadi!"
Dalam hati perempuan muda itu tentu saja terbesit rasa iri, melihat bagaimana pria yang terlihat sangar itu meratukan wanitanya. "Baik, Tuan! Tunggu sebentar, kami akan menyiapkan semuanya," balas perempuan cantik berseragam merah maroon dengan make up yang sangat terang. Senyumnya merekah, namun tidak bisa membuat Tiger bertahan lama menatapnya.
"Mau apa lagi?" tanya Tiger kini beralih pada istrinya.
Jihan masih sedikit syok, ia menghela napas panjang lalu duduk di sebuah sofa tak jauh darinya. "Ini berlebihan Tiger," ucapnya pelan.
"Tidak! Katakan saja apa yang kamu inginkan," ujar lelaki itu mendaratkan bokongnya di sebelah Jihan. Wanita itu hanya menggelengkan kepala.
Usai menyantap makanan di salah satu foodcourt, Jihan meminta untuk pulang saja. Ia sudah sangat lelah. Napasnya mulai berembus pendek-pendek.
Tiger segera meminta beberapa karyawan untuk membantu membawakan belanjaannya ke depan. Sopir pun sudah diminta stanby di loby.
Jihan mengerucutkan bibirnya, karena langkah Tiger terlalu panjang untuk dia ikuti. Ia pun memilih berjalan santai saja, karena rasa lelah yang bergelayut di sekujur tubuhnya. "Rindu banget sama kasur," gumamnya menekan leher sembari menggerakkannya perlahan.
Tiger terkejut ketika tidak menemukan istrinya saat sampai di mobil. Dan saat berbalik, Jihan masih berada pada jarak yang cukup jauh. Tiger mendesah kasar sambil melihat jam di lengannya, pria itu terbiasa cekatan dalam menjalankan setiap aktivitasnya.
Lelaki itu pun kembali menyusul sang istri. Tanpa berbicara apa pun, meraup tubuh Jihan kedalam gendongannya. Jihan mendelik karena tiba-tiba tubuhnya melayang di udara. Ia melebarkan kedua mata sembari mencengkeram kuat bahu Tiger.
__ADS_1
"Tiger! Apa-apaan sih! Malu!" gumam Jihan menyembunyikan wajahnya di dada Tiger.
"Ngapain malu? Kamu nggak nyolong!" cetus Tiger tanpa ekspresi. Pandangannya lurus ke depan.
"Ih! Nggak gitu! Tapi ini depan umum, astaga!" sanggah Jihan lagi enggan mengangkat mukanya.
"Sudahlah, diam saja! Kamu lebih lambat dari pada siput!" balas Tiger, mendudukkan Jihan di kursi penumpang belakang.
Semua pengunjung menggelengkan kepala melihat kelakuan pasangan itu. Bahkan tak sedikit yang saling berbisik menggunjing mereka. Tiger sama sekali tidak mempedulikannya, segera duduk di sebelah Jihan.
"Kita lanjut ke mana, Tuan?" tanya sopirnya ketika selesai memasukkan semua belanjaan.
"Pulang!" jawabnya singkat.
"Tidurlah!" ucapnya mengusap bahu dan kepala Jihan.
Wanita itu menaikkan kedua kakinya, membalikkan badan hingga kini terlentang. Matanya langsung menangkap wajah tampan suaminya.
Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, tangannya terangkat untuk menyentuh pipi suaminya. Sentuhan itu membuat Tiger membeku, ia menelan salivanya menetralkan debaran jantung yang menggema dalam dada.
__ADS_1
"Terima kasih untuk hari ini, suamiku!" ucap Jihan mempercepat aliran darah dalam tubuh Tiger. Desirannya seolah menggelitik dalam hati, dihujani ribuan bunga.
Tiger meraih jemari lentik istrinya, mencium punggung dan telapak tangan perempuan itu. "Sama-sama!" jawabnya merapikan anak rambut Jihan. Wanita hamil itu pun menutup kelopak matanya perlahan.
Sedangkan Tiger, kini beralih menyentuh perut Jihan yang terbalut gaun yang membentuk lekuk tubuhnya. Lagi-lagi hatinya merasa sejuk diiringi debaran dada yang keras.
Tiga puluh menit berlalu, Jihan sudah pulas dalam tidurnya. Tiger tidak tega membangunkannya. Pelayan membukakan pintu mobil, ada pula yang langsung berlari membukakan pintu kamar saat tahu Nyonya mudanya terlelap. Tiger segera meraup tubuh Jihan dalam gendongannya.
Saking lelahnya, ia sampai tidak terbangun. Tiger pun seolah tidak kesulitan dan keberatan menggendong istrinya, bahkan menaiki tangga menuju kamar. Meski kini raut wajahnya kembali dingin saat memasuki rumah.
Perlahan, Tiger merebahkannya di ranjang. Menaikkan selimut hingga dada dan mencium keningnya. Sedangkan ia membersihkan diri terlebih dahulu sebelum akhirnya harus memantau semua pekerjaannya.
...🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈...
Sudah genap tiga hari Jihan dan Tiger menginap di kediaman Sebastian. Ia masih sungkan jika berpapasan atau makan bersama dengan Milano. Padahal pria paruh baya itu biasa saja.
Usai mandi, Jihan baru teringat dengan kartu nama yang diberikan oleh Bima. Dia mengambilnya dari hand bag kecil tempat ia menyimpannya. Menatap serius kartu nama tersebut sembari berpikir keras.
Jihan mengernyitkan dahi ketika mengingat kalimat-kalimat terakhir yang ia dengar sebelum pindah ke sini. "Disuruh kirim foto, identitas, terus mau dibawa ke catatan sipil? Buat apa?!" gumamnya berpikir dengan keras. Tiba-tiba sekujur tubuhnya meremang.
__ADS_1
Tiger sudah berangkat ke kantor bersama ayah mertuanya. Ia tinggal seorang diri di rumah besar itu bersama para pelayan. Tiger tidak mengizinkannya melakukan aktivitas apa pun.
Bersambung~