
Tiger merasa khawatir. Ia menangkap kedua bahu Jihan, namun perempuan itu segera mundur dan menepisnya. Tatapannya menghunus tepat pada bola mata Tiger.
"Sayang, maafin aku!" ucap Tiger.
"Jangan panggil aku sayang! Kamu lupa ingatan? Baru semalam kamu mengatakan aku ini murahan! Tidak punya harga diri! Dan paginya langsung bilang sayang?" Jihan tertawa sinis melipat kedua lengannya. "Sepertinya kepala Anda terbentur, Tuan!" ketus Jihan melotot tajam.
Tiger menelan salivanya berat. Ia bisa melihat luka itu. Sungguh kesalahannya kali ini memang sangat fatal. "Aku salah, aku minta maaf!" ucapnya berlutut lalu memeluk kaki Jihan.
Tidak bisa, air mata Jihan kembali jatuh. Ia berusaha keras melepas lilitan tangan kekar Tiger. "Lepas! Lepasin aku, Tiger!" Jihan memukul-mukul bahu Tiger.
Mendengar jeritan mamanya, Cheryl berlari dengan kedua kaki kecilnya menuju pintu. Menggigit tangan Tiger yang membelit kaki Jihan.
"Aaarghh!" Tiger melepasnya karena gigitan itu sangat kuat.
"Cheryl!" ucap Jihan lalu berjongkok dan memeluk putrinya.
__ADS_1
Cheryl menatap Tiger dengan sangat tajam. "Jangan sakiti mamaku!" tegasnya memeluk erat leher Jihan, namun masih melempar tatapan tajam pada Tiger.
Air mata Tiger pun semakin deras berjatuhan. Ia menyeka kedua pipi dan mengulurkan kedua lengannya. "Cheryl, ini papa, Nak!" ujarnya lembut.
"Tidak mau! Kamu jahat! Kamu menyakiti mamaku!" ketusnya memeluk Jihan dengan posesif.
"Maafin papa!" ucapnya pelan dengan isak tangis.
"Cheryl, masuk sama Mbak ya, Nak. Main sama Mbak, atau mau belajar menggambar?" Jihan mengalihkan perhatiannya.
"Iya, Sayang. Mama nggak apa-apa. Mama kerja dulu ya. Cheryl anak pintar, anak baik dan kuat. Kesayangan mama juga nggak boleh nangis. Sama mbak dulu ya, Nak," ucap Jihan lembut dan bergetar lalu menatap Mbak Lala agar membawanya ke kamar.
Mbak Lala segera mengambilnya. Meski Cheryl enggan meninggalkan ibunya. Dia takut mamanya kesakitan. Masih menangis meraung dalam pelukan pengasuhnya.
"Kamu lihat? Ketika kamu menyakitiku, bukan hanya aku yang tersakiti. Tapi juga anakku. Betapa tajamnya lidahmu itu, Tiger. Menghancurkan semua mimpi-mimpi indahku untuk membawa Cheryl dalam keluarga utuh." Napas Jihan memburu dan berembus pendek-pendek.
__ADS_1
Tiger semakin menangis dan memeluk Jihan dengan erat. "Maafkan aku, Sayang. Maaf! Aku memang bodoh dan terlalu emosi. Aku takut, Sayang. Aku takut kehilanganmu!"
"Sebuah hubungan tidak akan berjalan baik jika tidak ada kepercayaan di dalamnya. Aku sudah menumbuhkan itu sejak lama. Tapi kini, kamu patahkan lagi." Jihan tak membalas pelukan itu. Kecewa, hatinya benar-benar kecewa dan sakit.
"Katakan! Apa yang harus aku lakukan untuk menebus semuanya!" Tiger mengeratkan pelukannya.
Namun jiwa Jihan seolah hampa dan kosong, "Tidak ada. Menjauhlah agar aku bisa menyembuhkan lukaku sendiri. Percuma kita hidup bersama tapi tidak ada kepercayaan itu. Percuma kita bersama tapi tidak bisa menghargai pasangan kita. Tolong menjauhlah dulu saat ini. Semakin aku melihatmu, luka itu semakin menganga!"
Hancur sudah harapan Tiger. Tergerus dalam penyesalan yang teramat dalam. Ia menggeleng dan menangis kuat. Berbeda dengan Jihan yang tanpa ekspresi.
Setelah beberapa lama, Jihan masih sama. Tidak bereaksi apa pun. Tiger melepasnya, menatap sendu sepasang manik Jihan. "Baik, aku akan selalu berada di dekatmu namun tidak terlihat. Agar kamu bisa cepat menyembuhkan luka hatimu. Kalian hidupku, rumahku, kembalilah jika hatimu sudah pulih. Maafkan aku, Sayang!" Tiger mencium kening Jihan sangat lama.
Hanya air mata yang mengalir, tanpa dibalas apa pun. Tiger mundur, Jihan beranjak pergi dan beraktivitas seperti biasa. Tiger bergeming dengan embusan napas berat dan tatapan nanar.
Bersambung~
__ADS_1
Satu Bab lagi😘