
"Dih! Kembali ke kursimu! Pasang sabuk pengaman!" seru Zero memberikan dorongan kecil pada lengan Jihan agar menjauh, kemudian menegakkan duduknya.
"Aku tidak akan membocorkan keberadaan kamu, dengan syarat kamu harus berada di tempat yang aku berikan!" lanjut pria itu kembali menatap lurus ke depan.
"Di mana? Aku nggak mau tinggal berdua sama kamu!" ketus Jihan memutar bola matanya malas.
Ia pun kembali duduk dengan benar, memperhatikan sang baby yang kembali terlelap. Sungguh beruntung sekali bayi cantik itu seolah mengerti keadaan ibunya.
Tidak mendapat jawaban, Jihan pun diam sembari memperhatikan jalanan yang ia lalui. Tampak asing dan sama sekali belum pernah ia lalui sebelumnya.
Bibirnya terkatup rapat, lengannya sudah mulai kebas, ia menyandarkan kepalanya pada jendela mobil. Terlalu banyak berbicara dan berteriak hanya menguras emosinya. Pasrah, mungkin hanya itu jalan terbaik saat ini. Setidaknya dia tetap bersama putrinya, apa pun yang terjadi nanti.
Hari sudah mulai gelap, ketika mobil memasuki sebuah perumahan. Sunyi, tidak terlalu mewah namun juga tidak terlalu buruk.
"Turun!" titah Zero setelah mematikan mesin mobil berhenti di pelataran salah satu perumahan minimalis tersebut.
__ADS_1
"Rumah siapa ini?" tanya Jihan menatap waspada. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, jarak antara rumah satu dan yang lainnya cukup jauh.
"Turun dulu!" Zero mengedikkan kepala menuju keluar.
"Kamu nggak berencana bunuh aku di sini 'kan? Aku punya tanggung jawab untuk merawat dan membesarkan putriku loh!" selidik Jihan.
Zero meraih sesuatu dari balik saku jasnya. Lalu menyodorkan pada Jihan. "Nih, kamu bisa menarik pelatuk itu di kepalaku kalau kamu merasa terancam!" tandasnya.
Jihan hanya memperhatikannya dengan ekspresi kesal juga waspada. Tanpa berkedip dan sedikit gemetar saat melihat senjata api itu. Karena kesal, Zero pun meletakkannya di tangan Jihan. Namun segera dihempaskan hingga terjatuh. "Aku bukan pembunuh!" desisnya dengan tatapan tajam.
Zero menghela napas panjang. Ia heran bisa-bisanya Tiger betah dengan perempuan seperti Jihan. Menurutnya perempuan cuma merepotkan dan menyebalkan. Ia turun terlebih dahulu, lalu membukakan pintu untuk Jihan.
"Griya Anderson no. 16," gumam Jihan membaca plat di dekat pintu. "Oh, ini perumahan milik kamu?" tanya perempuan itu melenggang masuk.
Zero tak menjawabnya, memilih menyalakan saklar ruangan. Di dalamnya sudah lengkap dengan peralatan rumah tangga. Dan sepertinya memang sudah pernah dipakai oleh orang lain.
__ADS_1
"Istirahatlah! Jika kamu diam di sini, aku tidak akan melaporkanmu pada para bawahan Tiger. Tapi jika mencoba pergi, aku sendiri yang akan menyeretmu! Ini kawasanku, sangat mudah melacak keberadaanmu!" tandas Zero memperingatkan.
Jihan yang tengah melihat sekeliling kini beralih menatapnya. "Kamu nggak tinggal di sini juga 'kan?" tanyanya penuh selidik.
"Aku tidak senganggur itu jauh dari Jakarta! Tapi semua kamera di sepanjang perumahan ini cukup bisa mengawasi semua gerakan kamu! Pakai saja semua fasilitas di sini!" tandas pria itu lalu berbalik dan melenggang pergi, meninggalkannya seorang diri yang masih terpaku.
"Jadi dia benar-benar mengaku salah? Mungkin ini salah satu alasannya tidak mau berurusan dengan penegak hukum. Karena dia ingin bertanggung jawab dengan caranya sendiri!" gumam Jihan yang melihat punggung Zero semakin menjauh dari pandangannya.
Kasus yang menimpa Tiger memang lolos dari penyelidikan polisi. Dianggap murni kecelakaan. Tentu saja karena campur tangan lelaki itu.
Jihan mendesah lega. Perlahan kedua sudut bibirnya terangkat. Setidaknya, semua berjalan sesuai dengan keinginannya. Bisa menenangkan hati dan pikiran yang mendidih seharian ini, hanya bersama putrinya.
Wanita itu beranjak ke kamar usai menutup rapat pintu rumahnya lalu beralih ke kamar. Cukup luas jika hanya dipakai olehnya bersama Baby Cheryl.
Perlahan, ia meletakkan bayi nya di atas ranjang, kemudian ikut merebahkan tubuhnya sejajar dengan kepala bayi mungil itu. Jihan meregangkan tubuhnya yang terasa sangat pegal, kemudian memiringkan tubuhnya, memeluk putrinya dengan posesif.
__ADS_1
"Kali ini mama percaya, setiap anak membawa keberuntungan tersendiri bagi orang tuanya. Dan mama sangat beruntung memiliki kamu. Terima kasih, Sayang. Kita berjuang bersama ya. Kita juga harus doakan papa dari sini, semoga lekas sembuh," ucapnya mendekap erat bayi itu.
Bersambung~