The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 95. BUKAN MIMPI


__ADS_3

Beberapa waktu berlalu, Tiger berhasil mengumpulkan keseimbangannya, kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka. Berdiri sejenak di depan wastafel, menopang kedua lengan kekarnya pada tepian wastafel. Pandangannya naik hingga terlihat kedua manik abunya itu memerah karena sama sekali belum memejamkan mata semalaman penuh.


Derit pintu yang terbuka membuatnya segera menyeka bulir air di wajahnya dengan handuk kecil lalu membuangnya. Tiger melenggang keluar dengan wajah dinginnya.


"Tuan, pesawat sudah siap berangkat," lapor Grey ketika berpapasan dengan sang boss.


Tiger segera melepas jaket anti pelurunya, beralih mengambil jas yang sedari tadi disampirkan di kursinya. Mengenakannya dengan gerakan tegas, menguarkan ekspresi dinginnya.


"Antar aku ke bandara!" tegasnya pada Grey mengayunkan kedua kaki panjangnya keluar dari ruangan.


Masih sedikit ada gemuruh dalam dadanya, berusaha ditekan agar tidak meluap. Tiger terus berjalan tanpa menyapa siapa pun. Padahal baru saja pria itu menampilkan wajahnya yang sedikit lembut. Hanya sedikit. Namun kini kembali lenyap entah dimana binar senyum tadi.


"Sudah hubungi Bian?" tanya Tiger dengan kedua mata tertutup rapat. Menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi duduknya.


"Sudah, Tuan. Beliau tadi langsung bersiap!" jawab Grey sembari melajukan mobilnya.


Sejenak ingin melupakan beban yang menghimpit dadanya. Membuka bayangan di kepalanya, mengisi penuh dengan wajah cantik istrinya.


Tak berselang lama, ia harus segera berpindah transportasi udara yang sudah siap sejak ia menurunkan perintah tadi. Menikmati kesunyian dalam pesawat pribadi hanya bersama seorang pramugari, pilot beserta co-pilot saja.


Mendung yang membalut langit pagi itu, tak menyurutkan tekad Tiger untuk terbang menemui istrinya. Awak pesawat yang bertugas tak henti-hentinya menggumamkan segala doa dalam hatinya. Agar selamat hingga tujuan mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiger menginjakkan kedua kaki di pelataran rumahnya setelah menempuh perjalanan panjang dengan pesawat pribadi milik keluarganya, dijemput oleh Bian di salah satu bandara di Jakarta.


Saat matahari semakin merangkak naik, cuaca pun semakin bersahabat untuk melakukan perjalanan udara. Sehingga pilot memutuskan untuk terus melaju hingga sampai Jakarta.

__ADS_1


Ia segera melenggang masuk ke rumah, dengan langkah elegan dan tegas, mengabaikan beberapa bawahan yang menyapanya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Ia segera naik ke lantai dua, tujuan pertamanya tentu ingin bertemu istrinya.


Saat menyentuh handel pintu, Tiger mengatur napasnya terlebih dahulu. Ia juga memasang senyum di bibirnya.


"Ceklek!"


Tiger melongokkan kepala terlebih dahulu. Tampak, Jihan masih meringkuk di atas ranjang tanpa selimut yang menutupi tubuhnya. Ia melebarkan senyum ketika netranya menangkap, Jihan tengah mengenakan kemejanya yang tentu saja kebesaran saat membalut tubuh wanita itu.


Tiger memutuskan untuk kembali menutup pintunya. Dia melepas jas, setengah berlari menuruni anak tangga. Melempar jas ke sembarang tempat lalu melepas kancing lengan kemeja dan menggulungnya hingga siku.


"Berikan saya waktu setengah jam untuk menggunakan dapur!" seru Tiger mengejutkan para pelayan.


Segera pelayan itu mundur memberikan tempat dan waktu untuk tuan mudanya, mengeksekusi kelihaiannya dalam mengolah makanan.


Tanpa mandi terlebih dahulu, mengabaikan lelah dan kantuk yang mendera, demi memenuhi keinginan istrinya. Tiger sama sekali tidak merasa terbebani. Ia justru bahagia, karena merasa dibutuhkan oleh Jihan.


"Tolong bantu hidangkan. Saya harus segera mandi!" titah Tiger pada pelayan di dekatnya.


"Baik, Tuan!" sahutnya bergegas meninggalkan pekerjaannya, dan segera melakukan perintah Tiger.


Sedang pria itu kembali ke kamar untuk membersihkan tubuhnya. Sampai berganti pakaian pun, Jihan masih pulas terbuai dalam alam mimpi. Tangannya masih mencengkeram kuat ponselnya. Kalau-kalau nanti mendapat panggilan lagi dari Tiger.


Pria itu segera melesakkan tubuhnya ke atas ranjang, memeluk erat istrinya dari belakang. Jihan tersentak, tubuhnya terpaku dan segera melebarkan mata ketika merasakan sebuah lengan kekar yang membelit perutnya. Dadanya sudah berdebar kuat, namun ketika aroma khas suaminya menyeruak ke dalam indera penciuman, ia sedikit berembus lega.


"Tiger," gumamnya sangat pelan. Namun masih terdengar di telinga suaminya.


"Hai! Bangun!" bisik Tiger.

__ADS_1


"Jadi, ini bukan mimpi?" tanya Jihan membalikkan tubuhnya, menatap lekat pria yang ada di sebelahnya. Pria yang begitu mengusik hati dan pikirannya saat mereka saling berjauhan.


Tiger tersenyum, lalu segera menabrak bibir Jihan yang masih dalam keterkejutan dengan bibirnya. Menyesapnya dengan rakus dan sangat intens. Setelah beberapa saat barulah melepasnya, ketika wajah Jihan tampak memerah dan hampir kehabisan napas.


"Apakah masih mengira ini mimpi?" tanya Tiger menaikkan sebelah alisnya, menopang kepala dengan salah satu lengannya. Menatap penuh kerinduan, sembari merapikan rambut Jihan yang tergerai menutupi wajahnya.


"Aaa ... Tiger! Kamu ngeselin banget!" serunya dengan nada manja sembari memukul-mukul dada bidang pria itu.


"Kejutan!" sahut Tiger tertawa lebar. "Tapi seneng, 'kan?" lanjutnya memasukkan kepala Jihan ke dalam dekapan eratnya.


"Iiihhh! Sumpah ingin kucakar, kujambak, kugigit!" pekiknya mengeratkan pelukannya.


"Nanti aja lanjutin lagi ngamuknya. Aku sudah masak, sana mandi dulu terus sarapan. Semalem nggak jadi makan, 'kan? Kasihan baby tahu." Tiger meregangkan pelukan lalu menurunkan kepalanya hingga sejajar perut Jihan yang menyembul.


"Sayang! Mama jahat ya, nggak kasih makan kamu? Ngebiarin kamu kelaperan?" Tiger mengusapnya lembut lalu menciumnya bertubi-tubi.


Jihan hanya mengerucutkan bibirnya. Namun, jauh di lubuk hatinya ia sungguh lega karena kini suaminya sudah berada di hadapannya.


"Sana mandi! Keburu dingin makanannya," perintah Tiger mendongak.


"Kamu, kapan pulangnya?"


"Udah, nanti aja tanya-tanya sambil makan!"


Jihan mendengkus lalu beranjak bangun, ia menggerutu berjalan ke kamar mandi. Tiger hanya tersenyum mendengar gerutuannya. Ia lalu menegakkan duduk, menghilangkan senyum yang sedari tadi berpendar dari bibirnya. Jemarinya lincah mengoperasikan ponsel untuk menghubungi Bian. Setelah menunggu beberapa saat, ada sahutan dari seberang telepon.


"Bagaimana? Sudah ada hasil penyelidikan? Apa hubungan Candra Emmerald dengan Zero Anderson?" tanya Tiger bersuara pelan.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2