The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 36. PERASAAN APA INI?


__ADS_3

"Cih! Nggak mau ngaku!" ledek Rico masih menertawakan sang bos apalagi melihat wajahnya yang kini mulai memerah. Terlihat semakin menggemaskan.


"Bodo amat!" sahut Jihan menghempaskan punggungnya, melempar pandangan ke luar jendela.


Jihan yang berada dalam kekesalan membuncah meminta Rico mengantarnya pulang saja. Berendam dengan berbagai aroma terapi mungkin bisa mengembalikan suasana hatinya.


Setelah satu jam berendam, Jihan memutuskan untuk menonton film favoritnya. Tak terasa, ia ketiduran sampai menjelang sore. Begitu keluar kamar, Jihan menemukan Bi Sari sedang menyiapkan makan malam.


Untuk mengusir kebosanan, Jihan belajar memasak. Agar suatu hari tidak repot ketika harus tinggal sendiri. Bertempur di dapur, hal yang seumur hidupnya baru ia lakukan akhir-akhir ini.


"Ternyata seru juga. Apalagi kalau masakan kita enak ya, Bi. Puas banget!"


"Betul, Nyonya. Saya yakin, tuan pasti sangat menyukainya!" puji Bi Sari.


Menjelang malam, asisten rumah tangganya harus pulang. Jihan beralih ke membersihkan diri lalu memilih menonton televisi di ruang tengah. Ia melirik ponsel yang tidak pernah ada notifikasi.


Sebelumnya mungkin terasa biasa saja. Tapi, entah kenapa akhir-akhir ini Jihan merasa kesepian.


"Dia bilang cuma boleh hubungi dia aja. Tapi dia sendiri nggak pernah hubungi aku?! Ck! Percuma HP bagus tapi nggak kepake!" gerutunya menghempaskan ponsel ke sofa.


"Oh, jadi nungguin?"

__ADS_1


Jihan tersentak ketika sebuah suara bariton tiba-tiba menelusup pendengarannya. Matanya bergerak ke kiri dan kanan tanpa menoleh. Dadanya berdegub hebat.


"Kenapa nggak hubungi duluan? Kamu 'kan tahu aku sangat sibuk," lanjut pria itu lagi mendudukkan tubuhnya di sebelah Jihan.


Lagi-lagi wanita itu terdiam, tiba-tiba dia teringat dengan dua perempuan yang menyerangnya tadi siang. Ada kekesalan yang memupuk di hatinya.


"Sibuk dengan wanita lain?!" gumamnya pelan tak mengindahkan kehadiran suaminya yang baru saja melepas jasnya.


Aroma maskulin yang sudah bercampur keringat suaminya kini menyeruak dalam indera penciuman. Darahnya berdesir diiringi debaran kuat di jantungnya. Ingin rasanya saat ini menghambur ke pelukan dada bidang pria itu menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya yang sudah mulai mencandu.


'Sial! Perasaan apa ini!' kesal Jihan dalam hati.


"Wanitaku cuma kamu!"


DEG!


Kalimat yang keluar dari tenggorokan Tiger itu tentu saja membuatnya berbunga-bunga. Getaran di dadanya juga semakin keras. Apalagi ketika matanya menyelami manik abu suaminya yang selalu membuatnya hanyut dalam tatapannya.


Jihan memalingkan muka ke samping, "Ya! Di sini cuma aku. Tidak tahu di luaran sana. Oh, pantas saja aku dipecat. Pasti biar bisa bebas bermain dengan para cabe-cabean kamu itu!" sindir Jihan dengan ketus.


Kerutan di dahi pria tampan itu semakin dalam, tidak mengerti dengan maksud perkataan istrinya. Ia semakin merunduk dan mendekatkan wajahnya. Napas hangat dan segar kini menerpa wajah cantik Jihan. Ia hanya bisa menahan jantungnya yang hampir terlepas dari dadanya.

__ADS_1


"Cabe-cabean? Apa maksudmu?" gumam Tiger menaikkan dagu Jihan.


"Iih kamu itu emang bodoh apa pura-pura bodoh? Barusan aku di ...." Jihan menutup mulutnya dengan cepat, hampir saja mengatakan pertemuannya dengan para wanita genit itu.


Tidak bisa dibayangkan apa yang akan Tiger lakukan jika tahu. Rico saja sudah mengerikan bagi Jihan. Apalagi sang boss. Jihan menutup bibirnya dengan rapat.


"Apa? Kenapa berhenti?" tanya Tiger penasaran.


Tangan lebar pria itu menarik paksa lengan Jihan, tatapannya menuntut ingin penjelasan. "Cepat katakan!" perintahnya dengan tatapan menuntut.


Tiger berdiri, melepas lilitan dasi di kerah bajunya. Satu per satu kancing kemeja pria itu dibuka hingga kini dada bidang pria itu terpampang jelas, membuat Jihan meneguk salivanya. Tatapan mesum pun dilayangkan pada Jihan.


"Eee ... mau ngapain?" Jihan panik sembari menatap sekeliling. Tubuhnya semakin merapat pada sandaran sofa, menaikkan bantal sofa hingga ke wajahnya.


"Iya! Iya! Aku katakan! Aku katakan sekarang!" pekik Jihan menutup matanya ketika Tiger hampir membuka kancing celananya.


Bersambung~



ahh... RaMes 🤣

__ADS_1


__ADS_2