The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 126. KAMU HEBAT


__ADS_3

"Aaaahhh! Aku tahu kamu pasti sadar!" jeritnya menangis histeris, masih memeluk erat leher suaminya dengan sesengukan.


"Tiger!" panggilnya ketika tak mendengar suara apa pun keluar dari mulut suaminya. "Kenapa kamu diam saja!" rengeknya tidak berani mengangkat wajahnya.


Berbagai pikiran buruk berputar di kepalanya. Ia semakin menenggelamkan wajahnya di dada Tiger, yang mana sangat terasa gerakan dada itu begitu cepat.


"Sa ... Sayang, bangunlah," lirih lelaki itu.


"Nggak mau, aku takut! Aku takut jika aku bangun ternyata cuma mimpi. Aku takut!" rengeknya lagi dengan kedua tangan mengepal kuat.


"Tidak. Ini ... bukan mimpi. Bangun, please. Kamu membuatku sesak," pinta Tiger dengan suara terbata-bata.


Seketika Jihan menangkat kepalanya. Wajahnya basah terguyur air mata. Ia semakin menangis ketika melihat Tiger tersenyum dengan bibir pucatnya.


"Hai!" sapa Tiger dengan suara pelannya.


"Kamu jahat!" cebik Jihan mengerucutkan bibirnya.


"Jangan nangis, aku belum bisa hapus air matamu. Aku benci melihat itu!" Tiger memejamkan matanya, menghela napas panjang.

__ADS_1


Jihan menurut, ia segera menyambar tissu dan menyeka air matanya hingga kering, meski bulu matanya masih basah, dan netranya begitu merah karena terlalu banyak menangis.


"Sejak kapan kamu sadar? Lalu apa yang kamu rasakan?" cecar Jihan mendudukkan tubuhnya di kursi, menariknya hingga semakin dekat dengan ranjang suaminya.


"Sejak kamu di sini, aku memberontak ingin bangun walaupun terasa sangat berat. Selamat ya, Sayang. Kamu hebat! Terima kasih mau kembali!" puji Tiger mengurai senyum meski bibirnya masih kaku.


Tiger memutar bola matanya hingga bertumbukan dengan netra sendu istrinya, tatapan keduanya saling bertaut dalam penuh keharuan.


"Jadi, kamu tidak marah padaku?" tanya Jihan. Sebenarnya ia gemas sedari tadi, karena suaminya itu sama sekali tidak membalas pelukannya bahkan sekedar membelai kepalanya seperti dulu.


"Untuk apa marah? Jika aku dalam keadaan sadar, sudah pasti aku akan melarangmu dengan keras, mengurungmu dalam penjara cintaku. Sehingga, selamanya kamu tidak akan pernah bisa menunjukkan kehebatanmu! Aku justru bangga sama kamu. Ternyata kamu bisa semandiri ini," puji Tiger dengan tatapan tulus.


Dokter menunduk sejenak, lalu kembali mengangkat kepalanya dengan sebuah laporan medis di tangannya.


"Nyonya, selamat karena Tuan sudah berhasil melewati masa kritisnya. Akan tetapi, hasil pemeriksaan, Tuan harus menjalani operasi lagi. Terlalu lama mengalami koma, mengakibatkan penggumpalan darah pada bagian tulang punggungnya. Dan juga, Tuan harus menjalani fisioterapi untuk mengembalikan fungsi tubuh dan gerakan tubuh yang normal," jelas sang dokter.


Pernyataan dokter membuat pandangan Jihan perlahan memudar. Kepalanya terasa berat dan tiba-tiba menggelap. Ia tidak sadarkan diri. Padahal penjelasan dokter belum sepenuhnya selesai.


"Nyonya!" pekik mereka terkejut ketika tubuh perempuan itu berdebam di lantai.

__ADS_1


"Jihan! Dokter! Cepat periksa!" ucap Tiger ingin berteriak meski tidak bisa. "Letakkan saja satu ranjang denganku!" titahnya.


Semua kabel dan alat medis pada tubuhnya sudah dilepas. Hanya tinggal infus dan selang oksigen saja. Ranjangnya bisa diatur menjadi double bed meski masih menyatu. Cukup jika digunakan untuk tidur berdua.


Beberapa perawat, termasuk Rico membantu mengangkat tubuh Jihan dan merebahkannya di sebelah Tiger. Wanita itu segera mendapat perawatan medis. Dokter dengan cekatan memeriksa keadaannya.


Tiger geram pada tubuhnya sendiri yang saat ini tak berdaya. Bahkan untuk bergerak saja tidak bisa. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan sampai dokter menyelesaikan tugasnya.


"Tidak ada yang serius, Tuan. Nyonya kurang istirahat dan kelelahan, juga ada luka lebam di salah satu pergelangan kakinya. Sudah saya beri suntikan meredakan nyeri dan memar. Saya juga sudah memberikan vitamin melalui infusnya. Semoga tidak lama lagi, beliau akan siuman," ucap dokter.


Terdengar embusan lega dari Tiger, "Kalau begitu tinggalkan kami, biarkan dia istirahat. Matikan semua kamera pengawas di ruangan ini," jawabnya.


"Baik, Tuan. Permisi!" Mereka segera keluar dari ruangan.


Rico mendekat lalu meletakkan alat sejenis alarm di tangan Tiger. "Jika membutuhkan sesuatu, silakan tekan, Tuan. Saya akan segera datang! Selamat beristirahat," pamitnya segera undur diri. Ia tahu bossnya itu masih butuh banyak waktu untuk beristirahat.


Sementara pasangan suami istri itu beristirahat, Rico memberi kabar mengenai Jihan pada Leon, sang big boss. Yang selalu menunggu kabar dari Jihan beserta anaknya, sesuai dengan perintah istri tercintanya, Khansa.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2