
Di sebuah ruangan yang luas dengan seperangkat alat kerjanya. Kedua jemarinya bergerak cepat untuk memeriksa laporan rahasia dari anak buahnya. Untung saja ruangannya berbeda dengan sang ayah, jadi Tiger bisa bebas melakukan apa saja. Termasuk mengendalikan dunia gelapnya.
Pria itu tersentak ketika mendengar suara dering ponsel. Tak menunggu lama, segera mengangkatnya dan berbicara. Ternyata Jihan, yang berniat meminta izin keluar. Hanya sebentar percakapan mereka, karena ia kembali pada pekerjaannya.
Setelah mengira-ngira waktu tempuh, Tiger kembali memastikan Jihan sampai dengan selamat. Ia melakukan telepon singkat dan mengakhiri dengan tiba-tiba ketika mendengar ketukan pintu dari Bian.
"Tuan! Ada info penting dari Dylan," lapor Bian membawa sebuah dokumen di tangannya.
Kedua alis Tiger tampak saling bertautan, matanya menyipit lalu mengangguk agar Bian melanjutkan laporannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jihan masih sibuk membuat simpul pada salah satu sepatunya. Bima keluar dari pintu lift dengan tergesa. Ia tak mengindahkan sekitarnya, fokus dengan langkah kaki yang cepat dan lebar. Hingga tidak menyadari kehadiran Jihan berjongkok di sisi kanan pintu lift tersebut.
"Selesai!" ujarnya bangkit mengusap perutnya sejenak lalu mendekat menuju depan pintu lift yang tertutup.
Ponselnya kembali berdering, Jihan mengembuskan napas kasar. Siapa lagi kalau bukan suaminya. Jihan segera meraihnya dan menjawab telepon itu sebelum sang suami murka.
"Halo," ucap Jihan setelah berdehem.
__ADS_1
"Sudah sampai?" tanya Tiger di seberang.
Pintu lift terbuka, ternyata Rico muncul dari sana hendak berlari keluar menyusul Bima. Ia berencana untuk memantau kegiatan pria yang mencurigakan di matanya itu. Namun telinganya menangkap suara tak asing.
"Iya, ini baru mau naik kok," sahut Jihan dengan suara lembut.
Seketika Rico memutar langkah kakinya dengan cepat dan menelusup masuk bersama Jihan sebelum pintu lift kembali tertutup.
"Bagus! Jangan sampai kelelahan." Usai mengatakannya sambungan telepon terputus.
Jihan mendecakkan lidahnya, lalu memasukkan ponsel ke dalam tas. Ia terperanjat saat mengangkat pandangan tepat berhadapan dengan Rico.
Pria itu tampak masih mengatur napas, "Ada yang mau aku tanyakan! Eh, Tuan Tiger nggak ikut 'kan?" tanya Rico.
"Enggak. Mau nanya apa?" Jihan melempar pertanyaan balik.
"Nanti aja di apartemenmu," sahut Rico menyandarkan punggungnya pada dinding lift.
Jihan mengedikkan kedua bahunya. Ia pun kembali bungkam, menunggu sampai di apartemennya. Langkah kaki serentak mereka mengantar hingga ke depan pintu.
__ADS_1
Rico segera menyelonong masuk setelah pintu terbuka, mendaratkan bokongnya di sofa menatap Jihan penuh intimidasi. "Duduk kamu!" tegasnya.
"Ke ... kenapa kamu lihatin aku kayak gitu?" tanya Jihan terbata-bata. Namun ia juga menurut, duduk dengan gerakan sangat pelan, berseberangan dengan Rico.
Rico menarik napas panjang, mengumpulkan segenap kesabaran, menahan agar tidak mengumpat gadis polos di hadapannya itu.
"Sekarang katakan sejujur-jujurnya sama aku!" tegas Rico masih menatapnya serius.
Jihan tidak menemukan Rico yang selalu ceria, santai dan suka menghiburnya. Seolah ia tengah menjelma menjadi sosok yang berbeda.
"Apa yang harus aku katakan Rico?" tanya Jihan sekali lagi.
"Okey! Pertama, siapa pria yang memberimu tempat tinggal ini? Kedua, apa hubungan kamu dengannya? Ketiga, transaksi apa yang kalian berdua lakukan sampai menyelipkan sebuah berkas? Pertanyaan lain menyusul, soalnya lupa!" cecar Rico masih menatap intimidasi.
Jihan membuka mulutnya dan mengerjapkan kedua matanya berulang-ulang. Ia terhenyak ketika Rico bisa mengetahui setiap pergerakannya. 'Benar-benar seperti badan intelijen nih anak,' gumamnya dalam hati.
"Kalau kamu tidak mau mengatakannya, baik aku akan mencari tahu sendiri dan melaporkannya pada Tuan Tiger. Kamu tahu sendiri bagaimana kemarahan suamimu itu jika ternyata kamu melakukan hal aneh-aneh di belakangnya!" ancam Rico menaikkan dagu sembari memicingkan mata.
Bersambung~
__ADS_1