
"Ayo! Jangan sampai suamimu kenapa-napa?" ucap pria itu mengulurkan tangan pada Jihan usai meletakkan Tiger di kursi penumpang.
Jihan beranjak berdiri, mengabaikan uluran tangan tersebut. Ia memalingkan muka dan membersihkan pakaiannya. Bingung harus bagaimana ia bersikap.
Pria yang tak lain adalah Rico, tersenyum sambil mengedikkan bahu. Lalu menyusul Jihan dan duduk di balik kemudi. Sedangkan wanita itu memangku kepala Tiger di belakang. Ia menatap wajah suaminya yang memucat.
Sepanjang perjalanan, Jihan hanya memperhatikan Tiger. Pandangannya tak lepas dari sang suami, wajah yang biasanya menampilkan raut garang dan mengintimidasi kini terlihat seperti bayi yang sedang terlelap.
Tidak memperhatikan jalan, Jihan terkejut ketika berhenti di pelataran apartemen ia tinggal. Wanita itu melebarkan matanya sembari menelan saliva.
'Bagaimana dia bisa tahu aku tinggal di sini?' gumamnya bertanya-tanya.
Rico segera turun dan menghampiri petugas keamanan yang berjaga. Meminta bantuan untuk membawa Tiger ke apartemen Jihan.
Tiba di kamar, Jihan segera membuka sepatu yang masih melekat di kaki suaminya. Lalu membuka jas dan membuka beberapa kancing kemejanya.
"Aku sudah memanggil Dokter."
Seruan Rico di ambang pintu, mengejutkan perempuan itu. Seketika Jihan menegakkan tubuhnya, lalu berjalan menghampiri Rico. Matanya enggan berkedip melihat pria itu.
"Kenapa? Kaget aku bisa menemukanmu?" tembak Rico yang memang benar menebak isi pikiran Jihan.
__ADS_1
"Pasti karena Leon," ucapnya sangat pelan namun penuh tekanan.
Kali ini pria itu yang terkejut. Tidak menyangka Jihan sudah mengetahuinya. "Semua demi kebaikanmu," ucapnya menepuk puncak kepala Jihan sembari mengurai senyum.
Takut tiba-tiba Tiger terbangun, Rico berbalik dan melangkah dengan gerakan lambat menuju ruang tengah. Lalu mendaratkan tubuhnya di sofa, menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi tersebut.
Jihan mengikutinya, benaknya sekarang campur aduk. Ia benar-benar merasa tidak aman. Wanita itu kini berdiri di depan Rico sambil melipat kedua lengannya di dada.
"Kamu penghianat!" sindir Jihan dengan tatapan tajam.
"Aku tidak mengkhianati siapapun!" elak Rico.
Kini lelaki itu mengembuskan napas berat, menatap Jihan dengan intens. "Di sini aku tidak berkhianat, Jihan. Aku hanya menjalankan tugas yang sama dari dua boss besar. Yaitu, menjagamu! Jadi, aku rasa gelar itu tidak cocok untukku!" Rico beranjak dari duduknya ketika terdengar suara bell apartemen.
Seorang dokter umum yang dipanggil oleh Rico kini telah datang. Dengan ramah ia segera menunjukkan kamar Tiger. Seolah dia sang pemilik apartemen tersebut.
Jihan pun diam saja, karena jelas tanpa Rico, ia pasti bingung mau melakukan apa. Karena ini bukan wilayahnya. Tak berapa lama Jihan kembali dikejutkan suara bell. Ia bergegas membukanya, terkejut ketika ada tiga orang berseragam hijau dan orange berdiri di depan pintu dengan membawa beberapa barang di tangannya.
"Cari siapa?" tanya Jihan tanpa basa-basi.
"Apa benar ini alamat Tuan Rico Hermawan?" tanya salah satu di antara mereka.
__ADS_1
"Bukan! Tapi, tunggu! Rico Hermawan? Sepertinya kenal. Sebentar saya panggil orangnya."
Jihan kembali masuk untuk memanggil Rico. Pria itu segera keluar, sedangkan Jihan beralih menunggu hasil pemeriksaan sang dokter.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanyanya khawatir.
"Beliau hanya kelelahan dan stress, Nyonya. Sedangkan tidak ada asupan makanan yang masuk. Jadi saya sarankan untuk memperbaiki pola makannya. Dan ini saya berikan resep untuk memulihkan staminanya." Dokter berbicara sembari menulis resep lalu memberikannya pada Jihan.
"Terima kasih banyak, Dok," ucap Jihan mengantarkannya hingga ke depan.
Jihan mengerutkan keningnya saat tak melihat keberadaan Rico. "Ck! Dasar pengawal nggak jelas. Pantesan duitnya banyak. Bosnya banyak, dan bukan kaleng-kaleng semua!" gerutunya berbalik hendak menemani Tiger.
Namun terjingkat kaget saat Rico tiba-tiba berdiri di hadapannya. "Hah! Untung nggak keluar nih jantung! Ngagetin aja sih!" semburnya melotot tajam.
"Maaf! Maaf! Jangan berisik. Nanti Tuan Tiger bangun. Bisa dibunuh aku. Secara nggak langsung, aku yang membuatnya seperti ini. Dia sampai kayak orang gila karena mencarimu!" protes Rico menutup mulut Jihan. "Aku sudah siapin makanan, kamu pasti lapar karena semua makananmu jatuh tadi," lanjutnya mengedikkan kepala ke arah meja makan.
"Uhuk! Uhuk!"
Terdengar suara batuk yang seketika membuat dua orang itu terlonjak dengan debaran jantung yang berkejaran.
Bersambung~
__ADS_1