
"Papa!" panggil Cheryl.
Tiger tersadar dari lamunan, "Ah, iya! Cuci tangan dan kakinya, Sayang," ujarnya menyalakan kran wastafel. Tangannya gemetar saat menyeka wajah putrinya, lalu merapikan rambut keriting Cheryl.
Ada sesuatu yang hangat, seolah menjalar di hatinya. Bahkan debaran dadanya pun meningkat karena kebahagiaan yang membuncah.
"Sudah? Abis ini ganti baju terus tidur ya. Biasanya tidur sama siapa?" tanya Tiger.
"Sama Mama, Pa," jawab anak itu jujur.
"Mmm ... nggak pernah tidur sama siapa itu yang ngasuh Cheryl?" Tiger mendudukkan putrinya. Kedua lengannya mengungkung tubuh kecil itu sembari mencecar dengan beberapa pertanyaan.
"Mbak Lala?" Cheryl memastikan. Tiger mengangguk bersemangat.
Namun jawaban Cheryl selanjutnya membuat semangat itu patah.
Gadis kecil itu menggeleng, "Enggak pernah, Pa. Cheryl selalu tidur sama mama! Dan sekarang sama papa juga!" ucapnya.
Tiger tersenyum kaku, menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal sembari menegakkan tubuhnya. Ia lalu menggendong Cheryl keluar dari toilet. Di sana, Jihan sudah berganti piyama tidur. Juga menyiapkan baju ganti untuk Cheryl.
"Nah, sudah. Ayo tidur!" ucap Jihan menaikkan tubuh Cheryl.
__ADS_1
"Mau tidur sama papa!" cetus gadis kecil itu.
"Tentu saja, Sayang!" Tiger melepas jas dan dasinya. Ia segera melempar tubuhnya di samping Cheryl. Sedangkan Jihan merebahkan tubuhnya perlahan di sisi yang lain.
Cheryl memeluk Tiger dengan posesif. Begitupun dengan pria itu, mendekapnya erat sembari menghujani kecupan di kepala Cheryl. "Tidur yang nyenyak cantiknya papa," gumam Tiger.
Jihan memiringkan tubuh, menatap lengketnya ayah dan anak yang baru bersama kembali setelah sekian lama terpisah. Jika saja dia egois, tidak akan bisa melihat kebahagiaan Cheryl seperti itu. Meski tak pernah terucap, namun dapat terlihat dari sorot matanya.
Setelah beberapa lama, napas Cheryl berembus teratur. Tangannya masih melingkar erat di leher Tiger. Mata elang pria itu kini menangkap wajah cantik dan polos istrinya tanpa make up.
Dadanya berdebar bisa kembali sedekat ini dengan wanita yang sangat ia rindukan. Apalagi senyum manis kian tersungging di bibir Jihan. Membuatnya semakin tak sabar ingin segera mendekapnya.
"Sayang, aku kangen," ucap Tiger tanpa suara. Jihan bisa membaca gerakan bibirnya.
Dengan perlahan, Tiger melepas lilitan tangan Cheryl. Meletakkannya dengan sangat pelan di kasur. Menggantikannya dengan guling berwarna putih.
Ia turun dengan sangat pelan dan hati-hati agar tidak membangunkan putrinya. Bahkan melangkah dengan mengendap-endap dan napas tertahan hingga mencapai tepi ranjang Jihan.
Jihan menahan tawa memperhatikan gerakan Tiger. Ia menggeser tubuhnya untuk memberikan tempat bagi suaminya.
"Ah! Kangen banget!" serunya merebahkan tubuh di sebelah Jihan lalu merapatkan tubuh dan memeluknya erat.
__ADS_1
Tiger mencium puncak kepala Jihan, menghirup dalam-dalam wangi yang menguar dari tubuh dan kepala wanita itu. Tiger mencium seluruh wajah Jihan tanpa terlewat sejengkal pun.
"Jangan berisik Tiger, Cheryl mudah terbangun," ujar Jihan memperingatkan.
Tiger menaikkan dagu Jihan hingga kini mereka saling menatap lekat. Seolah berbicara dari sorot mata masing-masing, mengungkapkan kerinduan tak terbendung.
"Bolehkah aku .... ehm!" Tiger berdehem dengan jantung yang bertalu kuat.
Kening Jihan mengernyit, heran dengan suaminya yang meminta izin. Padahal dulu selalu langsung menerjangnya tanpa ampun.
"Tentu saja boleh. Semua yang ada padaku adalah milikmu, Sayang!" ucap Jihan membuat Tiger berbunga-bunga.
Tiger menumpuk bantal di belakangnya, sebagai pembatas untuk Cheryl. Juga menaikkan selimut hingga dada. Bibirnya mulai menyusuri setiap jengkal kulit putih Jihan. Dari wajah, leher, kemudian meninggalkan jejak-jejak cinta di sana. Tangannya mulai melepas kancing piyama istrinya dan menjelajah di dalamnya.
Ia sangat bersemangat, Jihan mulai bersuara lirih karena sentuhan bibir suaminya. Mendengar itu, Tiger segera membungkam bibir Jihan dan memagutnya lembut. Dengan gerakan liar tangannya.
"Papa! Papa!" Suara Cheryl memudarkan semua hasrat yang telah membuncah.
Tiger berhenti sejenak, menoleh pada Cheryl yang tampak bergerak tak nyaman. Buru-buru Jihan mendorong dada bidangnya agar segera kembali pada Cheryl.
Tiger menelan salivanya, sungguh ia benar-benar dihadapkan pada pilihan yang sangat berat.
__ADS_1
Bersambung~