The Devil Husband

The Devil Husband
EXTRA PART 13


__ADS_3

Derap jantung Tiger seolah terhenti. Ia menelan salivanya dengan susah payah, manik abunya melebar saking terkejutnya. "Ha ... hamil?" ucap Tiger terbata-bata.


Dokter tersenyum dengan sebuah anggukan. Setidaknya, para tim medis bisa mengembuskan napas lega karena perubahan Tiger, sudah tidak segarang tadi. Dokter jaga tersebut segera beralih menghubungi dokter kandungan untuk memeriksa keadaan Jihan.


Seluruh persendian tubuh Tiger seolah luruh begitu saja. Dia tersenyum haru menatap Jihan. Tidak menyangka, usahanya selama dua bulan ini sudah membuahkan hasil. Padahal ia tidak begitu berharap apa pun. Berkumpul dengan keluarga sudah menjadi kebahagiaan yang tersendiri di benaknya.


"Tunggu pemeriksaan dokter kandungan dulu, semoga bener ya," ucap Jihan. Ia takut jika nanti kenyataan tak seindah harapan. Takut jika suaminya kecewa.


Tiger mengangguk sembari menahan debaran dadanya yang membuncah. Meski jantungnya seakan sudah meledak di dalam sana.


Jemarinya menggenggam erat telapak tangan Jihan, kemudian menciumnya. Tiger membungkuk hingga tubuhnya semakin dekat dengan istrinya.


"Apa pun hasilnya nanti, jangan kecewa ya," ucap Jihan mengingatkan.


"Iya, Sayang. Yang penting kamu sehat," balas Tiger dengan lembut, membelai puncak kepala Jihan.


Tak berselang lama, Jihan segera dibawa oleh para perawat menuju lantai lima menuju ruangan dokter spesialis kandungan. Tiger mengernyit ketika sang dokter ternyata seorang laki-laki.

__ADS_1


"Silakan dibantu oleskan ultrasound gel nya, Sus!" titah dokter itu mempersiapkan layar komputernya yang akan membaca hasil USG.


"Baik, Dok!"


Suster hendak menyingkap piyama yang dikenakan Jihan. Ia memang tidak sempat berganti pakaian tadi, langsung diangkut suaminya.


"Tunggu! Apa tidak ada dokter perempuan di sini?" sentak Tiger dengan ketus, menatap nyalang satu persatu orang-orang yang di sana.


Gerakan suster tersebut terhenti. Ia melirik dokter yang juga terkejut mendengar seruan Tiger. Sang dokter hanya tersenyum ramah.


Suasana seperti ini memang terkadang terjadi pada beberapa pasangan. Di mana para suami tidak rela diperiksa oleh dokter laki-laki.


"Maaf, Tuan. Dokter tidak akan menyentuh istri Anda. Beliau hanya menggerakkan doppler untuk mencari posisi yang tepat pada rahim Nyonya. Dan pandangan dokter juga fokus ke layar, Tuan." Suster menambahkan, ia juga merapatkan selimut agar hanya ada sedikit celah tepat pada perut bagian bawah Jihan yang sudah diolesi gel.


"Hah! Baiklah. Lakukan dengan benar!" seru Tiger berkacak pinggang.


Dokter mengembuskan napas berat, ia segera memutar kursi duduknya menghadap ke layar kembali. Sambil menahan senyum, dokter menggerakkan doppler dengan perlahan.

__ADS_1


Tiger mengawasi dokter dan perut istrinya secara bergantian melalui sorot mata tajamnya. Jihan sungguh lemas dan pusing. Ia hanya memejamkan mata melihat tingkah suaminya yang over posesif.


"Tuan, sesuai dugaan, selamat! Nyonya hamil 8 minggu!" seru dokter tersebut setelah menemukan bakal janin yang menempel di rahim pasiennya. "Anda mau mendengar detak jantungnya?" sambungnya menatap Tiger.


Tiger hanya diam membisu. Ia masih terharu sampai tidak bisa berkata-kata. Kebahagiaannya kembali membuncah, ingin berteriak dan memamerkan pada semua orang, namun tenggorokannya tercekat, tubuhnya pun mendadak kaku.


"Tuan, Anda baik-baik saja?" Dokter menyadarkan.


Jihan tak kalah bahagia, karena kini dalam rahimnya telah ada kehidupan baru. Jihan menyentuh lengan Tiger untuk menyadarkan suaminya.


"Tiger!" panggilnya lembut.


"Ah! Iya! Laki-laki apa perempuan?!" seru Tiger terkejut.


Dokter, suster beserta Jihan mendelik secara serentak mendengar pertanyaan spontan dari Tiger.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2