The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 85. SETOR NYAWA?


__ADS_3

Tiger masih berunding dengan Bian, usai menyusun strategi, kini ia beralih mengurus pekerjaan yang menumpuk di hadapannya. Pria itu meneliti satu per satu arsitektur yang akan menjalin kerja sama dengannya, memilah dan memilih desain terbaik untuk proyek yang akan dikerjakan.


Bahkan tidak sadar jika hari sudah mulai gelap. Dua kehidupan dengan jalur berbeda namun harus tetap berjalan berdampingan dan seimbang. Tidak hanya membutuhkan kerja keras, tetapi juga kerja cerdas agar bisa bertahan.


Bian sedari tadi terus menatap jam di lengannya. Ia juga nampak tidak fokus ketika Tiger mengajaknya berbicara.


"Ada apa denganmu, Bian? Ragamu di sini namun otak dan jiwamu seolah melayang entah ke mana!" teriak Tiger menghempaskan salah satu berkasnya di meja.


Sang asisten itu tersentak kaget. Ia menegakkan duduknya menghalau rasa lelah yang kian mendera. "Maaf, Tuan!" ucapnya menunduk.


Tiger yang merasa kesal pun meraih ponselnya yang sedari tadi tergeletak di sampingnya. Kedua matanya terbuka lebar ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.


"Kenapa kamu tidak mengingatkanku kalau sudah malam, Bian!" sentaknya marah.


Bian hanya memutar bola matanya sembari berpikir. 'Biasanya sampai tengah malam pun dijabani!' gumamnya dalam hati. Tentu saja tidak berani mengucapkannya.


"Haiih! Bereskan semua. Aku harus segera pulang!" tegas Tiger meraih jas yang sempat ia buka, lalu menyampirkannya di lengan kiri. Ia juga menutup laptop dan dimasukkan ke dalam tas kerja.

__ADS_1


"Baik, Tuan!" jawab sang asisten dengan patuh, segera membereskan meja kerja Tiger. Meski dalam hati bingung dengan kemarahan sang atasan.


Saat membuka pintu Tiger terlonjak kaget karena dikejutkan oleh seorang pria yang berdiri tegap di hadapannya. Keduanya terdiam beberapa saat, namun sesaat kemudian Tiger tersadar dengan kehadiran Rico.


"BUGH!"


Sebuah tendangan mendarat di perut Rico hingga kedua kakinya terseret beberapa langkah ke belakang. Ia sedikit membungkuk dan menyentuh perutnya yang terasa nyeri.


Terlihat sekali amarah yang meluap dari kedua manik elang sang atasan. Apalagi saat mengingat kepergiannya bersama sang istri. Tiger melemparkan tas dan jasnya ke atas sofa.


"Masih berani memunculkan batang hidungmu! Kau mau setor nyawa?!" tanya Tiger menekankan pertanyaannya sembari menggulung lengan hingga sikunya.


Pria itu mendongak hingga bersitatap dengan kedua manik kelam sang boss. "Maaf, Tuan untuk kesalahan saya waktu itu. Saya tidak tega melihat Nyonya memohon dan merengek dalam tangisnya. Tapi selama ini saya terus memantaunya," ujar Rico membuka suara.


"Lalu kenapa kamu tidak langsung menghubungiku! Apa maksud terselubung kamu,?!" teriaknya melotot tajam dengan cengkeraman yang semakin kuat.


"Sekali lagi maaf, Tuan. Saya kehilangan ponsel, waktu itu Nyonya dalam emosi yang tidak baik. Ponsel saya dibuang hingga terjebur di sungai," ujar Rico menjelaskan dengan nada tenang.

__ADS_1


"Bagaimana dengan mobil? Kamu sengaja ingin menghilangkan jejak agar kamu bisa menguasai Jihan sepenuhnya dan menyembunyikan dariku, 'kan? Kau menyukainya?!" Tiger berpikiran lain. Ia mengira Rico ingin memiliki Jihan.


Rico mengangkat kedua tangannya dengan cepat disertai dengan gelengan kepala. "Ti ... tidak, Tuan! Sungguh! Hanya saja, saya tidak ingin Anda langsung membunuh saya ketika menemukan saya," sahutnya terbata.


"Aah! Bhullshit!!" pekiknya melemparkan sebuah bogem mentah pada pipi Rico. Tiger juga menendang perutnya lagi dengan lututnya.


Bian yang mendengar keributan segera berlari keluar. Ia segera melerai sang boss yang tengah mengamuk membabi buta. "Tuan! Tahan diri Anda. Anda bisa membunuhnya!" seru Bian bersuara keras berdiri di antara dua pria di depannya. Gerakan Tiger terhenti, napasnya masih menderu kasar dengan tatapan yang sangat tajam.


"Jika memang saya berniat memiliki Nyonya, sudah langsung saya bawa kabur jauh dari sini sampai tidak bisa Anda temukan. Tapi nyatanya, selama ini saya hanya menjaga dan memantaunya dari jauh. Dia bahkan baru tahu saya berada di dekatnya ketika Anda pingsan! Eh!" Rico tersentak saat sadar, bahwa ia lupa mengontrol ucapannya.


Bian memegang bahu Tiger yang masih menegang karena emosi. Menahan bossnya itu saat hampir menghajar Rico lagi. Kedua alisnya saling bertaut, ia memang sama sekali tidak mengerti perdebatan mereka. Namun, Bian hanya diam menahannya.


"Apa maumu sebenarnya?" seru Tiger masih dengan urat yang menonjol.


"Hanya menjaga Nyonya seperti perintah Anda, Tuan. Dan ada satu hal penting yang akan saya sampaikan selama saya menjaga Nyonya selama ini," ujar Rico mengerjapkan mata sembari mengangguk. Bibirnya yang sobek mengeluarkan darah, masih bisa membentuk senyuman.


"Katakan!" tegas Tiger tanpa basa basi.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2