
Dering ponsel yang menggema di penjuru kamar memaksa Tiger untuk mengerjapkan mata. Satu lengannya menopang kepala Jihan seperti biasanya. Tangan lainnya meraba atas nakas dengan mata masih terpejam.
Tanpa menatap sang penelepon, Tiger mengangkat panggilan. Menempelkannya di telinga, menjawab dengan sebuah deheman. "Hmm!"
"Tiger!" lirih seorang wanita yang sangat familiar menelusup telinganya.
DEG!
Diam, tubuhnya membeku dengan desiran darah yang mengalir semakin deras. Manik matanya kembali terpejam, meredam debaran jantung yang hampir saja melompat dari dadanya.
"Tiger, selametin aku," Suara itu kembali terdengar. Kali ini terdengar serak dan begitu letih.
Sepasang netra abunya terbuka dengan cepat. Tidak salah lagi, suara itu memang suara yang sangat dia kenal. Cairan bening kini mulai melapisi kedua netranya. Ia menunduk menatap sang istri yang masih nyenyak dalam dekapannya. Sebuah kecupan mendarat di ujung kepala, diiringi lelehan air mata.
"Di mana kamu?" Tiger kembali fokus pada sambungan ponselnya.
__ADS_1
"Aku akan sharelock, datang sendiri tanpa siapa pun jika mau dia selamat. Maka kamu bisa membawanya pulang dalam keadaan utuh. Jika tidak, kamu hanya akan membawa pulang jasadnya. Hahaha!" Kini suara bariton yang menggema dan segera memutus sambungan.
Tiger menyingkirkan lengannya dengan perlahan, takut akan membangunkan istrinya. Secepat kilat ia membersihkan diri dan mengenakan pakaian casual.
"Sayang! Aku harus ke kantor sekarang. Tunggu aku ya," ucap Tiger mengusap kepala Jihan dengan lembut.
Jihan mengerjap, matanya menyipit melihat suaminya sudah sangat rapi. Ia enggan mencari tahu jam berapa sekarang. Karena kantuk masih menderanya, tak sanggup untuk sekedar menggeser tubuhnya.
"Hmm, hati-hati, Sayang!" balas Jihan mengangkat ibu jarinya, matanya kembali merapat.
Tiger mencium kening Jihan sedikit lama, lalu beralih mencium perut buncit istrinya. Suara notif pesan menyadarkannya agar segera bergegas.
Hatinya kacau mendengar suara wanita yang sudah setahun lebih menghilang tanpa kabar. Dan kini tiba-tiba hadir ketika ada yang sudah bisa menggeser posisinya di hati.
Bagaimanapun, Tiger harus mengetahui alasannya. Apa yang terjadi selama satu setengah tahun yang lalu? Kenapa dia tiba-tiba menghilang, meninggalkan Tiger sampai seperti orang gila, hingga sempat melampiaskan kekejamannya pada Leon.
__ADS_1
Pikirannya berkecamuk, dadanya bergemuruh hebat. Konsentrasinya terpecah, ia tidak bisa fokus berkendara. Namun dalam waktu singkat, ia bisa mencapai titik lokasi itu.
Tiger menajamkan tatapannya, meningkatkan kewaspadaan. Pandangannya mengedar ke sebuah gedung tua di hadapannya. Ia menelepon Bian dan meminta untuk membawa para bawahan datang ke lokasi. Sayangnya, anggota klannya kebanyakan di Palembang. Karena memang markasnya ia bangun di sana, jauh dari hiruk pikuk perkotaan.
"Bi, segera lacak keberadaanku sekarang, bawa anggota ke sini. Erent ada di tangan mereka," ucap Tiger.
Di seberang, Bian sempat tersentak kaget. Namun ia segera menarik kesadarannya kembali. Segera pria itu melakukan tugasnya, mengumpulkan para bawahan dan menyusul Tiger.
Sedangkan Tiger sendiri kini melepas seatbeltnya. Kemudian meraih sebuah tongkat lipat, menggenggamnya untuk berjaga-jaga.
"Apapun yang terjadi, aku harus segera kembali. Demi Jihan, juga baby," gumamnya menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kuat.
Tak ingin berlama-lama, Tiger keluar dari mobil. Menatap waspada sekelilingnya yang sangat sepi. Ia melangkah dengan pelan sembari mengedarkan pandangan melalui ekor matanya.
"Mmmmphh! mmphhh!" jerit seorang wanita dengan suara tertahan.
__ADS_1
Bersambung~
Last konflik 😚 sedikit tidak aman untuk jantung ya dears.. ambil napas dalam-dalam 😁