
"Turunin aku!" tandas Jihan menatap suaminya tajam.
Tiger masih bergeming, aliran darahnya berdesir kuat. Dadanya mengembang dan mengempis dengan sangat kasar. Bahkan sampai terasa nyeri dan sesak.
"Turunin aku Tiger!" pinta Jihan lagi sembari memberontak.
Tiger justru memeluknya semakin erat, memejamkan mata dan menumpukan dagunya pada puncak kepala Jihan. Ia menghirup dalam-dalam wangi khas tubuh istrinya, yang tentu langsung melemahkan sendi-sendinya yang kaku.
"Maaf! Kita pergi sama-sama. Aku akan menemanimu," ucap Tiger pelan lalu meletakkan istrinya perlahan di jok kursi belakang.
Tiger menyusulnya, duduk dengan tenang di sebelah Jihan. Jemarinya menggenggam telapak tangan sang istri yang berkeringat dingin, tatapannya sayu menoleh pada wanita itu dengan senyuman kaku.
"Janji nggak panik?" ucap Jihan seraya menahan mulas dan nyeri yang semakin menyerang.
"Aku akan berusaha!" ujar Tiger dengan suara pelan sembari mengangguk.
"Baiklah, kalau kamu panik dan nggak bisa kontrol emosi, lebih baik nanti nunggu di luar saja!" Jihan tersenyum dengan embusan napas yang lega, merebahkan kepala pada bahu suaminya. Tiger mengangguk, meski gejolak dalam tubuhnya memberontak.
Rico bergegas melajukan mobilnya setelah melihat keadaan yang sudah kondusif. Pria itu masih setia mendampingi bossnya. Leon pun masih sesekali menghubunginya, untuk memastikan keluarga itu baik-baik saja.
Sepanjang perjalanan, Jihan mencengkeram kuat tangan suaminya. Hanya mendesis sembari menunduk, tidak berteriak karena takut mengundang kepanikan sang suami.
Tiger menelan saliva yang terasa kering di tenggorokan. Ia mengembangkan dada untuk menyimpan pasokan oksigen sebanyak mungkin.
Tangan kanananya dicengkeram kuat oleh Jihan, seolah ingin memusatkan rasa sakit itu di sana. Tiger sungguh tidak tega melihat seluruh tubuh Jihan menegang sampai memerah.
Tiger mengangkat tangan kirinya, lalu menyentuh perut Jihan yang terasa sangat tegang, kaku dan begitu kuat. Ia merabanya perlahan dengan dada yang berdebar-debar, bahkan aliran darahnya semakin deras.
"Sayang, bantu mama ya." Tiger merunduk untuk mencium perut buncit itu.
Jihan merasa bahagia, ia menyandarkan kepala di sandaran jok, lalu mengusap kepala Tiger. Keduanya sedikit bisa lebih rileks.
Hingga akhirnya, mereka sampai di rumah sakit setelah beberapa menit. Tiger segera beralih ke pintu sebelah, meraup tubuh Jihan dalam gendongannya. Sedangkan Rico dengan sigap mengambil koper yang berisi pakaian ganti untuk Jihan dan bayinya.
__ADS_1
"Tolong, istri saya mau melahirkan!" ucap Tiger setelah melalui pintu IGD.
"Oh, silakan letakkan di ranjang, Tuan. Kami akan memeriksanya."
Tiger meletakkan di brankar kosong, ia masih setia berdiri di samping istrinya. Bahkan saat disuruh keluar pun, Tiger sama sekali tak beranjak. Ia memeluk kepala Jihan, mencium pipi dan kening wanita itu sembari menyeka keringat yang sudah membasahi wajah cantik sang istri.
"Sudah bukaan delapan. Langsung ke ruang bersalin aja, sus!" titah seorang dokter setelah memeriksa jalan lahir Jihan.
Jihan masih sama, menahan rasa sakitnya tanpa berteriak. Namun terlihat jelas dari cengkeraman tangannya dan deru napas yang kuat.
Tiger enggan beranjak sedikitpun. Di ruang bersalin pun, Tiger masih setia di samping istrinya. Dokter menyarankan untuk berjalan-jalan sebentar, namun jika tidak kuat dianjurkan tidur dan miring ke sebelah kiri.
Kedua kaki Jihan sudah melemas, ia hanya tidur dan memiringkan tubuhnya ke kiri. Rasa sakit di perutnya semakin menyerang kuat. Dengan durasi waktu yang berhimpitan. Jihan memejamkan mata dengan napas tertahan, menggigit bibir bawahnya.
Tiger memeluk istrinya dari depan Jihan, menciumi pipi wanita itu, membelai kepalanya sesekali mengusap punggung Jihan yang terasa sakit juga.
"Sakit banget ya?" tanya Tiger pelan menyatukan kening mereka.
Akan tetapi teringat dengan janjinya tadi, Tiger hanya berusaha menahan emosinya, agar tetap diperbolehkan menemani Jihan berjuang mengeluarkan anak keduanya.
Melihat seperti ini, Tiger tentu mengingat kembali perlakuan buruknya di masa lalu. Dan itu membuatnya menangis hingga kedua bahunya bergetar hebat. Wanita yang berjuang hidup dan mati itu, pernah dia siksa lahir batin.
Jihan justru bingung, ia terkejut melihat suaminya berderai air mata. Jihan menyeka pipi Tiger bergantian, "Kenapa?" ujarnya lemah.
"Semangat, Sayang! Kamu pasti bisa! Maafkan aku!" ucap Tiger di sela tangisnya, mencium kening Jihan sangat lama.
"Aaaarrghhh!" rintih Jihan tak sengaja mencengkeram kuat leher Tiger saat gelombang cinta di perutnya semakin kuat menerjang.
Tiger diam saja, meski perih kini mulai terasa. Kemungkinan lehernya terluka. Tapi pria itu sama sekali tidak peduli. Ia fokus dengan istrinya, semakin memeluknya erat.
"Tuan, permisi. Saya akan kembali memeriksanya," ucap Dokter perempuan yang tadi menanganinya.
Dan benar saja, bayi sudah siap untuk dilahirkan. Dokter segera meminta timnya untuk bersiap. Seluruh perawat dan bidan segera memeriksa peralatan yang akan digunakan, memastikannya sudah steril. Ada yang bertugas untuk menyiapkan pakaian bayinya juga.
__ADS_1
Brankar sedikit dinaikkan bagian kepalanya. Kedua lengan Jihan masih memeluk kuat sang suami. Tiger sedari tadi menunduk setengah badan agar bisa memeluk Jihan.
"Nyonya, pembukaan sudah lengkap. Silakan atur pernapasannya. Tarik napas panjang dan buang melalui mulut. Ketika ada dorongan alami dari perut, segera mengejan ya, Nyonya. Jangan memejamkan mata dan jangan sampai mulut terbuka. Usahakan dagu menempel pada dada," papar dokter menjelaskan.
Banyak sekali pertanyaan di kepala Tiger. Namun pria itu sebisa mungkin untuk mengikuti instruksi dari dokter. Karena yakin, dokter pasti menyarankan yang terbaik. Ia selalu mengingat janji pada Jihan agar tidak panik dan tenang. Lagi-lagi harus menekan emosinya yang sudah membuncah sampai ubun-ubun.
"Tuan mungkin bisa membantu, agar nyonya tetap berada di posisi yang saya sarankan. Semua demi kebaikan nyonya." Dokter beralih pada Tiger.
"Eemmmmhhh!" Jihan mengerang lalu napasnya kembali tersengal.
Tiger membantu menekan tengkuk Jihan agar dagunya menempel pada dada, sesuai instruksi.
"Bagus, Nyonya. Silakan atur pernapasan lagi sampai ada dorongan alami dari bayi.
"Sayang!" Tiger semakin tidak tega melihatnya. Ia membantu menyingkirkan rambut Jihan, mengurainya di belakang.
"Eeeemmmghh!" Erangan kuat dan panjang kali ini berhasil membuat lengkingan kuat dari bayinya yang memenuhi seisi ruang persalinan.
Jihan merebahkan tubuhnya, seluruh tulang-tulangnya seolah terlepas dari raganya. Tiger semakin terisak dan memeluk erat istrinya yang napasnya masih tersengal-sengal.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih!" ungkap Tiger menggebu-gebu diiringi isak tangis yang bersahutan dengan bayinya.
"Selamat, Tuan. Bayi Anda laki-laki, lahir lengkap, selamat dan sangat tampan," ucap Dokter tersenyum dibalik maskernya.
Tiger menoleh, dadanya semakin mengembang dan mengempis dengan kuat. Sengaja selama periksa Jihan menolak dokter menyebutkan jenis kelaminnya. Karena apa pun gendernya, tetap anak mereka.
Kabar ini tentu membuat kebahagiaan Tiger membuncah. Ia melepas Jihan lalu berjalan ke sudut ruangan. Semua orang bingung melihat tanggapan pria itu. Tak berapa lama, Tiger berteriak, "Haaaaarrghh!!" Lega, bahagia, Tiger mengeluarkan semua emosinya yang sedari tadi tertahan.
Kemudian berlari lagi menghampiri Jihan dan menciumnya bertubi-tubi. "Sayang! Terima kasih. I love you!"
Bersambung~
Papa macan malu2in,🤣🤣
__ADS_1