
Tiger terdiam, dia tidak tahu bagaimana cara menenangkan wanita yang mengamuk
Tidak mungkin ia kembali melakukan kekerasan seperti beberapa waktu lalu. Ia hanya diam saja menerima semua umpatan, kekesalan, kemarahan dan pukulan istrinya itu.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu!" sanggah Tiger menekan kedua pergelangan tangan Jihan.
Jihan berusaha menepisnya dengan kuat. Matanya masih memancarkan amarah. "Tidak usah berpura-pura! Ternyata aku salah menilaimu. Aku pikir kamu memang sudah berubah baik. Tapi ternyata sekali devil tetaplah devil. Aku benci sama kamu, Tiger! Aku benci!" teriak Jihan mendorong tubuh kekar Tiger, lalu melompat turun dari ranjang.
Sedikit terasa kram pada perut bagian bawahnya, Jihan pun memperlambat langkahnya. Tangannya mencengkeram erat trallis besi dan mengatur pernapasannya yang berembus tidak karuan. Bahkan bulir keringat mulai mengalir membasahi wajahnya.
Ia menepis lengan Tiger ketika merengkuh pinggangnya dan hendak membantunya berjalan. Tatapan kebencian yang begitu tajam layaknya mata pisau siap mengiris-iris apapun di hadapannya.
"Jangan pernah menyentuhku!" desis Jihan dengan suara rendah namun penuh penekanan.
"Shittt!" umpat Tiger tertahan, serasa ingin mencekik Jihan. Deru napasnya terdengar kasar, gemuruh dadanya ingin meledak saat ini juga. Gerahamnya mengeras dengan gigi saling bergemeletuk.
__ADS_1
Jihan segera memutar tubuhnya, meski langkah tertatih sambil memegang perutnya, ia terus berjalan hingga mendekati ibunya yang sudah terbaring kaku di dalam peti.
Sesak, dadanya teramat sesak. Bahkan untuk sekedar menyapa saja ia tak mampu. Tubuhnya luruh ke lantai. Menangis sesenggukan dengan getaran hebat di sekujur tubuhnya. Bibi Fida dan Fauzan segera mendekat, membantu Jihan berdiri. Namun tubuh wanita itu teramat lemas, kedua kakinya tidak bisa menopang badannya.
"Ibu!" Suaranya serak, tenggorokannya teramat sakit. Sejak dulu, dia sangat dekat dengan ibunya.
Meski seumur hidupnya, Jihan selalu diatur, dijadikan boneka hidup oleh Maharani, wanita paruh baya itu tetap memprioritaskan kebahagiaan Jihan. Walaupun dengan cara yang salah.
"Maaf tidak bisa membahagiakan ibu di saat-saat terakhirmu. Bahkan pertemuan terakhir kita justru diwarnai pertengkaran. Biar bagaimanapun Jihan sayang sama ibu. Maafin Jihan, Bu. Maaf!" raung Jihan bersujud di bawah peti mati sang ibu.
"Sudah saatnya, ayo, Nak!" ajak Bibi Fida mengusap lembut kepala Jihan.
Tiger yang berdiri di belakangnya, merasa teremas hatinya. Namun ia bisa menutupinya dengan sangat baik. Ekspresinya dingin dan datar.
Serangkaian acara sudah selesai dilakukan. Jihan masih bersimpuh di atas pusara sang ibu. Memeluk erat bingkai foto yang bersandar di atas batu nisan.
__ADS_1
"Ibu, Jihan sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Kenapa pergi dengan tiba-tiba? Kenapa tidak Jihan saja yang pergi!" pekik Jihan menangis meraung tanpa mau ditemani siapapun.
Ia mengusir semua orang setelah acara pemakaman selesai. Hanya dia seorang diri di makam. Menumpahkan segala sesak, sedih dan sakitnya di atas pusara sang ibu.
Langit mulai menggelap, awan hitam bergelung di angkasa. Kilatan cahaya diiringi petir yang menyambar dan menggelegar tidak bisa membuat Jihan beranjak. Ia masih menangis memeluk foto mendiang ibunya, dan merebahkan kepala di atas batu nisan.
Setetes demi setetes air mulai berjatuhan membasahi bumi dan seisinya. Lama kelamaan semakin deras dengan gemuruh petir yang menyambar-nyambar. Jihan tidak peduli, dia masih menangis meraung di atas makam.
Seluruh tubuhnya basah dan kotor oleh tanah merah. Namun dia tidak peduli, masih enjoy dengan posisinya. Seolah langit pun turut merasakan duka mendalam yang dirasakan Jihan.
Sebuah payung hitam tiba-tiba menghalangi jatuhnya air yang menimpa Jihan. Wanita itu masih bergeming menikmati isakan tangis di bawah guyuran air hujan.
"Setidaknya jika kamu tidak memikirkan kesehatanmu. Pikirkan kesehatan anakmu! Jangan sampai kamu menyesal bertubi-tubi karena kelalaianmu sendiri. Berbahagialah secukupnya, bersedih sewajarnya. Jangan lakukan dua hal itu dengan cara berlebihan. Apalagi sampai merugikan diri sendiri bahkan orang lain. Karena penyesalan selalu datang di akhir kejadian!"
Suara bariton terdengar di telinga Jihan. Wanita itu tersentak, mengerjapkan mata dan melirik ke belakangnya. Tampak sepasang sepatu pantouvel hitam yang mewah membalut kaki seorang pria yang berdiri di belakangnya, membiarkan tubuhnya kehujanan, demi memberi payung padanya. Perlahan pandangannya naik hingga saling bersitatap dengan pria itu.
__ADS_1
Bersambung~