
Tiger mengatur napasnya yang terengah-engah. Entah kenapa, jantungnya kini berdentum dengan sangat kuat. Ia siap apapun resiko yang akan diterima ketika mengadu pada Leon.
Sudah pasti adiknya itu akan marah besar. Namun apa mau dikata, Tiger harus menekan gengsinya demi bisa menemukan istri dan anaknya. Semakin banyak yang mencari, peluang untuk ditemukan akan semakin besar.
"Ya?!" sambut Leon di ujung telepon.
"Leon, ada hal penting yang ingin aku sampaikan," ucap Tiger tanpa basa basi.
"Katakan!"
Tiger terdiam sejenak dengan debaran jantung tak beraturan. Ia memejamkan mata, lalu membuang napas dengan kasar.
"Aku minta tolong untuk melacak keberadaan Jihan. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kehilangan jejaknya," ucap Tiger dengan jujur.
"Apa yang telah kamu lakukan dengan Jihan sampai dia pergi dari kamu?!" terdengar bentakan dari Leon di seberang.
Meski sebenarnya tidak terkejut karena sudah mendapat laporan dari Rico. Leon hanya ingin menekan Tiger agar berubah menjadi pria bertanggung jawab.
__ADS_1
"Maaf." Hanya itu yang terucap dari bibir Tiger.
"Seenaknya saja kamu mengatakan maaf. Jihan sedang hamil Tiger. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengannya? Aku dan Khansa tidak akan pernah memaafkanmu. Karena apa? Karena bayi dalam kandungan Jihan akan kami rawat dan besarkan!" tegas Leon di ujung telepon.
"Ma ... maksudnya?" tanya Tiger terkejut mendengar pengakuan Leon.
"Ya! Bukankah kamu tidak mau mengakuinya. Jadi ketika Jihan ingin bunuh diri dan menggugurkan kandungannya, Khansa berniat ingin merawat bayi tak berdosa itu. Apalagi, gara-gara kamu, kami kehilangan calon anak kami!" tandas Leon dengan suara penuh penekanan.
Bagai petir yang menggelegar di telinganya, hati Tiger seperti teremas hingga hancur. Tubuhnya melemas dan menghentikan mobil di tepi jalan.
"Makanya! Jaga sikap kamu! Udah ditinggal kabur baru diakui dan nyesel! Sekarang kamu tahu 'kan bagaimana rasanya kehilangan? Berdoalah semoga kamu tidak kehilangan mereka selamanya."
DEG!
Ketakutan kini mulai menyergapnya. Niat ingin meminta bantuan, namun ternyata justru semakin terperosok dalam jurang penyesalan. Tiger merasa tertampar.
"Tolong bantu aku, Leon!" Tiger menggerus rasa malu dan gengsinya, tenggorokannya tercekat dan kedua bahunya bergetar karena tangis kerinduan serta sesal yang dalam.
__ADS_1
"Aku harap suatu hari nanti jika kamu menemukannya, kamu bisa berubah menjadi lelaki sejati. Menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluargamu. Bukan egois dengan pemikiranmu sendiri!" sindir Leon dengan telak.
"Baik!"
"Akan aku kabari jika menemukan jejaknya," ucap Leon pada akhirnya.
Tiger mengembuskan napas lega, "Terima kasih, terima kasih banyak, Leon," ucap Tiger lalu sambungan telepon mereka terputus.
Pria itu kembali melanjutkan perjalanan panjang. Sudah berada di pulau Jawa, ia pun memutuskan untuk pulang ke Jakarta. Berharap, agar kepergiannya dari Palembang mampu sedikit mengikis kerinduannya pada Jihan. Karena di sana, di setiap sudut rumah selalu tampak Jihan di pelupuk matanya. Dan itu semakin membuatnya sesak.
Tanpa beristirahat, dia terus memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Hingga tak terasa waktu sudah menjelang petang. Perutnya sama sekali tidak merasa lapar, padahal seharian belum terisi apa pun.
Berjam-jam dalam perjalanan membuatnya sedikit pusing. Pandangannya juga sedikit memburam. Apalagi belum terisi makanan sedikit pun. Ia memutuskan berhenti di sebuah streetfood kota Jakarta pada hari yang sudah berganti malam.
Lama ia bersandar di dalam mobil, tiba-tiba tersentak ketika melihat perempuan yang ia cari-cari selama beberapa hari ini. Matanya membelalak, detak jantungnya mulai berdegub dengan kencang. Segera pria itu turun dari mobilnya.
Bersambung~
__ADS_1