
Tiger menghentikan laju mobilnya di depan perusahaan Leon. Ia tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi selain ke sana. Meski ia tahu, saat ini perusahaan tersebut dalam kendali sang asisten, yaitu Gerry.
Tiger melangkah dengan tegas dan tanpa ekspresi. Ia segera menuju resepsionis agar segera dihubungkan dengan orang kepercayaan Leon nomor satu di perusahaan tersebut.
"Katakan padanya, saya Tiger Sebastian," ujar Tiger saat wanita cantik di hadapannya sedang menyambungkan ke ruangan Gerry.
Beberapa saat setelah berbincang, tampak resepsionis itu mengangguk. Ia lalu menutup telepon dan keluar dari area kerjanya, berhenti tepat di depan Tiger.
"Mari saya antar, Tuan," ucapnya membungkuk sopan di hadapan Tiger yang hanya dijawab anggukan tipis tanpa ekspresi. Mereka berjalan menuju lift yang mengantar ke ruangan Gerry.
Langkah kaki mereka serempak, tanpa berbicara dan hanya benturan sepatu mereka yang menggema. Resepsionis itu mengetuk pintu sebuah ruangan.
Mereka segera masuk setelah mendapat perintah dari dalam ruangan. Assisten Gerry membenarkan kacamatanya, ia mengangguk pada perempuan berambut pendek lalu mengibaskan tangan ke udara sebagai isyarat agar ia keluar.
Sorot kebencian berpendar dari kedua manik Gerry. Ia menyandarkan punggung di kursinya, sembari bermain bolpoin di tangannya. Mengingat kejadian beberapa waktu lalu, ia hampir kehilangan nyawa akibat ulah Tiger. Namun, Gerry menepis egonya. Dia berusaha bersikap profesional.
"Silakan duduk, Tuan. Ada keperluan penting apa sampai Anda mau menginjakkan kaki di lantai ini," tutur Gerry tegas namun tak mengurangi kesopanannya.
Tiger mendaratkan tubuhnya di depan Gerry. Ia menatap kuat assisten kepercayaan Leon. "Assisten Gerry, saya meminta maaf atas kesalahan saya beberapa waktu lalu!" ujarnya menunduk. Tiger ingat dengan jelas, pernah menyandera Gerry ketika pernah berseteru dengan Leon. Ia menyadari kesalahannya saat itu.
"Langsung saja, katakan apa kepentingan Anda, Tuan," balas Gerry mengabaikannya. Menurutnya itu hanya masa lalu yang sudah lama berakhir.
__ADS_1
"Saya, membutuhkan bantuan. Sudah dua kali ini usaha saya diserang oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Bahkan saya sampai mengalami kerugian yang sangat besar."
"Usaha mana yang Anda maksud?" cecar assisten Gerry.
Gerry tahu, selama ini Tiger bukan hanya menjalankan perusahaan Milano--sang ayah, perusahaan Leon di Jakarta juga bisnis yang bergerak dalam ranah rekreasi, villa dan bar yang tengah berdiri di Palembang saat ini. Namun juga bergerak dalam perdagangan senjata api di dunia hitam.
Gerry hafal dengan seluk beluk Tiger yang pernah terjerumus dalam dunia hitam sejak kuliah di luar negeri. Pergaulan yang bebas ditambah lolosnya pengawasan sang ayah membuat Tiger menikmati dunianya itu. Ditambah sang ketua mafia sebelumnya memberikan mandat kepada Tiger untuk melanjutkan kepemimpinan.
"Anda sudah tahu sejelasnya Asisten Gerry," sahut Tiger tersenyum tipis. "Setidaknya, saya harus menelusuri sebab akibat dari peristiwa ini. Karenanya, saya ingin beberapa ahli IT untuk bekerja sama dengan saya," papar Tiger yang sejujurnya.
"Tapi saya tidak bisa menyerahkan begitu saja, apalagi jika nyawa mereka dalam bahaya, hanya karena bekerja sama dengan Anda." Gerry ingin melindungi para bawahannya, seperti yang selalu dilakukan oleh Leon.
"Saya sendiri yang akan menjamin keselamatan mereka!" sahut Tiger dengan mantap.
"Baik, saya tunggu kabar secepatnya assisten Gerry. Terima kasih atas waktunya," ucap Tiger beranjak dari duduknya lalu mengulurkan tangan untuk menjabatnya.
Gerry memutar bola matanya, hingga bertumbukan dengan manik biru dari pria di hadapannya. Menatap kembali tangan itu, lalu menjabat dengan kuat.
"Sekali lagi, saya minta maaf Assisten Gerry," ucapnya membungkuk setengah badan.
"Setiap orang pasti punya kesalahan. Yang terpenting, bagaimana orang itu mau berubah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama!" sahut Gerry melepas tautan tangan mereka.
__ADS_1
Tiger mengangguk, "Permisi," ucapnya melenggang pergi dari ruangan itu.
Tiger bertolak menuju Markas Blackstone. Di sana semua anak buahnya berkumpul dengan perasaan was-was. Tidak bisa membayangkan bagaimana kemarahan sang bos nantinya. Karena tadi, Tiger pergi setelah segala macam umpatan menggelegar dari tenggorokannya.
Mobil berhenti di pelataran luas di antara deretan mobil hitam khusus untuk para anak buahnya. Pria itu keluar dari mobil dan melenggang masuk dengan ekspresi devilnya.
"BRAK!"
Tiger menendang pintu berbahan baja saat membuka pintu terluar. Ia lalu masuk dan berhenti di depan pintu geser otomatis yang hanya bisa terbuka setelah pemindaian wajah.
"Selamat datang, Tuan!" sapa mereka semua membungkuk setengah badan.
Suasana terasa semakin mencekam saat Tiger menatap tajam satu per satu anak buahnya. Dada bidangnya naik turun dengan cepat diiringi deru napas kasar. Ia menggeser langkah kakinya perlahan, masih dengan tatapan sama pada setiap orang yang berdiri di sana.
Setelah memindai melalui ketajaman mata, Tiger menyeringai semakin dingin. Ia meraih deagle yang selalu ada di saku jasnya, mengarahkan pada satu per satu pria yang berbaris di depannya. Tubuh mereka gemetar seketika. Debaran jantungnya pun kian meningkat.
"Saya sudah pernah mengatakan sebelumnya, saya tidak akan pernah memberi toleransi pada pengkhianat." Serunya dingin membuat semua yang mendengarnya bergidik.
"DOR!"
...Bersambung~...
__ADS_1
π€ terima kasih banyak supportnya, Bestie π like dan komen kalian bikin semangat!! π₯π₯π₯π₯Lope you sekebon cabe milik tetangga πΆπΆππ