
Tidak ada sahutan apa pun. Hanya terdengar deru napas kasar dari suaminya. Seolah untuk mengeluarkan suara saja terasa begitu berat. Jihan mengerjap bingung karena sang suami bersikap tak seperti biasanya.
"Tiger, kamu sedang ada masalah?" Hati Jihan terdesak untuk terus bertanya.
Semakin erat rengkuhan lengan kekarnya, menyusupkan wajahnya mencari tempat ternyaman, namun masih enggan bersuara. Jihan bingung harus bersikap bagaimana. Ia tidak bisa memejamkan mata. Alhasil, Jihan pun turut diam mengatur getaran dalam dadanya karena tubuhnya dalam dekapan sang suami.
"Baiklah kalau tidak mau bicara, tapi bisakah kamu melepaskan lilitan tanganmu? Ini terlalu erat. Kamu bisa menyakiti anakku!" seru Jihan menyentuh lengan kekar itu.
Perlahan Tiger melonggarkannya. Ia sedikit melirik ke arah perut Jihan yang tambak lebih menonjol. Perubahan tubuh Jihan juga tampak drastis. Beberapa bagian tubuhnya lebih berisi dari sebelumnya. Bahkan pipi perempuan itu juga terlihat lebih mengembang.
Jihan mendesah lega, ia memiringkan tubuhnya agar saling berhadapan dengan sang suami. Posisi yang sangat intim membuat gelayar di tubuhnya kembali menanjak. Hormon kehamilan yang meningkat, salah satu alasan Jihan tidak bisa jauh dari suaminya.
Kenyamanan selalu ia rasakan ketika berada dalam dekapan sang suami. Seperti tadi, ia sampai ketiduran di sofa ruang tengah ketika menunggu kedatangan Tiger. Dia tidak peduli bagaimana reaksi Tiger, hanya saja ia ingin selalu berdekatan dengannya. Jihan sendiri pun tidak mengerti, kenapa dirinya seperti itu.
"Kamu terluka?" gumam Jihan ketika menatap wajah Tiger dengan jarak yang begitu dekat.
__ADS_1
Buru-buru ia hendak beranjak dari tidurnya, mencari-cari pakaian yang berhamburan di lantai. Setelah kembali mengenakannya, ia hendak bangkit, namun Tiger langsung menahan gerakannya.
Pria itu melingkari pinggang Jihan, bergerak merebahkan kepala di paha perempuan itu. Menghadap ke perut Jihan dan memeluknya erat. Matanya pun terpejam. Napasnya seolah terasa sesak.
"Jangan pergi," gumam Tiger dengan suara bergetar.
"Sepertinya beban kamu sangat berat ya?" Jihan mengangkat tangannya, membelai kepala Tiger, hingga bisa sedikit memberi ketenangan untuk lelakinya. "Aku cuma mau ngambil kotak obat, kamu terluka," lanjut Jihan.
"Tidak perlu. Ini hanya luka kecil. Biarkan seperti ini saja. Aku hanya butuh ketenangan."
"Hmmm ... baiklah. Sudah makan? Mau aku siapkan?" tawar Jihan. "Tapi, aku belum masak apapun. Hehe!" Jihan menyengir saja.
Tiger membuka matanya. Ia menoleh agar tatapannya saling beradu dengan sang istri. "Jadi kamu belum makan?" Tiger bertanys balik.
Jihan menggeleng kecil sembari menggigit bibir bawahnya. "Sudah kubilang, aku nggak bisa masak," akunya sedikit malu.
__ADS_1
Tiger mengumpat dengan kesal. Ia segera mengenakan celana pendeknya, dan turun dari ranjang meninggalkan Jihan yang masih terpaku di tempat.
"Apa dia marah? Tapi aku memang nggak bisa masak," gumam Jihan.
Wanita itu lebih memilih berendam air hangat untuk membersihkan tubuhnya. Cukup lama ia baru beranjak dan menuntaskan mandinya. Jihan masih tidak menemukan sang suami di kamar.
Kini kaki jenjangnya melangkah menuju walk in closet. Lagi-lagi ia mengenakan pakaian minim dan hanya seutas tali menggantung di kedua bahunya. Rambutnya dibiarkan masih tergelung di dalam handuk.
Jihan pun keluar dari kamar. Maksud hati ingin mengambil buah-buahan untuk mengisi perutnya yang keroncongan.
"Hah?" Jihan terkejut saat melihat pemandangan di depannya.
Bersambung~
Terima kasih banyak supportnya, Bestie 😘 like dan komen kalian bikin semangat!! Lope you sekebon 🌶
__ADS_1