The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 38. KARENA AKU MENYUKAIMU


__ADS_3

Tiger merasakan dadanya seperti meledak mendengar ucapan Jihan. Hawa panas menjalar hingga ke ubun-ubun. Tubuhnya menghimpit Jihan yang tidak berani menatapnya.


Meski rasa takut merayapi seluruh tubuh, namun Jihan yakin ini yang terbaik untuknya. Jihan tidak ingin jatuh ke lubang yang sama. Mencintai orang yang salah dan tidak pernah membalas cintanya.


Hal itu tentu saja menyulut emosi Tiger. Ia mencengkeram dagu Jihan, mengangkatnya agar saling berpandangan. Manik biru itu berubah nyalang.


"Sudah pernah kubilang, jangan pernah berani pergi dariku!" ucap Tiger menekankan setiap katanya.


"Apa tujuan kamu sebenarnya? Kamu takut dengan Leon? Aku akan membantu bicara dengannya. Atau kamu hanya ingin menjadikan aku pelampiasan nafsumu? Di luar sana banyak wanita yang bisa kamu dapatkan dengan mudah! Biarkan aku menjalani hidupku sendiri bersama buah hatiku." Jihan menutup perut dengan kedua lengannya.


Tenggorokannya tercekat, namun mencoba mengeluarkan suara. "Tiger, satu-satunya sumber kekuatanku adalah anakku. Jika kelak kamu ingin memisahkannya dariku, mungkin lebih aku mati saja!" tegasnya masih berlinang air mata. Ia harus memastikan keselamatan anaknya sejak saat ini.


"Bicara apa kamu, hah?!" berang Tiger mengangkat satu tangannya hendak menampar Jihan, sedang tangan lainnya masih mencengkeram bahu wanita itu.

__ADS_1


Jihan mendongak, ia menatap nanar suaminya yang wajahnya memerah karena emosi. Bibir wanita itu membentuk senyuman dan tak tampak ketakutan sama sekali. "Silakan tampar aku. Silakan sakiti aku sepuasmu. Tapi aku mohon jangan pernah sakiti anakku dan juga ibuku," pintanya memohon.


Gerakan Tiger terhenti, tangannya mengambang di udara. Dadanya naik turun dengan deru napas kasar. Ia menghempaskan bahu Jihan dengan kasar. "Aaarrghh! Brengsek!" pekiknya memukul dan menendang tembok berulang untuk melampiaskan kekesalannya.


Jihan menunduk, kepalanya sedikit berputar-putar. Setelah puas meluapkan amarah dengan benda mati, Tiger kembali berdiri di hadapan Jihan. Napas yang masih tersengal-sengal sangat jelas terdengar.


Kedua tangannya menangkup bahu Jihan dan mencengkeramnya dengan kuat. Tanpa diduga, Tiger menarik wanita itu ke dalam pelukan hangatnya. Memeluk dengan sangat erat seolah benar-benar takut kehilangannya.


"Jangan pergi! Jangan pernah pergi dariku!" gumam Tiger dengan suara pelan. Mencium puncak kepala Jihan.


"Bagaimana jika kamu yang ternyata pergi meninggalkanku? Disaat aku sudah terlena dengan bujuk rayumu, hanyut dalam dekapanmu, tiba-tiba kamu menghilang? Jangan egois, Tiger." Jihan menjeda ucapannya sebentar. Mengatur napasnya yang terasa sesak di dada. Kilasan masa lalu yang begitu menyakitkan kembali terbuka. Lelehan air mata membasahi kaos yang dikenakan Tiger.


"Aku sudah pernah kehilangan. Aku sudah pernah bodoh mencintai pria yang salah. Ketika aku berikan seluruh hidupku padanya, dia justru menginjak-injak harga diriku. Sakit, Tiger! Sakit! Aku nggak mau kembali merasakannya lagi! Tolong jangan hukum aku!" seru Jihan yang suaranya mulai serak.

__ADS_1


Tiger kesulitan bersuara, seolah tersangkut di tenggorokan. Ia hanya memeluk erat wanitanya itu. Dia bukan pria yang mudah mengatakan perasaannya. Karena ia pun sama, pernah dikhianati dan juga ditinggalkan dengan cara yang sadis.


"Jangan pergi!" hanya itu kalimat yang kembali terucap.


"Kenapa?" tanya Jihan meregangkan pelukannya. Mendongak agar bersitatap dengan sang suami.


"Karena ...." Tiger menelan salivanya dengan gugup.


"Hmmm?" Jihan menunggu kelanjutannya.


"Karena ... aku menyukaimu!" cetus Tiger, dengan cepat melepaskan pelukan Jihan dan membalikkan tubuh membelakangi perempuan itu.


Bersambung~

__ADS_1



maluuu...


__ADS_2