
Cengkeraman kuat pada gelas yang diletakkan Jihan sudah terlihat, bahwa perempuan itu tengah dilanda emosi. Tiger justru beralih mengendus leher jenjang perempuan itu, hingga sekujur tubuh Jihan bergetar. Kelopak matanya terpejam sesaat.
Jihan mengembuskan napas berat, sedikit menjauhkan kepala agar bisa menoleh pada suaminya. "Aku tidak sanggup jika harus bersaing dengan para wanitamu di luar sana. Aku juga tidak akan sanggup jika suatu hari nanti tiba-tiba ada wanita yang masuk ke dalam hidupmu mengaku ibu dari anak-anakmu," ucap Jihan tertawa getir.
Tiger tersenyum samar, hatinya pun kini seolah berteriak. Secara tidak langsung Jihan ingin memilikinya seorang diri. Pria itu berdiri tegak, melingkarkan lengan kekarnya di bahu Jihan dengan bertopang dagu di atas kepala Jihan.
"Terima kasih pengakuannya!" ucap Tiger bersuara lembut.
"Ngaku apa? Orang lagi kesel kok. Nggak peka banget!" cebiknya memutar bola matanya malas.
Suara tawa Tiger membuat Jihan semakin kesal. Pria itu menciumi pipi Jihan dengan gemas, lalu semakin menarik tubuh Jihan hingga merapat pada dada bidangnya.
"Ya karena secara tidak langsung kamu mengakui kalau menyukaiku!" bisiknya bergelayut di bahu Jihan.
"Tentu saja! Kamu suamiku! Dan lagi, tidak ada wanita yang rela suaminya dijamah wanita lain?! Dasar pria maunya menang sendiri!" tegasnya menahan amarah.
"Hei, itu dulu. Sebelum aku mengenalmu. Dan lagi, aku tidak pernah menebar benih di manapun. Karena aku selalu memakai pengaman. Kecuali ... saat melakukannya denganmu! Cuma kamu, wanitaku!" bisik Tiger membelai rambut panjang Jihan.
'Lalu kenapa masih tidak mau mengakui anaknya?' gerutu Jihan dalam hati.
Entahlah, Jihan masih bimbang mempercayai perubahan Tiger yang drastis itu. Ia pun belum bisa percaya sepenuhnya jika dia wanita satu-satunya.
"Aku berharap begitu," gumamnya tersenyum menatap manik abu sang suami.
Tiger bergerak, Jihan mengira akan duduk di kursi. Namun ternyata menekan kedua pipi dan membenamkan ciuman lembut di sana. Dada Jihan seperti tersengat lebah. Ia mencengkeram tepi kaos Tiger dan berusaha membalas ciuman sang suami yang semakin memanas.
Jihan mendorong perut sixpac Tiger saat hampir kehabisan napas. "Tiger, aku lapar," rengek Jihan dengan napas tersengal-sengal.
"Oh, maafkan aku. Bibirmu sangat mencandu dan selalu menggodaku!" gumam Tiger menyatukan keningnya lalu memberi kecupan di setiap jengkal wajah Jihan. Membuat wanita itu terkikik geli dengan bulu halus pada rahang suaminya. Tiger pun turut tertawa melihat senyum lebar dari wanitanya itu.
Suasana menjadi hangat. Hawa dingin yang biasanya dirasakan Jihan telah meleleh. Meski masih ragu, tapi tak dapat dipungkiri dia sangat bahagia saat ini.
Tiger pun segera mendudukkan tubuhnya di sebelah Jihan. Memulai makan malam yang sudah dihidangkan oleh Jihan. "Ini serius kamu yang masak?" tanyanya sembari menyuapkan makanannya.
Jihan mengangguk berkali-kali karena sedang mengunyah. "Iya, aku bantuin Bi Sari tadi," sahutnya setelah menelan.
__ADS_1
"Bantuin apa?"
"Nyicipin! Hahaha!"
"Sudah kuduga."
Tawa keduanya pun menyembur begitu saja. Pertama kali dalam sejarah hidup mereka, makan malam yang hangat dalam satu meja diiringi senda gurau. Menghilangkan sikap datar dan dingin Tiger yang selama ini membingkai wajahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Usai makan malam, Tiger masih harus menyelesaikan pekerjaan. Ia langsung berpamitan menuju ruang kerja yang bersebelahan dengan kamar mereka.
Jihan yang sudah tidur seharian tidak merasa mengantuk. Ia menonton televisi di kamar. Berbagai posisi sudah ia coba. Menggonta-ganti channel pun sudah dilakukan, tetap saja dia dilanda kebosanan.
Wanita itu pun mengganti gaun tidurnya, karena merasa gerah. Melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dia pun keluar dari kamar. Samar-samar dia mendengar suara Tiger yang sedang berkomunikasi dengan orang lain melalui laptopnya.
"Lalu, apa kamu sudah menemukan sesuatu dari ponsel para penyusup itu?" tanya Tiger. Jihan berdiri di balik dinding, pintunya sedikit terbuka.
"Tuan, semua nomor yang tertera dalam riwayat panggilan tidak bisa dihubungi. Kemungkinan mereka menggunakan burner phone (telepon sekali pakai). Dan mereka langsung menghancurkannya. Kami masih belum bisa melacak sumbernya, Tuan!" lapor dari sang bawahan yang didengar oleh Jihan.
"Maaf, Tuan. Tapi untuk sementara kita tidak bisa melakukan transaksi. Setelah kejadian kemarin, polisi memperketat pemeriksaan di semua jalur. Baik darat maupun laut."
Kepalan tinju di kedua tangan Tiger semakin kuat. Gerahamnya mengeras dengan gigi yang bergemeluk. Otaknya memanas memikirkan kliennya yang mungkin akan berbalik menyerangnya.
"Minta semuanya untuk selalu bersiaga! Takutnya mereka akan menyerang markas kita. Saya akan mencoba untuk mengulur waktu," ucap Tiger lalu mematikan sambungan komunikasinya.
'Barang? Polisi? Diserang? Apa ini?' batin Jihan bingung sekaligus takut.
Jihan melenggang menuju dapur. Meski kebingungan dan ketakutan melandanya. Ia mencoba menepis pikiran-pikiran buruk. Wanita itu membuatkan kopi untuk Tiger lalu mengantarnya ke ruang kerja suaminya.
"Tiger, aku masuk!" seru Jihan tanpa menunggu jawaban menerobos masuk membawa secangkir kopi.
Lelaki itu melepas kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya. Wajahnya yang menegang berubah lembut saat melihat istrinya mendekat. Napasnya berembus berat ketika melihat Jihan yang mengenakan pakaian malam tipis dan sexy.
"Kirain udah tidur," ucap Tiger tersenyum lembut.
__ADS_1
Jihan meletakkan kopi di meja, lalu Tiger menarik pinggangnya dengan posesif, mendudukkan wanita itu di atas pangkuannya. "Terima kasih!" ujarnya mencolek ujung hidung Jihan.
"Masih lama?" tanya Jihan mengabaikan semua ucapan Tiger.
"Kenapa? Kangen?" goda Tiger merapatkan punggung Jihan dan memainkan jemarinya di sana naik turun hingga membuat wanita itu menggeliat.
Jihan mengalungkan lengannya pada leher kokoh sang suami. Memberikan senyum manis sembari menggerakkan ujung hidungnya pada hidung mancung Tiger. "Emm ... mungkin," sahutnya mengedipkan sebelah mata.
"Genit banget!"
Tanpa berlama-lama, Tiger segera meraup tubuh Jihan dalam gendongannya. Langkahnya pelan namun tegas menuju kamar. Dan pertempuran panas dua sejoli itu pun segera berlangsung.
Hubungan dengan rasa yang berbeda, tanpa paksaan, tanpa ketakutan, keduanya sangat menikmati pergulatan tersebut. Menguras keringat, saling memberi kepuasan pada pasangan masing-masing. Mencapai puncak nirwana bersama-sama. Ranjang king size itu pun berubah berantakan.
Teriakan nama Tiger terus keluar dari mulut Jihan, sesekali dibungkam bibir pria itu dengan ciuman panasnya. Kedua tangan Jihan meremat belakang kepala Tiger.
Dan saat mencapai puncaknya, Jihan melengkungkan punggungnya dengan tangan menjambak rambut lelaki itu hingga membuat Tiger mengerang kenikmatan bercampur rasa sakit di kepalanya.
"Sayang!" pekik lelaki itu merebahkan kepala di dada Jihan.
"Maaf!" sahut Jihan terkekeh dengan napas tersengal-sengal.
Setelah beberapa saat meredam lelah, Tiger melepas penyatuannya. Ia mencium seluruh wajah Jihan, menatapnya lekat. "Terima kasih, Sayang!" ucapnya lalu mencium bibir Jihan.
Pria itu segera membersihkan diri. Sedangkan Jihan menatap kedua telapak tangannya yang menggenggam beberapa helai rambut Tiger. "Maaf, Macanku!" gumamnya meringis membayangkan betapa sakitnya saat rambut itu tercabut dari kulit kepala.
Bersambung~
mau ngapain, Ji? Mau santet? Bukannya macanmu sudah kelepek2. Awas didemo emak2... Macanmu terkadang jadi kesayangan mereka 😄😄
btW mon maap ga bisa panas2 yaa.. pokoknya bayangin aja sendiri sepanas apa. othor voloss.. wkkwkwk
manis manis terooosss ampe diabets 😂 iki woakeh rek, jan bilang kurang lagi ya bestiee... banyakin aja komennya 😄😄
__ADS_1