The Devil Husband

The Devil Husband
EXTRA PART 1


__ADS_3

Gemuruh tepuk tangan yang dimulai oleh Khansa dan diikuti semua orang menggema di pelataran luas rumah sakit tersebut. Jihan membalikkan tubuhnya, membelalak dengan segala keterkejutan yang ada di hadapannya.


Wajahnya memerah dan menutup mulutnya yang sedikit terbuka. Ia sungguh merasa malu. Tiger berdehem untuk menghalau kecanggungannya juga. Lalu segera menarik lengan Jihan pergi meninggalkan keramaian tersebut. Ia tidak terbiasa dengan situasi seperti ini.


"Langsung pulang ya?" ucap Tiger ketika sampai di parkiran. Cheryl masih berada dalam gendongan salah satu lengan Tiger, memeluk erat leher ayahnya. Lalu tangan lainnya membukakan pintu penumpang untuk Jihan.


"Barang-barang kami di hotel. Susu Cheryl dan semua pakaiannya aku tinggal di sana," sanggah Jihan segera duduk. "Cheryl, sini nak sama mama dulu," lanjutnya mengulurkan kedua tangan.


"Enggak mau, sama papa aja!" gumam Cheryl enggan menoleh sedikitpun. Masih bergelayut manja dalam dekapan Tiger.


"Nggak apa-apa. Biar sama aku aja. Pakai seatbeltnya!" titah Tiger menutup pintu mobil dan segera beralih menuju kursi penumpang.


Tiger duduk, Cheryl bergerak memutar tubuhnya menghadap ke depan. Matanya berbinar dengan senyum yang lebar. Ia takjub dengan mobil ayahnya yang begitu menakjubkan di matanya. Kedua tangan kecilnya menyentuh setir dan memainkannya.


"Cheryl, ganggu papa nyetir loh. Sini sama mama!" tegur Jihan.


"Tapi, Ma...."

__ADS_1


"Nanti kalau udah sampai baru sama papa lagi!" tukasnya dengan tegas.


Cheryl mengangguk patuh. Ia berpindah di pangkuan Jihan. Tiger hendak membela putrinya, namun baru membuka mulut, tatapan tajam yang dilayangkan Jihan mampu menutup rapat bibir Tiger kembali.


"Nah, begini lebih aman. Ayo jalan!" Jihan berucap lega sembari tersenyum.


"Jadi, kita ke mana?" tanya Tiger menyalakan mesin sport carnya.


"Hotel!" jawab Jihan singkat.


"Siap yang mulia ratu," celetuk Tiger bersemangat dengan gerakan hormat sembari mengangguk lalu bergegas menjalankan kendaraan itu.


Tiger menyetir dengan kecepatan cukup tinggi. Ia tidak sabar ingin segera sampai di hotel yang dituju. Cheryl justru sangat menikmatinya. Ia enggan berpaling dari jalanan yang begitu cepat dilaluinya. Bahkan ketika melalui sebuah tikungan pun, masih melesat dengan kecepatan tinggi.


"Yaampun, Tiger! Pelan-pelan. Jangan bikin aku jantungan!" seru Jihan terkejut, tubuhnya terhuyung mengikuti gerakan mobil.


"Ah! Aku nggak sabar segera sampai, Sayang. Di sini bukan?" tunjuk Tiger mulai memelankan laju mobil ketika sudah melihat plank hotel yang dituju.

__ADS_1


"Huft! Iya, di sini. Jangan kayak gini lagi ah. Kita bawa Cheryl loh! Keselamatan yang utama!" tegas wanita itu.


"Tapi ini seru, Ma. Papa keren! Mau lagi," ucap Cheryl melebarkan senyumnya dan bertepuk tangan.


Jihan menepuk dahinya saat Cheryl justru terlampau senang dan bahkan tidak ada ketakutan sedikit pun dari wajahnya. "Anak sama bapak sama aja!" selorohnya menyandarkan punggung.


"Seru 'kan, Nak? Tos dulu!" Tiger merasa puas karena Cheryl berada di pihaknya. Keduanya bertos ria.


Usai memarkirkan kendaraan, mereka bertiga segera turun. Cheryl memilih berjalan sendiri. Dengan kedua lengannya di genggam oleh ayah dan ibunya. Sesekali ia melompat kegirangan. Jihan pun ikut bahagia melihat Cheryl seceria itu.


Sesampainya di depan kamar, Jihan meraih sebuah kartu dan menempelkannya pada sensor pintu hingga kuncinya terbuka. Cukup luas dan nyaman jika digunakan untuk menginap bertiga.


"Cuci kaki dan muka dulu, Sayang baru tidur," ucap Jihan melepas sepatu, accessoris dan hendak mengganti gaunnya.


Tiger membantu melepas sepatu Cheryl lalu menggendongnya ke toilet. Ia berdiam diri cukup lama di depan cermin, menatap pantulan dirinya bersama putrinya. Bagai pinang di belah dua. Ia seolah melihat dirinya versi perempuan.


Bersambung~

__ADS_1


Ciye yang senyum2 dapet bonchap 😍


__ADS_2