
"Ah! Sial! Ngapain aku diam saja di sini!" seru Rico segera berlari keluar ruangan dengan cepat bahkan tanpa berpamitan.
"Kamu jahat Tiger! Jahat! Aku sudah mengorbankan hidupku demi kamu. Tapi ini balasan darimu!" Erent menangis menjerit, mengepalkan kuat tangannya di tembok, kemudian berbalik dengan cepat dan memukul-mukul dada Tiger, yang membuat alat pendeteksi jantungnya terlepas.
Dengung monitor langsung menggema hingga memekakkan telinga. Bian berlari cepat mencegahnya.
"Erent! Gila kamu!" teriak Bian menarik tubuh wanita itu, menjauhkan dari jangkauan Tiger. Memeluk erat perut rampingnya, meski masih memberontak hebat diiringi jerit tangis memilukan.
Milano segera menekan tombol nurse call dan tak lama kemudian, berbondong-bondong tenaga medis mendatangi ruang ICU tersebut.
Seisi ruangan segera meninggalkan Tiger yang tengah ditangani dokter. Bian menyeret perempuan itu keluar ruangan. Masih tidak terima mendengar kenyataan itu.
Milano beralih menatap Erent, menariknya ke dalam pelukan, berusaha menenangkannya. "Tenanglah, terima kasih banyak pengorbananmu. Sebagai permintaan maaf dan ganti rugi, aku akan memberikan kompensasi. Satu anak perusahaan akan aku lepas untukmu." Milano mengusak rambut gadis itu. Berharap tidak bertindak gila dan lebih tenang.
__ADS_1
"Aku mau Tiger, Om!" seru Erent dengan suara seraknya.
"Tidak bisa, Erent. Masa depan kamu masih cerah ke depannya. Ada yang lebih membutuhkan Tiger saat ini. Apalagi sudah ada anak di antara mereka. Tolong, lepaskan Tiger. Aku tahu ini egois. Tapi, bukankah lebih egois lagi kalau kita memisahkan anak dari ayahnya?" ucap Milano bersuara tenang namun tepat menusuk jantung Erent.
Perempuan itu masih menangis tidak terima. Milano diam, menunggu sampai dia bisa diajak bicara dengan kepala dingin.
Kendatipun begitu, ia tidak mau memberi harapan palsu. Karena beberapa bulan tinggal bersama, membuat Milano tahu bagaimana cinta Tiger untuk menantunya itu.
"Bian, antar Erent kembali ke kamarnya. Lunasi semua biaya perawatannya." Milano meregangkan pelukannya. "Kita bicara lagi ketika kamu sudah tenang, istirahatlah," ucapnya mengusap puncak kepala gadis itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rico bergegas ke parkiran dan melempar tubuhnya pada jok di balik kemudi. Meraih laptopnya untuk meretas semua CCTV yang sekiranya dilalui oleh Jihan.
__ADS_1
Jemarinya bergerak dengan sangat cepat dengan tatapan mata yang menghunus tajam. Sesekali mengembuskan napas berat karena membutuhkan kejelian, ketelitian dan konsentrasi yang tinggi.
"Jihan! Kenapa nggak nunggu aku sih! Apa yang harus aku katakan sama Nyonya Khansa kalau kamu kabur sama bayimu! Bisa ditembak aku dari Korea!" keluhnya menyugar rambut pendeknya ke belakang.
Ia segera menyambungkan laptop dengan alat penunjuk jalan di mobilnya. Setelah beberapa waktu, akhirnya dia berhasil menemukan Jihan yang keluar dari rumah sakit dengan raut wajah shock, pandangan kosong dan langkah kaki yang gontai.
"Akhirnya!" serunya mengepalkan tangan dan berteriak lega.
Di depan rumah sakit, Jihan berhenti di halte bus. Kemudian berpindah bus antar Provinsi. Tak ingin kehilangan jejak, Rico bergegas melajukan mobilnya dan mencari keberadaan bus yang ditumpangi Jihan.
Dering ponsel yang menggema membuat Rico terlonjak kaget. Karena fokusnya memang pada jalanan saja saat ini. Ia memelankan laju mobil untuk mengambil ponsel di saku jasnya.
Melirik sejenak pada layar, dan membelalak lebar ketika sang pemanggil adalah Leon. "Mampus! Ni orang batinnya kuat banget kalau ada apa-apa," gumam Rico panik lalu menepikan mobil untuk mengangkatnya terlebih dahulu.
__ADS_1
Bersambung~