
Dokter perempuan itu mengembuskan napas berat. Raut lelah dan sedih menguar dari wajahnya. "Pendarahan pada otaknya berhasil kami hentikan, Tuan. Tapi, cedera tersebut mengakibatkan pasien mengalami koma. Saat ini harus dirawat intensif di ICU. Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin," tutur dokter tersebut.
Pijakan kaki Milano seolah runtuh. Dadanya seperti terhantam beban yang sangat berat. Air matanya menyeruak meski tanpa suara. Bian segera menopang tubuh pria paruh baya itu, memapahnya menuju ruang ICU.
Sementara itu di ruangan lain, Jihan melenguh baru tersadar dari pingsannya. Awalnya mengerjap dengan pelan. Pandangannya lurus pada langit-langit rumah sakit.
Ingatannya kembali berputar pada kejadian beberapa jam yang lalu. Sontak, Jihan bangun dengan sangat cepat. Rico yang baru saja masuk usai menerima telepon pun terkejut, segera berlari menghampiri Jihan yang tersengal-sengal.
"Ric! Mana Tiger? Tiger baik-baik saja, 'kan?" tanyanya penuh harap menggoyangkan kedua lengan pria itu.
Napas Rico berembus dengan sangat berat. Ia menunduk, takut menyampaikan berita yang baru saja ia terima dari Bian.
"Jawab, Ric! Jangan diam saja!" teriak Jihan yang seketika mengerang kesakitan. Merasakan nyeri yang luar biasa pada pangkal paha dan juga perutnya.
Rico mencoba menenangkan, memintanya untuk kembali berbaring karena khawatir dengan kondisi wanita itu, namun Jihan menepisnya dengan kasar. "Tuan ...." Rico menarik napas dalam-dalam.
__ADS_1
"Katakan!" sembur Jihan memukul dada Rico sangat keras.
"Tuan ... koma, pasca menjalani operasi," balas pria itu dengan suara lemah dan menunduk. Tidak berani sekaligus tidak tega melihat wanita di hadapannya.
Diam, tidak ada respon apa pun. Jihan menatap nanar dengan pandangan kosong. Kedua lengan yang sedari tadi memukul Rico, kini meluruh. Lemas seolah tak bertulang.
Air mata menghujani kedua manik indah Jihan. Ia sampai tidak bisa berucap apa-apa. Tenggorokannya seperti tercekik dan jantung yang teremas hingga hancur berkeping-keping.
Lama-kelamaan, kedua bahunya bergetar hebat. "Aaaaarrrghh!" jeritnya dengan tangis yang menggema. Ia mendongak, hingga aliran deras air matanya menganak sungai melalui kedua pelipisnya. Tak peduli rasa sakit yang mendera.
"Kamu wanita kuat, ibu yang hebat. Jangan menyerah, mereka berdua sangat membutuhkanmu. Kamulah, sumber kekuatan mereka sekarang." Rico berucap bijak dengan suara bergetar.
Tidak bisa, tetap saja wanita itu menangis menjerit. Rico terpaksa menarik tubuh Jihan ke dalam dekapannya. Kedua tangan Jihan mencengkeram kuat kemeja yang dikenakan Rico. Kepalanya menunduk dalam, meluapkan semua kesedihan dan menumpahkan air matanya.
"Aku nggak bisa tanpa mereka, Ric! Aku nggak bisa!" Suaranya serak karena terus menangis.
__ADS_1
"Iya! Tuan orang yang kuat, begitupun Nona kecil. Mereka pasti bisa melewati masa-masa kritis ini," ucap Rico membelai punggung Jihan naik turun.
"Aku ingin bertemu Tiger, Ric!" rengek Jihan mendongak.
Rico mengangguk pasrah. Ia pun membantu Jihan turun dan mendudukkannya kursi roda, yang memang sudah disediakan di ruangan. Mereka keluar menuju ruang ICU.
Saat berhenti di depan ruangan untuk menutup pintu sejenak, Jihan tersentak kaget ketika netranya menangkap seorang pria bersandar pada dinding depan ruangannya.
Mendengar derit pintu, pria itu menoleh. Sepertinya ia mendengar semua percakapan Jihan dan Rico. Karena kedua matanya tampak memerah saat menatap raut terkejut Jihan.
Jihan menelan salivanya dengan berat. Tangannya mencengkeram kedua sisi kursi rodanya. Ada ketakutan yang terbesit di benaknya.
"Tu ... Tuan Zero. Anda mau apa?" tanya Jihan memaksa manik matanya bersitatap dengan netra pria itu.
Rico mengerutkan dahinya. Ia segera memundurkan kursi roda Jihan dan berdiri di hadapannya, untuk melindungi wanita itu. Karena sepengetahuannya, pria tersebut sangat berbahaya.
__ADS_1
Bersambung~