The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 56. AMBYAR


__ADS_3

Sudah puluhan putung rokok yang menumpuk pada asbak di hadapan Tiger. Botol minuman juga berserakan di meja. Pria itu menghabiskan waktu di ruang kerja rumahnya. Ruangan tersebut dipenuhi asap rokok dan bau minuman. Kedua matanya memerah, wajahnya pucat pasi dengan pakaian yang berantakan.


Sengaja dia memantau dari rumah karena berharap Jihan akan pulang. Sunyi, sepi dan khawatir kini membuncah dari benaknya. Sesak pun kian mendera dadanya sejak kepergian Jihan.


"Apa kesalahanku terlalu fatal hingga kamu tidak bisa memaafkan aku, Jihan?" gumamnya dengan mata berkaca-kaca. Dua malam ia lewati hanya memejamkan matanya selama dua sampai tiga jam saja. Selebihnya ia habiskan waktu untuk terus menelusuri keberadaan Jihan.


Terdengar notifikasi bersamaan yang masuk ke dalam surelnya. Buru-buru Tiger membuka dan membacanya. Ternyata itu adalah titik lokasi keberadaan ponsel Jihan dan juga Rico.


Kening pria tampan itu mengerut dalam. Pasalnya saat memperbesar titik lokasi tersebut, ponsel Rico berada di kedalaman perairan. Ia menopang dagu sesekali mengusap rahang kokohnya. "Hmmm! Cerdas sekali!" senyum getir terulas di bibirnya.


Tiger lalu mengeluarkan ponselnya, ia menekan angka darurat agar segera terhubung dengan Dylan, orang kepercayaannya. Waktu masih menunjukkan pukul 8 pagi.


"Selamat pagi, Tuan!" sapa Dylan di ujung telepon.


"Sudah mengecek lokasi keberadaan Jihan? Bukankah ini semalam ketemunya. Bagaimana mungkin Jihan berada di mall tengah malam?" seru Tiger yang kini beralih melihat titik lokasi ponsel Jihan.


"Dua orang langsung berangkat ke sana tadi malam, Tuan. Pagi ini akan segera eksekusi. Hasilnya akan segera dilaporkan," tandas Dylan.

__ADS_1


"Saya tunggu secepatnya!" tegas Tiger menutup teleponnya.


Tiger mengusap wajahnya dengan kasar, ia melempar punggung kokohnya pada sandaran kursi. Lelah dan ngantuk menerpanya, namun Tiger berusaha bertahan. Usahanya yang masih porak poranda, serangan musuh yang belum terkuak, kini ditambah istrinya menghilang. Kepalanya serasa mau pecah saat ini juga.


Dengan sempoyongan Tiger beranjak ke kamarnya untuk membersihkan diri. Rutinitas setiap pagi seperti biasa harus memuntahkan isi perutnya. Meski hanya cairan saja. Sudah satu bulan lebih dia mengalaminya. Terkadang merasa lelah, namun berulang kali diperiksa dokter pribadi, dokter perusahaan hasilnya tetap sama. Kesehatannya baik-baik saja.


Gemericik air wastafel masih ia kucurkan usai membersihkan wajahnya. Tatapannya tertuju pada dirinya sendiri. Sorot matanya seolah memancarkan lorong waktu melemparnya ke masa lalu. Bibirnya tersungging senyum tipis ketika bayangan Jihan memijit tengkuknya tampak di pelupuk mata.


Senyum itu kembali pudar ketika kilasan-kilasan masa lalu kembali berputar dalam ingatannya. Mulai dari awal pertemuan mereka dimulai dari melecehkan wanita itu, tekanan demi tekanan yang ia terima untuk menikahi Jihan yang berakibat membenci wanita itu, hingga pasca pernikahannya, banyak sekali perbuatan kasar yang ia lakukan pada istrinya itu.


Sadar dengan semua kesalahannya. Tiger benar-benar menyesal. Kecewa dengan dirinya sendiri yang selalu melampiaskan emosinya pada Jihan. Dadanya teramat sesak, terlintas kembali air mata Jihan, raut wajah ketakutan hingga senyum dan tawa perempuan itu terus berputar di kepalanya.


"Aku akan hapus semua kesedihan dan air matamu. Kembalilah Jihan! Maafkan aku!" tangis pria itu pecah di kamar mandi. Kedua bahunya bergetar hebat, tangisnya menggema di ruangan lembab tersebut.


Hingga tak berapa lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu kamarnya. Tiger kembali mencuci mukanya kemudian melenggang keluar.


Tampak Bi Sari berdiri di hadapannya. Tiger hanya menatapnya tajam, membuat ART tersebut meremang seketika.

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Ada surat dari rumah sakit," ucap Bi Sari menyodorkan sebuah surat berbalut amplop putih yang terdapat kop sebuah rumah sakit swasta.


Tiger menautkan kedua alisnya. "Surat apa?" tanya pria itu dengan suara dingin dan hanya menatapnya.


"Tidak tahu, Tuan. Bibi hanya menerima dari kurir. Alamatnya sudah benar, ditujukan untuk Nyonya. Mungkin itu hasil pemeriksaan Nyonya, Tuan," ungkap Bi Sari.


Barulah pria itu menerimanya. Lalu menutup pintu kamar setelah berucap terima kasih.


"Tu ....!" Baru saja mau bertanya tentang sarapannya sudah keburu ditutup. "Rumah ini jadi berubah menyeramkan semenjak kepergian Nyonya," celetuk Bi Sari melenggang pergi.


Di dalam kamar, Tiger duduk di tepi ranjang. Menyobek ujung amplop panjang itu dengan tidak sabar. Segera mengeluarkan kertas yang ada di dalamnya dan matanya bergerak cepat untuk membaca laporan tersebut.


Dadanya berdetak semakin cepat, saat tertera nama Jihan di ujung teratas surat tersebut. Ia takut Jihan kenapa-napa. Dan setelah sampai bawah, tubuhnya bergetar hebat, kedua tangannya mencengkeram rambutnya dan menunduk dalam. Napasnya tersengal-sengal.


"Aaarrggghh!" pekiknya meluapkan kekesalan di dadanya.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2