
Tiger menoleh dengan cepat, tidak bisa melihat siapa pun. Jeritan tertahan itu kembali terdengar. Ia mendongak ke lantai dua gedung tua itu.
"Erent!" panggil Tiger dengan kedua mata membeliak.
Wanita itu terikat di ujung balkon dengan mulut disumpal. Ia bergegas masuk ke gedung itu, mendobrak pintu yang tertutup dengan rapat.
Saat berhasil menerobos masuk, dia langsung dihadang oleh orang-orang dari klan Black Blood. Perkelahian sengit pun terjadi. Tiger menghempaskan tongkatnya hingga berubah panjang. Ia menggunakan alat itu untuk melawan musuh-musuhnya. Tidak ada genjatan senjata, karena gedung itu dekat dengan keramaian.
Sesekali Tiger terkena pukulan atau tendangan, namun ia tetap berdiri kokoh di atas pijakan kedua kakinya. Ia bergerak cepat dan berhasil melampaui lima orang yang menghadangnya itu.
Lalu segera berlari ke lantai dua, tempat di mana Erent disekap. Di sepanjang naik tangga, ia kembali diserang. Cukup mudah baginya untuk menghindari beberapa tendangan yang mengarah padanya.
Ditangkap kaki panjang itu, diputar dengan kedua tangannya lalu balas menendang hingga terjatuh ke lantai dasar. Ia terus melakukannya hingga sampai di ujung tangga.
Sebuah tepuk tangan kuat disertai tawa, kini memekik di pendengaran Tiger. Ia menoleh cepat ke sumber suara. Kedua alisnya saling bertaut dengan mata memicing.
__ADS_1
"Sungguh gentleman sekali!" seru pria yang tak lain adalah Zero Anderson.
Setelah ditelusuri selama beberapa bulan ini, berhasil membenarkan dugaan Tiger. Bahwa, Zero Anderson dan Zero Emmerald merupakan orang yang sama. Putra tunggal dari Candra Emmerald. Pria paruh baya yang mati di tangan Tiger beberapa waktu silam.
Napas Tiger menderu kasar, menatap tajam wajah bengis Zero lamat-lamat. Ia seperti tidak asing dengan wajah itu.
"Urusanmu denganku! Kenapa melibatkan orang lain?!" seru Tiger penuh penekanan, membuat tawa Zero menggelegar.
"Hahaha! Aku pikir wanita itu adalah segalanya bagimu. Sehingga setelah aku mengambilnya, kamu hancur berkeping-keping!" Zero meremas kepalan tangannya di hadapan Tiger.
Zero pun menatap kuat pria di hadapannya yang sudah mandi keringat, karena sedari tadi terus menghajar pada anak buahnya. Tiger tak gentar sedikit pun, ia bahkan tak berkedip menatapnya.
"Aku tidak pernah lupa, ketika Mark menunjukmu untuk menggantikannya sebagai ketua klan! Bagaimana mungkin anggota kerdil sepertiku bisa melawan seorang ketua?" decak Zero tersenyum menyeringai.
Tiger membuang wajahnya, beralih menatap Erent yang juga menatap sendu dan pilu kearahnya. Kini Tiger baru ingat, bahwa Zero merupakan salah satu anggota klan sewaktu di Rusia dulu.
__ADS_1
Sejak saat itulah, Zero menaruh kebencian pada Tiger. Ia melepaskan diri dari klan terdahulu, membentuk organisasi sendiri hingga kini berdiri kokoh yang diketuai olehnya. Klan Black Blood. Ia melakukan segala cara untuk menghancurkan Tiger.
"Bugh!"
"Hadapi aku secara gentle! Bukan seperti ini, bajingan!" pekiknya meremas jas yang dikenakan oleh Zero.
Dua anggota Zero segera menahan kedua bahu Tiger, memundurkan tubuhnya dan memberinya beberapa pukulan telak. Sedikit membungkuk namun kembali berdiri dengan tegak, meski kedua lengannya di cengkeram musuh.
"Di sini kau lebih bajingan, Tiger! Kamu membunuh kedua orang tuaku tanpa perasaan. Mereka tidak salah apa pun. Tapi dengan jiwa iblismu kamu bagai seorang pencabut nyawa. Harusnya aku juga membunuh dia sebagai gantinya!" pekik Zero mengikis jarak di antara mereka, menunjuk ke arah Erent dengan mata melotot tajam pada Tiger.
Tiger menendang perut Zero hingga terpental jauh ke belakang. Ia lalu menggerakkan kedua lengan kekarnya dengan kuat, hingga dua musuhnya saling berbenturan, ditambah tendangan Tiger pada punggung keduanya.
Ia lalu melangkah panjang dan kembali mencengkeram kerah Zero. "Kau bilang tidak salah apa pun? Hei, asal kau tahu. Candra Emmerald telah membunuh kedua orang tuaku, brengsek! Mereka bahkan menghabisi ayah ibuku, saat aku masih bayi." Seruan bariton yang sangat keras menggema di seluruh penjuru ruangan.
Tak hanya Erent yang terkejut, Zero tak kalah terkejut mendengar kenyataan ini. Dunianya seolah berhenti berputar. Jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik. Tubuhnya membeku, kalimat terakhir Tiger terus terngiang-ngiang di telinganya.
__ADS_1
"Enggak, itu tidak benar," gumam Zero setelah beberapa saat terdiam.
Bersambung~