The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 63. BUANG SIAL


__ADS_3

"Ah, belum siap cerita ya? Nggak apa-apa, aku tunggu kalau kamu sudah siap," ucap Bima cepat saat melihat tatapan tak nyaman dari sorot mata Jihan.


Jihan hanya menghela napas panjang, sebuah anggukan kecil tanpa suara adalah jawabannya. Keduanya melanjutkan langkah menuju mobil. Bima dengan sigap membukakan pintu mobil dan mempersilakan Jihan masuk.


Wanita itu justru terpaku, ia teringat dengan pengawalnya terdahulu. 'Rico, apa kamu baik-baik saja? Semoga Tiger tidak menemukanmu, aku yakin Leon akan melindungimu,' gumamnya dengan pandangan kosong.


Lambaian tangan Bima menyadarkan Jihan, "Hei! Are you, ok?" ucap pria itu.


"Ah, iya. Maaf." Jihan segera menepis lamunannya.


Setelah keluar dari area perusahaan, Jihan berpikir keras. Banyak rencana yang tersusun di kepalanya. Entah apa yang akan terjadi esok, Jihan tidak terlalu ambil pusing. Karena dalam tubuhnya kini ada makhluk kecil yang harus selalu ia jaga.


"Mmm ... Bima, boleh minta tolong nggak?" tanya Jihan ragu-ragu.


"Ya?" sahutnya melirik kaca spion.


Meskipun Bima sudah tahu jika Jihan dengan orang yang ditunggu sang boss orang yang berbeda, pria itu tetap baik terhadap Jihan. Ia bahkan tidak mempedulikan status wanita itu. Pesona ibu hamil itu memang memancarkan kecantikan yang sempurna di mata Bima.


Bima juga salut dengan keberanian Jihan mengungkapkan kejujuran. Sudah tertarik dengan kecantikan alaminya, kini bertambah kagum dengan ketangguhan wanita itu. Ada rasa ingin melindungi yang muncul dari benaknya.

__ADS_1


"Eee ... anter aku ke salon ya. Tapi jangan yang ada di mall. Salon kecil aja nggak apa-apa," pinta Jihan.


Bima berpikir sejenak, "Kenapa harus yang kecil kalau yang modern dan gede banyak," tuturnya sesekali melirik ke arah Jihan.


"Aku cuma mau potong rambut," ucap Jihan.


Selain mencari yang lebih murah, dia juga tidak ingin muncul di keramaian. Dia masih tidak siap jika tiba-tiba bertemu dengan Tiger atau para anak buahnya.


'Apa kamu mencariku? Atau kamu dengan mudahnya mendapat penggantiku? Ah aku lupa kamu mantan cassanova. Pasti mudah sekali mendapat penggantiku di luar sana,' batin Jihan tersenyum getir.


Sesuai permintaan Jihan, Bima menurunkannya di sebuah salon yang berjajar di antara ruko tepi jalan. Bangunan yang tidak terlalu luas.


Namun karena pekerjaan, Bima memang harus segera kembali ke perusahaan jika tidak ingin terkena amukan sang boss lagi.


Jihan masuk ke salon tersebut, kebetulan memang sepi. Ia langsung disambut wanita muda dan cantik dengan sangat ramah. Ia segera dipersilakan duduk di sebuah kursi depan cermin besar.


"Silakah, Kak. Ada yang bisa saya bantu," ucap sang pemilik salon.


"Aku mau potong rambut, Mbak. Pendekin aja segini," tunjuk Jihan di atas bahu.

__ADS_1


Gadis cantik berpenampilan menor itu tentu saja terkejut. Karena rambut Jihan sangat panjang dan tampak bagus sekali. Ia menggenggam rambut Jihan, "Kakak serius? Nanti nggak nyesel? Ini lebat banget dan bagus banget loh, Kak, rambutnya!" tutur pemilik salon tersebut mencoba meyakinkan.


Jihan menatap pantulan dirinya di cermin. Ia menghela napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca. Ia teringat dengan Tiger yang selalu membelai rambut panjang itu, menghirup aromanya setiap waktu, memainkannya setiap tidur. Sesak kian mendera dadanya, apalagi sekilas terlintas di kepalanya ketika Tiger pernah pula menjambak rambut indahnya itu.


Matanya terpejam diiringi lelehan air mata, pemilik salon terkejut karena tiba-tiba pelanggannya itu menangis. Ia kebingungan, mencoba menyentuh bahu Jihan dan mengusapnya perlahan.


"Kak, maaf. Nggak apa-apa kalau Kakak nggak jadi memotongnya," ucapnya khawatir.


Jihan kembali membuka matanya, tampak merah sekali. "Tidak, Mbak. Potong saja. Aku ingin mengurangi beban di kepala juga buang sial," ucap Jihan menyeka air mata di kedua pipinya.


"Baiklah," ujarnya lalu segera melakukan permintaan Jihan.


Setelah satu jam berlalu, Jihan sudah rapi dengan penampilan barunya. Sang pemilik salon tidak berani bertanya-tanya lagi. Meski saling terdiam, dia profesional menjalankan pekerjaannya.


Gadis cantik itu lalu menawarkan untuk mewarnainya agar lebih terlihat fresh. Namun Jihan menolaknya dengan keras. Karena ia tidak mau membahayakan janinnya. Tak dapat dipungkiri, kini ia semakin cantik dan chubby dengan rambut pendek.


"Orang cantik mah mau diapa-apain juga cantik, Kak. Makin keliatan fresh deh," puji pemilik salon.


"Terima kasih," ucapnya singkat lalu segera membayar dan pergi dari salon tersebut.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2