
Jihan merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar tersebut sembari menghela napas berat. Tangannya menggenggam erat jemari Tiger.
"Aku bahkan tahu, wanita yang kamu selamatkan itu adalah tunanganmu," ucapnya tanpa menoleh.
Hanya tersenyum getir ketika mengingatnya. Namun sebisa mungkin Jihan menahannya, tidak ingin merusak suasana temu kangen dengan mengedepankan emosinya.
"Apa?" Tiger tersentak, menelan salivanya yang terasa begitu berat, diiringi debaran jantung yang sudah seperti bermarathon.
Tangan lebarnya berusaha keras untuk menggenggam balik jemari Jihan. Meski sangat sulit sekali. Ia sungguh ketakutan. Takut jika Jihan salah paham.
"Jadi, kamu sempat berbincang dengan Erent?" tanyanya memastikan dengan sedikit keraguan.
"Ya!" Jawaban singkat Jihan membuat Tiger panik.
"A ... apa yang dia katakan?"
Jihan merasakan hawa ketakutan dari suaminya. Ia beranjak duduk, menyandarkan punggungnya namun lengannya bergerak memeluk kepala suaminya, sedikit menunduk dan menyatukan hidung keduanya. "Dia bilang kalian sempat bertunangan, namun setelahnya dia disekap oleh Zero sampai kalian bertemu lagi," ucapnya dengan napas menderu sembari memejamkan mata.
__ADS_1
"Maaf! Itu pasti mengejutkan juga menyakitimu!" ucap Tiger berusaha mengecup kening Jihan yang masih tak berjarak dengannya.
"Apa dia masih ada di hatimu?" tanya Jihan membuka kelopak mata dan sedikit membuat jarak dengan wajah Tiger untuk menemukan kejujuran di sana.
Sepasang manik abu Tiger menatapnya lekat, menerobos hingga terasa sampai ke jantung Jihan. Pria itu betah berlama-lama menatapnya, "Ini salahku. Semua sumber masalah ada padaku." Tiger kembali membuka kenangan masa lalunya.
"Dulu aku pernah dikhianati, ketika aku benar-benar memberikan seluruh cinta yang aku punya. Erent datang saat aku sedang hancur. Dia selalu berusaha menghiburku, membantu membalut luka hatiku. Dia menawarkan cinta yang sudah membuatku mati rasa. Tapi dia pantang menyerah, sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk bertunangan saja. Meski sebenarnya, aku tidak mencintainya."
Jihan masih bergeming memasang kedua telinganya, meneguhkan hati agar tidak runtuh mencari kebenaran dari suaminya. Juga, memastikan posisinya saat ini.
"Setelah itu dia menghilang, yang semakin menguatkan persepsiku kalau semua wanita sama saja. Termasuk saat aku melihatmu."
Jihan hampir menangis, ia mengira Tiger hanya sekedar menganggapnya istri di atas kertas saja. Sekedar memenuhi tanggung jawabnya.
"Tiba-tiba Zero menghubungi. Aku baru tahu kalau Erent disekap selama satu tahun. Aku merasa bersalah, karen motif Zero hanya untuk balas dendam kepadaku. Hingga saat menyelamatkannya, terjadilah tragedi itu. Tapi sungguh, aku tidak ada perasaan apa pun padanya," jelas Tiger melihat kedua mata Jihan memerah.
"Ya, dia sudah berkorban banyak untukmu. Sedangkan aku, hanya terus menyusahkanmu. Karena itulah aku menjadi insecure. Aku tidak punya apa-apa untuk dibanggakan," Jihan menatap lurus ke depan.
__ADS_1
"Jadi itu alasan kamu pergi dariku? Kata dokter aku koma selama satu tahun. Benarkah selama itu kamu pergi?" tanya Tiger memastikan.
Jihan mengangguk, "Hmmm, agar aku bisa bersaing dengan bibit-bibit pelakor. Setidaknya, ada yang aku banggakan dan tidak hanya numpang tenar dengan namamu," Jihan memicingkan matanya menyombongkan diri.
Ia tidak mau memberi tahu siapa yang berada di balik layar atas kesuksesannya. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya. Dan permasalahan mereka diselesaikan dengan kepala dingin oleh kedua belah pihak. Lagi pula, Tiger juga belum sembuh.
"Dan aku sangat bangga sama kamu, istriku, ibu dari anak-anakku," ujar Tiger memutar bola matanya agar bertemu dengan manik sang istri.
"Apa ada cinta untuk istrimu itu?" Jihan menggigit bibir bawahnya.
"Haiihh! Pertanyaan apa itu?! Apa kamu nggak bisa merasakannya selama ini? Harus berapa ribu kali aku bilang, hah?! Andai aku tidak sakit, aku habisi kamu di sini sampai tidak bisa berjalan!" geram Tiger.
"Iihh serem, jadi takut," sahut Jihan tertawa. Tentu saja dia bisa merasakan cinta Tiger yang begitu besar padanya.
Jihan kembali membungkuk, mempertemukan bibir mereka yang kemudian saling memagut lembut. Langkah dokter dan perawat yang akan melakukan visit pun seketika terhenti di depan ruangan tembus pandang itu. Mereka memutuskan kembali lagi nanti karena tidak berani merusak suasana.
Bersambung~
__ADS_1
Semangat Senin bestiee....💕💕🐯